#hidupiniseperti cokelat.

Posted on January 8, 2012

3


Namanya Ita, dia berambut hitam panjang sebahu, mengenakan kacamata, dan kulitnya berwarna putih cerah. Memiliki lesung pipit pada pipi sebelah kiri yang mana setiap kali tersenyum selalu mampu membuat gue meleleh kaya mentega. Cesssss….

Ita adalah teman sekelas gue saat kelas 2 SMU. Gue sudah lama menaruh hati kepadanya semenjak semester pertama, dan selama semester pertama pula gue sudah sering menulis namanya besar-besar I-T-A pada bagian belakang lembar halaman buku catatan gue. Tak lupa turut menggambarkan lambang hati di atas huruf “I”. menggantikan tanda titik. Gue juga gak nyangka kalau dulu gue bisa seunyu itu saat jatuh cinta.

Di tengah-tengah jam pelajaran, gue acap kali memerhatikan punggung  Ita yang ramping dari belakang. For your information : gue duduk pada barisan kedua dari belakang, sementara dia duduk pada barisan kedua dari depan. Ketika jam istirahat berbunyi gue pun tak beranjak dari tempat duduk, masih stay dan masih menatap punggungnya hingga perlahan-lahan ia melengang pergi ke kantin. Ini adalah hal yang umum dilakukan oleh para cowok-cowok dengan tingkat kepercayaan diri di bawah rata-rata. Lain halnya dengan cowok-cowok yang memiliki tingkat kepercayaan diri di atas rata-rata yang akan lebih memilih menghampri Ita, menyapanya, dan mengajaknya makan bersama di kantin

Cowok dengan tingkat kepercayaan diri di atas rata-rata : “Hei Ta, Kamu udah makan siang belum?”

Ita : “Belum nih, hayo bareng yuk?”

Cowok dengan tingkat kepercayaan diri di atas rata-rata : “Boleh, ayo makan di kantin. Aku yang traktir hari ini deh….”

Ita : “Makasih ya, kamu tumben baik banget hari ini deh”

Akan lain halnya bila lo memiliki tingkat kepercayaan diri dibawah rata-rata

Cowok dengan tingkat kepercayaan diri di bawah rata-rata : “Hei Ta, ini….Mmmm…..mmm”

Ita : “Ya?”

Cowok dengan tingkat kepercayaan diri di bawah rata-rata : “Ini……Aku mau ngajak kamu……Mmmm….”

Lalu datang teman-teman Ita beramai-ramai dari kelas sebelah mirip kawanan banteng betina yang sedang kelaparan. Sialnya mereka ikut-ikutan mengajak Ita untuk ikut makan bareng.

“Hei Ita!! Ayo kita makan di kantin yuk!!” “Aku mau makan mie ayam mang Asep deh!!” kata Ayu salah satu teman Ita yang berbadan gempal. “Kalau Aku mau makan nasi uduk Ibu Tini aja deh, soalnya enak gethu dewhhh!!” Tambah Ratna dengan aksen anak gaul pakai behel warna-warni. “Kalo kamu makan apa ntan?” “Kalo Aku, Aku tuh ya suka nasi goreng mang Dadang donk…rasanya itu loh maknyus banget!!” Timpal Intan dengan gaya heboh sambil muter-muter kesenangan. “Udah ah ngobrolnya jangan lama-lama. Hayo kita ke kantin yuk cepatan!” Memang masih menjadi sebuah misteri mengapa acara makan bersama ke kantin yang rasa-rasanya bisa dilakukan dengan lebih simple, cepat, tanpa berlama-lama bisa berubah menjadi acara yang heboh, ramai, berisik, dan butuh lima belas menit sebelum akhirnya pergi ke kantin. Hanya kaum hawa yang tahu.

Ita : “Ayukk”

Lalu Ita pun pergi melengang bersama kawanan banteng yang kelaparan. Meninggalkan si cowok dengan tingkat kepercayaan diri di bawah rata-rata tanpa sepatah katapun.

Cowok dengan tingkat kepercayaan diri di bawah rata-rata : “…………..”

