#hidupiniseperti halte bus.

Posted on December 24, 2011

0


Kita semua pernah menunggu. Dari yang cuma sekadar nunggu bus lewat, nunggu bajaj lewat, nunggu jodoh lewat, hingga yang ekstrim seperti nunggu nyawa mertua lewat (Udah deh, yang benci sama mertua mending ngacung jari aja)

Gue termasuk orang yang paling males menunggu bus di halte (Apalagi halte busway). ditambah kalau gue lupa bawa novel untuk dibaca, atau lupa bawa ucok baba untuk dimainin, bawaannya pasti bakal suntuk banget. Biasanya untuk mengusir rasa suntuk tersebut kadang gue suka nyanyiin lagu “Bus sekolah yang kutunggu” nya koes plus di dalem hati untuk sekadar mengusir kesuntukkan. Mungkin ada yang sekadar tanya “Kenapa harus lagu “Bus sekolah yang kutunggu”? kenapa gak lagu “Telah gugur pahlawanku?” *kalo bener ada yang nanya kaya gini, berarti matanya minta dicolok*

Menunggu, mungkin bisa menjadi sesuatu yang paling membosankan untuk kita lakukan dalam hidup kita, kalau bisa malah sebisa mungkin kita menghindari yang namanya menunggu. Tapi semakin lama gue berpikir tentang arti menunggu dan merenunginya hingga pukul tiga pagi, semakin gue sadar kalo kebanyakan merenung hingga pukul tiga pagi ternyata beneran bisa bikin masuk angin dan bangun kesiangan *tepok jidat*

By the way, gue mau berbagi cerita pengalaman gue tentang menunggu kepada kalian. Karena gue yakin kita semua punya pengalaman dalam hal menunggu. Menunggu bisa jadi sebuah aktivitas yang sangat membosankan, Sama membosankannya kaya kita ngeliatin mukanya Andhika kangen band, pasti membosankan bukan? Tapi itulah hidup. Menunggu bisa jadi merupakan opsi satu-satunya yang harus kita pilih ketika gak ada hal lain yang bisa kita lakukan demi sebuah jawaban.

Sebenarnya banyak cerita yang bisa gue tulis di catatan ini tentang pengalaman gue dalam menunggu. Tapi gak mungkin gue tulis semuanya sekarang, karena jam 3 sore nanti gue ada les balet dan hari ini tuh ya gladiresik, jadi gak boleh telat tau #ngomongsamaember

Pada akhir Januari 2008 lalu gue resmi diwisuda, dan mendapatkan gelar S.E. gue masih ingat bagaimana saat itu setelah berakhirnya acara wisuda gue menyempatkan diri untuk berlari keluar dari gedung, dengan iseng gue lempar topi wisuda gue ke atas dengan rasa syukur, haru, dan bangga yang luar biasa. setelah gue lempar tuh topi wisuda dengan tinggi-tinggi, seketika langit pun terbelah menjadi dua, dan gue dapat melihat12 malaikat beterbangan di atas awan-awan secara perlahan. Tadinya gue pikir mereka para personil SUJU, tapi ternyata beneran malaikat. Gue bisa mendengar suara nyanyian malaikat bersayap yang membahana. Masing-masing dari mereka memainkan alat musik di atas awan-awan. Ada yang memegang harpa, ada yang megang gitar, ada yang megang bass, ada yang megang keyboard, ada yang megang drum, bahkan ada yang megang kecrekan. Ini malaikat apa Soneta group gue juga rada bingung. *woy lebay!*

Setelah lulus kuliah. Gue bisa melihat kalo masa depan sedang terbentang dengan luas di hadapan gue. “dunia ada pada genggaman gue” kata gue saat itu dengan gaya telunjuk mengarah ke langit untuk menambah efek dramatis.

Dan keesokan harinya gue baru nyadar kalo status gue setelah diwisuda adalah pengangguran. *krik..krik..krik..*

Tiap pagi yang dulunya selalu bangun jam enam pagi untuk bersiap-siap berangkat kuliah dengan terburu-buru. Mengerjakan tugas dengan terburu-buru. Stress karena ada kuis atau tugas paper semesteran, kini gaya kehidupan gue setelah lulus menjadi completely different! Gue tidak lagi bangun pukul enam pagi. Kini gue bangun pukul sebelas siang. Kegiatan gue hanya sebatas tidur siang. Makan. Tidur siang lagi. Bangun. Makan lagi. Tidur siang lagi. Setiap hari gue menjalani kegiatan seperti ini macam pengangguran yang sukses.

