#hidupiniseperti katalog.

Posted on December 24, 2011

7


Pria dan wanita hanyalah sebuah produk. Gak lebih dan gak kurang. Seenggaknya itu yang Gue lihat ketika kedua spesies ini sedang berusaha mencari pasangan hidup. Dan itu terlihat dengan sangat jelas saat Gue menonton take me out Indonesia. Gue bisa melihat bagaimana satu-per satu para pria berlomba-lomba mempromosikan diri mereka. Pekerjaan mereka. gaji mereka, dan Boiling point-nya adalah ini: semakin tinggi gaji yang lo miliki maka semakin tinggi pula kans yang lo dapat untuk membawa pulang  salah satu wanita cantik di depan podium untuk lo jadiin pasangan, pada sisi lain semakin rendah gaji yang lo miliki maka semakin tinggi  pula kans lo untuk ditimpuk sepatu high-heels. PLAAAKK!!

Hobi juga menjadi sesuatu yang at-last- but- not- the- least untuk dipromosikan. Yup, Manusia sebagai makhluk yang memiliki cipta, rasa, dan karsa pasti memiliki hobi. Namun tergantung jenis hobi apa yang lo minati untuk membuat hati cewek luluh. Semakin bonafide hobi yang lo miliki maka semakin tinggi kans lo untuk meluluhkan hati mereka.

Ilustrasi # 1

Kandidat : “ Hi, nama saya Deni. Dan hobi saya adalah travelling. Saya sangat suka menjelajah ke berbagai macam negara, kenapa saya suka travelling? karena masing-masing negara memiliki budaya kuliner setempat yang unik untuk saya rasakan. Dua bulan lalu saya baru saja pulang dari perjalanan Eropa. Bulan depan saya berencana untuk travel ke Amerika utara dan Amerika selatan, dan ada rencana juga untuk mengunjungi Jepang, Shanghai, dan  Hong kong dalam waktu dekat ini. Jadi bagi ladies yang memilih saya, akan saya ajak pastinya untuk travelling ke berbagai macam negara. Mau? Mau? Mau?”

Cewek-cewek podium : “Mau-mau-mau duoonkk pastinya!!”

Namun semua akan menjadi berbeda bila lo memiliki hobi yang jauh dari bonafide. semakin tidak bonafide hobi yang lo miiki maka semakin tinggi pula kans lo untuk mendapat lepehan ludah.

Ilustrasi # 2

Kandidat : “Hi, nama saya Deni. Saya punya hobi pelihara enceng gondok.”

Cewek-cewek Podium : “CUIIHHHH!!”

Berbicara tentang produk, Yang namanya produk akan selalu terbagi dalam empat kategori:

  1. Produk-berkualitas.
  2. Produk-biasa-biasa aja
  3. Produk-tidak-berkualitas.
  4. Produk-ancur.

Layaknya produk, Pria dimata seorang wanita secara alamiah juga akan ikut terbagi-bagi ke dalam empat kategori layaknya sebuah produk:
1.       Pria–berkualitas
2.       Pria-biasa-aja
3.       Pria-tidak-berkualitas.
4.       Pria-ancur.

Adalah Adinda sihombing yang memiliki kemampuan untuk membedakan pria. Mana pria yang cukup berkualitas untuk dijadikan pasangan, mana pria yang cukup lucu untuk dijadikan sebatas mainan, dan mana pria yang cukup ancur untuk dibuang ke tempat penimbunan sampah.

Adinda bisa mengetahui kesemuanya itu dari cara pria mendekatinya, dari cara pria memperkenalkan dirinya, dari cara pria menatap kedua bola mata indahnya,  dari cara pria membukakan pintu restoran untuk dirinya, dan terakhir yang tak kalah penting adalah dari cara pria membawa kendaraan pribadinya. Baginya pria dengan Honda jazz adalah pria tipikal yang dewasa dan mapan dalam dunia karir, sementara pria dengan Honda supra adalah pria tipikal yang harus ditinggalkan sebelum matahari tenggelam.

Di suatu siang yang terik, selepas jam makan siang, setiap karyawan sudah kembali tenggelam dengan kesibukannya masing-masing. ada yang sibuk ngeprint, ada yang sibuk ngefax, ada yang sibuk telepon, dan ada atasan yang sibuk nyuruh bawahan untuk ngeprint, ngefax, dan telepon. By the way Gue selalu kagum dengan wajah-wajah karyawan yang sedang terlihat sibuk. Kenapa? Karena wajah mereka terlihat mirip antara satu dengan yang lain. Sama halnya seperti Andhika kangan band dan Charlie ST 12 yang sulit dibedakan satu sama lain.