Tidak memiliki rasa percaya diri. Yup itu adalah gue. Gue terlalu malu untuk mengungkapkan rasa suka gue kepada setiap cewek yang gue sukai. Awalnya hal ini gak terlalu jadi masalah buat gue. Karena Hei, gue yakin di luar sana, di sekolahan lain juga ada cowok-cowok yang bernasib sama seperti gue. Lebih memilih menatap punggung cewek yang disukainya dari bangku belakang kelas.

Namun semuanya berubah ketika Roni, sahabat gue yang mengagumi ranger pink – salah satu personil the mighty morphin power rangers. Sedang memberikan nasihat kepada gue.

Di sebuah mall. Tepatnya di sebuah restoran makanan cepat saji berlambang huruf M dan berwarna kuning.

Roni : “Lo butuh percaya diri men!” Ucapnya sambil berapi-api.

Gue : “Maksud lo?” Tanya gue sembari menghabiskan kentang goreng.

Roni : “Lo coba lo liat ke belakang deh, disitu ada beauty and the beast lagi suap-suapan ayam kentucky” Ucap Roni dengan telunjuk mengarah ke arah pasangan yang sedang duduk di belakang gue.

Gue menengok ke belakang dan benar, disitu tampak seorang cewek yang level kecantikannya menyerupai Sandra dewi. Dirinya sedang disuapi dengan amat sangat romantis oleh pacarnya yang notabene level ketampanannya menyerupai Budi anduk habis kelindas truk tinja.

Roni : “Nah, itu dia maksud gue men! Tuh kampret aja bisa dapetin cewek yang sebegitu cantik. Masa kita-kita ini gak bisa sih?”

Gue masih berusaha menghabiskan sisa-sisa kentang goreng gue sebelum merespon pertanyaan Roni.

Gue : “Terus mau lo apa? Apa lo mau kita samperin tuh si kampret terus nanya bagaimana caranya supaya bisa dapetin cewek cantik dengan muka sekampret dia?”

Roni : “Bukan gitu maksud gue bego! Masa masih gak ngerti juga sih lo? Itu tandanya kalau rasa percaya diri memainkan peran yang lebih besar untuk menaklukkan hati seorang cewek ketimbang wajah tampan”

Gue : “Hemm….” jawab gue sembari menyudahkan kentang goreng yang sudah tak bersisa.

Roni : “Begini, Lo tahu shinta?”

Gue : “ Cewek kelas sebelah yang imutnya keterlaluan itu?”

Roni : “Yup!!”

Gue : “Ada apa dengan shinta?”

Roni : “Gue bakalan nembak Shinta Jumat nanti!” Ucap Roni dengan tangan kanan menirukan bentuk sebuah pistol. Maksud hati ingin meniru gaya koboy, tapi malah lebih mirip banci salon yang sedang memegang hairdryer.

Gue : “Seriously?”

Roni : Yup, Gue juga udah lama menaruh hati kepada Shinta. Jauh lebih lama dari cerita lo dengan Ita.”

Gue : “Tapi Shinta cewek cantik men.”

Roni : “Betul.”

Gue : “Dia cewek gaul juga men.”

Roni : “Betul.”

Gue : “Dia anak cheerleader men!! Senior-senior kita juga banyak yang ngincer Shinta men!!”

Roni : “Betul!!” Jawab Roni kali ini disertai dengan mata melotot. Seandainya ini adalah adegan sinetron maka kamera sudah pasti akan me-zoom in zoom out kedua matanya berkali-kali.

Gue :”Lo gak takut?”

Roni : “Lo tahu apa yang lo butuhkan untuk mengalahkan rasa takut?”

Gue : “Apa?”

Roni: “Percaya diri.”

Ucap Roni dengan keren. Yang tidak keren hanyalah noda saus yang blepotan di kedua pipinya.

Roni adalah teman gue yang bisa dibilang gak ada lebihnya, baik dari segi fisik maupun dari segi prestasi di sekolah. Dari segi fisik sekilas ia mirip mutan kura-kura ninja versi transgender, sementara dari segi prestasi di sekolah ia selalu mendapatkan nilai dengan tangga nada do-re-mi untuk setiap nilai ulangan matematika, fisika, kimia, dan biologi. Tapi entah mengapa untuk kali pertama gue merasa apa yang dikatakan Roni itu benar, Bahwa percaya diri adalah hal yang cowok butuhkan untuk mendekati cewek.