Setelah berpengalaman dua bulan lebih menjadi pengangguran, gue pun menyadari kalo lulus kuliah bukan seperti yang gue bayangkan selama ini. Seperti yang tadi gue bilang “dunia ada pada genggaman gue” karena pada kenyataannya setelah lulus kuliah berarti gue harus berjuang untuk mendapatkan pekerjaan. Dan seperti yang kita tahu kalo mencari pekerjaan di negeri ini tidak semudah membalikkan gerobak ice cream walls.

Hari demi hari selalu gue lewati dengan pergi ke warnet dekat rumah. dengan paket Rp. 3,000 untuk 4 jam. Gue pun mulai me-register diri gue ke sejumlah account pencari kerja online macam Jobsdb dan Jobstreet. Gue pun tiap hari. Catet tiap hari. Pergi untuk login jobsdb dan jobstreet demi melihat kalo ada lowongan kerjaan terbaru. Intinya saat itu gue apply pekerjaan secara online sebanyak-banyaknya. Walau hasilnya nihil. Karena tidak satupun ada panggilan masuk ke handphone gue. harapan mulai ada semenjak beberapa perusahaan besar memanggil gue untuk posisi Management trainee. Tapi lagi-lagi setelah itu tidak ada satu dari perusahaan besar itu memanggil gue kembali ntuk mengikuti tahap selanjutnya. Which means gue gagal dalam seleksi masuk. *goddamnit*

Gue sempet jenuh juga sih. gue sempet down dan putus asa. Sempet gak mau minum mandala 525 juga “Solusi sehat tanpa obat” Saat itu gue merasa kalo sepertinya gue sudah mengerahkan segala daya usaha gue hingga titik batas maksimal. Tapi hasil yang gue dapat adalah nihil. Tidak ada.

Suatu siang selepas mengikuti sesi psikotest dan interview dengan salah satu perusahaan kargo cukup besar di Menara summitmas II, bilangan sudirman. Gue memutuskan untuk menyeberang ke ratu plaza untuk menunggu bus tujuan Bekasi di halte yang tidak jauh dari situ.

Gue cukup lama menunggu di halte itu. Ditemani dengan terik sinar matahari yang menyengat hingga menyebabkan kulit gue tidak sehalus dan seputih kulit shinta. Ditambah dengan Bus Bekasi yang memang agak lama datengnya.

Iseng gue pun memutuskan untuk melihat orang-orang yang berada di sekitar halte. Ada cewek cantik dengan kardigan ungunya yang lagi asyik dengerin musik dari blackberry-nya, ada seorang bapak-bapak yang sedang asyik menelepon kerabatnya. Ada mahasiswa yang sedang asyik ngerokok, ada gembel yang sedang asyik koprol ke depan sebanyak dua kali dan koprol ke belakang tiga kali. Gue melihat raut wajah mereka yang sepertinya sedang menikmati kegiatan yang kita sebut menunggu.

Wajah-wajah mereka sama sekali tidak menyiratkan rasa gelisah, bete, keluh kesah, atau senewen. Sepertinya mereka sadar kalo rasa gelisah, bete, dan senewen tidak merubah kondisi menjadi lebih baik. Mereka sadar kalo menunggu adalah satu-satunya yang bisa mereka lakukan untuk naik bus saat ini. Begitu juga gue. mungkin menunggu adalah satu-satunya hal yang bisa gue lakukan saat ini demi mendapatkan pekerjaan setelah semua usaha sudah gue kerahkan hingga titik batas maksimal. Karena memang kadang hidup ini seperti halte bus. kita harus menunggu agak lama untuk sesuatu yang kita nanti-nantikan bukan?

Eh itu bus bekasi udah dateng! Gue cabut dulu ya.

Buset deh nih gembel masih koprol-koprol aja dari tadi.

Something that you need to know about this blog:

  1. I write this blog based on my true experiences
  2. The name of the characters on this blog is not real anymore (Except my own character), I change it due to avoid some feuds, lawsuits, or even dead threats to me, my cats, and my dogs.
  3. I dramatize and exaggerate some parts in order to make a good story with a good punchline so that you can laugh your ass off and say “Hey this blog is funny! I love it!”
  4. I write this blog mostly on Friday night and Saturday night. Why? because that’s what forever alone dude do.
Advertisements
Posted in: Esai