Karyawan yang tengah sibuk biasanya masing-masing dari mereka akan memasang wajah serius. Ada dua tipe karyawan yang doyan memasang wajah serius. Pertama adalah mereka yang memasang wajah serius karena sedang berkutat dengan angka-angka di MS EXCEL, yang mana angka-angka itu sanggup membuat mata menjadi perih atau juling permanen, Kedua adalah mereka yang memasang wajah serius karena sedang berkutat dengan facebook dan twitter dengan minimized-screen, yang mana merupakan sudah menjadi modus operandi umum bagi karyawan yang ingin terlihat produktif dimata atasan walau tidak ada kerjaan.

Sementara di sudut kubikel lain, bila dilihat secara kasat mata terlihat seorang karyawan yang sepertinya sedang sibuk terlibat pembicaraan cukup serius dengan customer di telepon. Yup, karyawan itu Gue. Tapi hanya Tuhan yang tahu kalau isi percakapan Gue dengan lawan bicara gue emang gak pernah jauh-jauh dari ketawa-tiwi, omongin bos, jelekin bos, dan menyumpahi bos. Bila IT sedang iseng merekam isi pembicaraan telepon dan melaporkannya ke bos gue, maka sudah dapat dipastikan kalau masa depan Gue bakal binasa tak bersisa.

Dari pembicaraan yang tadinya sekadar ketawa-tiwi omongin bos, mendadak suasana percakapan berubah menjadi serius. Apa yang membuat serius? Apa lagi kalau bukan ngomongin soal cewek.

Teman gue: “Eh Den, lu mau gak gue kenalin sama cewek?”

Gue: “Mau donk pastinya!”

Teman gue: “Gue ada niatan untuk ngenalin lo ke adeknya cowok gue nih! dia udah jomblo dua tahun, dan dia cantik kok! Nah dia itu emang suka sama cowok berkacamata.”

Gue: “Oh, ada apa dengan cowok berkacamata emangnya?”

Teman gue: “Gak tau ya..tapi menurut dia pribadi, cowok berkacamata itu lebih terlihat smart dan dewasa aja ketimbang cowok yang gak pake kacamata. Nah lo kan pakai kacamata tuh, siapa tau aja emang bener lo tipenya dia.”

Mendengarkan teman gue ngomong kaya gini mendadak perasaan gue bercampur aduk  antara bahagia, senang, dan terharu. Perasaan yang sama yang pernah gue alami waktu nonton Titanic.

Gue: “Iya sih Gue pake kacamata, tapi kayanya gue gak smart-smart amat dan dewasa-dewasa banget loh ya.”

Teman Gue: “Udeh, coba aja dulu ketemuan, kenalan, dan nonton bareng. Ini nomer esianya : 021-921xxxx. Lo save aja dulu nomernya dia. Ntar malem lo hubungi dia. Nah lo ngobrol-ngobrol aja dulu.”

Gue: “Sepp!”

Teman gue: “Oke deh.”

Gue : “Eh! By the way namanya siapa?”

Teman Gue: “Adinda sihombing.”

Malam itu Gue memutuskan untuk menelepon Adinda. Untuk menghindari dead-air atau Suatu kondisi dimana percakapan menjadi blank atau keduanya sama-sama terdiam akibat gak tahu lagi mau ngomong apaan karena sudah kehabisan topik untuk diangkat, maka gue menuliskan daftar list pada sebuah note kecil tentang apa saja topik yang akan gue obrolin nanti dengan Adinda.

  1. Perkenalkan nama.
  2. Sebutkan dulu sebelumnya pernah kerja dimana saja  dan posisi apa yang pernah dijabat.
  3. Tahu darimana lowongan pekerjaan ini.
  4. Berapa expected salary yang anda harapkan.
  5. Bersediakah kerja lembur serta under-pressured hingga larut malam tanpa uang lembur

Sorry, di atas itu notes yang gue tulis waktu mau interview kerjaan –__–

Dan notes yang benar-benar gue tulis untuk menghindari dead-air dengan Adinda adalah :

  1. Hi namaku Deni oktora, nama kamu Adinda sihombing kan?
  2. Oh ya Adinda kerja dimana? Kalau aku kerja di Cikarang.
  3. Kamu suka film apa?
  4. Kamu suka buku apa?
  5. Kamu suka nonton film apa?