Percaya diri. Yup, itu yang gue butuhkan untuk menaklukkan hati Ita.

Sesampainya di rumah dengan langkah terburu-buru dan semangat gue langsung masuk ke kamar, mengambil laptop , dan me-google “Tips melakukan pendekatan dengan wanita” dan google pun dengan cepat menampilkan ribuan website yang sedang membahasnya. Ada beberapa tips yang ditawarkan oleh google yang dirasa pas buat gue terapkan untuk pendekatan dengan Ita.

Tips Pertama : Jadi diri sendiri

Artikel yang gue baca mengatakan kalau selama proses pendekatan dengan cewek, hal yang paling utama untuk dilakukan adalah dengan menjadi diri sendiri. Menjadi diri sendiri disini bukan berarti lo bisa seenaknya gak pakai celana saat jemput dia makan malam, atau lo bisa seenaknya minta untuk dibayarin nonton, makan ini-itu, dan belanja ini-itu (cowok matre dengan cowok miskin beda tipis jaman sekarang). Menjadi diri sendiri disini adalah saat lo bisa senatural mungkin ketika berada dekat dengannya. Lo gak perlu cari perhatian misal dengan cara naik pohon atau tiang listrik demi mendapat perhatian darinya. Cukup act naturally!

Tips kedua : Berikan sinyal kepadanya.

Artikel yang gue baca mengatakan bila kita menyukai seseorang, ada baiknya kita memberikan sinyal kepadanya, bila lo menyukai seseorang, maka berikanlah perhatian yang lebih kepadanya, misal dengan cara menanyakan hal-hal yang kecil namun bisa memberikan kesan kalau kita memang perhatian kepadanya. Bisa dimulai dengan memberikan pertanyaan seperti: kalau weekend biasanya kemana? Kamu makan berapa kali sehari sih? Kamu kalau turun dari angkot kaki kanan dulu atau kaki kiri duluan sih, dan pertanyaan-pertanyaan kecil lainnya. Cukup berikan perhatian-perhatian kecil dalam dosis yang tepat, yang artinya bukan berarti lo setiap pagi, setiap siang, bahkan malam lo bertanya tanpa henti ke dia. Bisa-bisa malah rambut lo yang dijambak sama dia nantinya.

Tips ketiga : Mencoba mengajaknya nonton atau makan bareng.

Artikel ini juga memberikan tips bila kita telah memberikan cukup perhatian kecil kepada dirinya ada baiknya untuk mencoba mengajak nonton bareng di bioskop atau pergi makan bareng. Untuk pertama-tama ada baiknya kita mengajak teman-temannya terlebih dahulu. Hal ini kita lakukan sebagai momen Break the ice atau pencair suasana, Setelah dua hingga tiga kali mungkin lo bisa memberanikan diri untuk bepergian berduaan dengannya.

(Lagi-lagi) di sebuah mall, tepatnya di sebuah restoran siap saji berlambang huruf M dan berwarna kuning.

Gue menunggu Roni, Yup Roni, teman gue yang mengagumi ranger pink dan ingin menembak Shinta. Shinta si cewek popular kelas sebelah. Roni lah yang mengajarkan gue mengenai pentingnya memiliki percaya diri dalam hal menaklukkan hati cewek. Gue berharap Roni berhasil meluluhkan hati Shinta, karena jika demikian, maka teori Roni mengenai percaya diri adalah benar adanya. Dan gue akan melakukannya terhadap Ita juga.

Gue masih menunggu dan menunggu. Waktu sudah berjalan dua puluh lima menit lamanya namun Roni belum juga menampakkan batang hidungnya. Seandainya kita pacaran mungkin Roni sudah gue putusin sekarang juga. Gue mengeluarkan iPhone dari saku dan mencoba menghubunginya

Gue : “Dimana Ron?”

Roni : “Bentar lagi bro”

Gue : “Oke”

Gue mencoba menunggu Roni dalam beberapa menit lagi, tak lama kemudian dia datang dengan tatapan mata sayu. Wajahnya terlihat sedih. Firasat gue gak enak.

Gue : “Kenapa lo?”

Roni : “Gue gagal.”

Gue : “Dapetin Shinta?”

Roni : “Iya”

Gue : “Kok bisa? Percaya diri lo emang kemana?”

Roni : “Mungkin benar apa yang lo bilang soal Shinta”

Gue : “Yang mana?”

Roni : “Shinta itu cewek gaul, Shinta itu cewek popular, Shinta itu disukai sama banyak senior-senior, satu gedung sekolahan kayaknya tahu siapa Shinta.”

Gue : “Emmm…”

Roni : “Sementara gue cuman popular di kalangan tukang ojek depan gerbang sekolah”

Gue : “Dikalangan satpam sekolah lo juga dikenal kok Ron.”

Roni : “Gak usah ditambahin juga kali nyet!”

Gue : “Jadi gimana ceritanya sampai dia bisa nolak lo?”

Roni : “Sabtu kemarin gue ajak dia nonton bareng sama makan”

Gue : “Terus?”

Roni : “Pada saat kita lagi berbincang-bincang dengan hangat, nyaman, ketawa bareng. Semuanya berjalan baik hingga dia berhenti berbicara sebentar. Kita hening beberapa detik.”

Gue : “Terus?”

Roni : “Dia bilang ke gue kalau gue cowok yang baik, lucu, dan enak buat diajak ngobrol, tapi semuanya ini jangan diintrepetasikan berbeda. Kita temen dan tidak lebih.”

Gue : “Maksudnya?”

Roni : “Maksudnya dia supaya gue jangan sampai jatuh cinta sama dia?”

Gue : “Lah, kok dia bisa tahu kalau lo suka sama dia? Padahal lo belum ada ngomong kan ke dia?

Roni : “Iya gue belum nembak Shinta”

Gue : “Terus dia tahu darimana ya kalau lo emang ada rasa sama dia.”

Roni : “Karena cowok yang udah ngajak dia nonton bareng, dinner bareng, dan berharap bisa dapetin dia itu bukan cuma gue doank. Gue mungkin cowok yang kesekian. Dan sialnya memang sampai saat ini gak ada satupun cowok yang berhasil membuat hati Shinta luluh. Termasuk gue.

Gue : “Hemm…”

Roni : “Gue sedih banget nih..”

Gue : “Ya udah, lo pesan aja makanannya biar gue yang bayarin kali ini brother.”

Roni : “Beneran nih?, wah lo emang bener-bener temen gue yang baik!” mendadak wajah sendu Roni lenyap, menjadi wajah yang memancarkan keceriaan setelah tahu bakal ditraktir. Emang dasar muka gratisan.

Sesampainya di rumah gue langsung masuk ke kamar. Rebahan di tempat tidur, mata gue menatap langit-langit kamar.  Apa gue sebaiknya melupakan Ita saja? Gue takut menjadi seperti Roni. Takut gagal. Takut ditolak. Takut patah hati. Takut sedih. Takut seharian gak bisa makan. Takut dengerin lagu cinta.

 

Di Sekolah.

Jam istirahat berdering gue pun melihat punggung Ita yang melengang pergi keluar kantin bersama teman-temannya. Gue mengambil sebatang cokelat dari tas. Mencoba mengunyahnya pelan-pelan.

Merasakan manisnya cokelat.

Manis.

Semanis hidup ini ketika sedang jatuh cinta.

Something that you need to know about this blog:

  1. I write this blog based on my true experiences
  2. The name of the characters on this blog is not real anymore (Except my own character), I change it due to avoid some feuds, lawsuits, or even dead threats to me, my cats, and my dogs.
  3. I dramatize and exaggerate some parts in order to make a good story with a good punchline so that you can laugh your ass off and say “Hey this blog is funny! I love it!”
  4. I write this blog mostly on Friday night and Saturday night. Why? because that’s what forever alone dude do.
Advertisements
Posted in: Esai