Gue dan Adinda sempat semingguan saling ngobrol on the phone, dan sejauh ini sih obrolan kita gak pernah dead-air, ini mungkin karena Adinda adalah tipe cewek yang punya sense of humour yang bagus. Jadi apapun topik yang sedang kita bahas pasti selalu berakhir dengan gelak tawa hingga keluar air mata. Intinya pembicaraan kita selama seminggu on the phone itu bener-bener nyambung banget. I feel connected to her.

Namun Keadaan mulai gak mengenakkan muncul saat perbincangan kita berubah menjadi:

Adinda: “Eh den, besok kan kita ketemuan tuh, kamu pake kacamata ya?”

Gue : “Eh, iya. Kenapa emang?”

Adinda : “Gak papa, kebetulan Aku suka banget sama tipe cowok berkacamata.”

Gue : “Oh.”

Adinda : “Eh kulit kamu putih gak?”

Gue: “Hah? Kulit aku sih gak putih, tapi gak item-item amat, kenapa sih emang?” Tanya gue agak risih.

Adinda: “Gak papa juga sih.”

Hening.

Adinda: “Eh kalo idung kamu mancung gak?”

Gue : “Hah? gak mancung sih, Biasa aja, tapi gak sepesek idung babi juga sih.”

Adinda: “Ooo.”

Apa-apaan nih? Kok malah jadi mirip test masuk agency model sih? Pikir gue dengan hati gundah gulana sambili minum mandala 525-nya mamah dedeh.

Gue : “Okey nih, jadi besok..kita ketemuan nih?”

Adinda: “Jadi donk..aku gak sabar aja mau ketemuan sama cowok berkacamata.”

Gue : “Okay.” *Ngomong Okay-nya masih dengan hati yang gundah gulana.

Keesokan siangnya kita sepakat untuk ketemuan di Gramedia terlebih dulu sebelum mutusin untuk nonton di 21. Gue pun menunggu di Gramedia sembari melihat-lihat buku-buku new-released dan best-seller. Lama gue menunggu. Dan semakin lama gue menunggu. Semakin gue bisa ngerasain betapa jantung ini berasa mau keluar, dan gue bisa merasakan ada kupu-kupu sedang terbang di dalam perut gue, yang kalau gak salah ungkapan dalam bahasa inggrisnya itu I got butterflies in my stomache. Bener gak sih?

Adinda menyalami tangan gue sembari melemparkan senyum. Sementara gue ikut mengulurkan tangan sembari tersenyum dengan ekspresi Njrit-cantik-banget-nih-cewek. Adinda berkulit putih mulus, dia memakai sepatu high-heels, dan rambutnya seperti sengaja di buat model keriting gitu, dia memakai pakaian long-dress berwarna kecokelatan yang tampak serasi dengan kulit putihnya. Adinda bisa dikatakan terlihat simply perfect! Sementara gue  terlihat simply biasa aja dengan kaos oblong dan celana jeans gombrong. Adinda terlihat menawan, cantik, dan feminin. Gue bisa melihat bagaimana saat berjalan berdampingan di gramedia semua mata lelaki tertuju kepada dirinya memasang ekspresi “Cantik banget cuy.” Setelah itu bola-bola mata itu terlihat heran saat menemukan sosok cowok yang setia berada di sampingnya. “Lah itu tukang ojeknya kok ikut nganterin sampai dalam mall?”

“Udah lama nunggu ya?” Tanya Adinda, membuyarkan lamunan gue.

“Gak kok, Cuma dua puluh menitan.” Ucap Gue dengan intonasi suara yang entah kenapa tiba-tiba jadi seperti waria.

“Ayo kita makan yuk?” Ajak Adinda.

Akhirnya kita makan di sebuah restoran cepat saji bilangan Bekasi. Dan kita pun mengobrol. Banyak hal yang kita omongi. Ternyata memang benar. Adinda adalah tipe cewek yang memiliki sense of humour yang bagus. Bahan obrolan yang kita bicarakan tidak pernah ada habis-habisnya karena kita saling melemparkan jokes satu sama lain. Satu tawa disambut oleh tawa lain. I just feel connected to her. Batin gue saat itu.

Setelah makan sembari ngobrol-ngobrol selama dua jam. Kita pun sepakat untuk melanjutkan pertemuan ini dengan acara nonton. Kita pun menonton film Drag me to hell. Yaitu film yang kalo gak salah tentang cincin bertuah, dimana sang cewek pada endingnya malah ditarik ke neraka.

Selepas nonton Gue dan Adinda berjalan keluar dari studio. Saat itu tidak ada suara yang keluar dari mulut kita masing-masing. Kita hanya berjalan dalam kesunyian sembari menyusuri etalase demi etalase yang sudah terlihat sepi. Secara pribadi Gue menikmati malam ini bersama Adinda. Cowok normal mana sih yang enggak senang punya kesempatan jalan dengan cewek cantik. Tapi selepas nonton drag me to hell, Adinda terlihat lebih diam dan jarang bicara, entah apakah ini efek samping karena menonton film horor atau efek samping karena pergi nonton dengan pria berwajah horor. Batin gue saat itu.

Gue : “Serem gak filmnya menurut lo?”

Adinda  “Mmm…biasa aja sih..”

Gue : “Oh..”

Kita masih jalan menyusuri pintu keluar mall. Dan Gue memberanikan diri untuk menanyakan sesuatu kepada Adinda.

Gue: “Kalau minggu depan kita nonton lagi gimana? Mau gak?”

Adinda : “Mmmm…liat ntar deh ya…” Adinda menjawab dengan nada datar. Seperti orang yang sedang kehilangan nafsu makan.

Gue : “Ooh.”

Sesampainya di rumah, kepala Gue masih dipenuhi dengan memori-memori saat kita makan dan nonton bareng. Gue jatuh cinta dengan Adinda. Pikir gue.

Namun setelah pertemuan itu Adinda gak menjawab semua SMS gue, dan dia gak mengangkat setiap telepon Gue. Seharusnya Gue sudah cukup pintar untuk memahami kalau Adinda simply gak suka dengan Gue, namun orang yang sedang jatuh cinta sepertinya terlalu bodoh untuk menyadari semuanya itu. Selama seminggu Gue mencoba untuk SMS dan menelepon Adinda, dan hampir 90 % SMS gue gak dibales dan teleponan gue gak diangkat. Kalau adapun Sisanya 10 % Adinda menjawab telepon gue dengan nada datar, dan jawabannya selalu gak jauh dari kata “Mmmm…..ya….. mmmmm…..Ya……Mmmmmmm…”

Hingga suatu hari teman Gue yang menjodohkan Adinda mencoba menelepon Gue kembali di suatu siang. Ia memberitahukan kalau Gue bukan  tipe cowok Adinda banget.

Gue : “Tapi bukannya Adinda suka dengan cowok berkacamata? Gue kan pake kacamata.”

Temen Gue : “Iya, itu emang benar. Tapi Adinda gak suka dengan gaya berpakaian lo yang menurutnya terlalu simple dan mirip ABG labil.”

Gue : “…..”

Temen Gue : “Dari cara lo bercerita juga kata Adinda sepertinya lo belum dewasa Den..”

Gue : “……”

Temen Gue : “Sorry ya Den..Gue ngasih tahu ini juga supaya lo gak mencoba SMS-in or telepon dia lagi, dia gak mau diganggu lagi sama lo den katanya.”

Gue : “Oh, ya udah..gak papa…toh kita memang punya hak untuk memilih yang terbaik bukan?” Kata gue dengan sok bijak. Padahal  tangan gue sudah berada di dalam laci. Sedang mencoba mencari cutter guna memotong urat nadi gue.

Saat itu pikiran gue melambung ke mantan pacar Gue dua tahun yang lalu. Dia yang selalu bilang kalau dia selalu nyaman berada dekat dengan Gue.  Nyaman berada di samping gue walau gaya berpakaian gue mungkin mirip ABG labil, dan gaya bicara gue yang mungkin gak terlalu dewasa.

Something that you need to know about this blog:

  1. I write this blog based on my true experiences
  2. The name of the characters on this blog is not real anymore (Except my own character), I change it due to avoid some feuds, lawsuits, or even dead threats to me, my cats, and my dogs.
  3. I dramatize and exaggerate some parts in order to make a good story with a good punchline so that you can laugh your ass off and say “Hey this blog is funny! I love it!”
  4. I write this blog mostly on Friday night and Saturday night. Why? because that’s what forever alone dude do.
Advertisements
Posted in: Esai