#hidupiniseperti kopi tubruk.

Posted on March 11, 2012

4


Kali ini gue mau menulis tentang bagaimana rasanya ketika cinta bertepuk sebelah tangan. Yap, kayanya isi postingan blog ini semuanya tentang cinta bertepuk sebelah tangan ya? Mungkin hal ini tidak lepas dari pengaruh jam terbang sang penulis yang sudah sangat amat berpengalaman dalam hal ditolak. Baik ditolak dengan cara halus semacam “Kamu kayanya terlalu baik buat aku deh..mending kita temenan aja” sampai ditolak dengan cara kasar seperti “Heh, emangnya situ siapa hah!! Cuiihhhh!!” semuanya sudah penulis alami dengan linangan air mata. Maaf kalau jadi curhat.

Tapi lucky me! Karena postingan kali ini isinya bukan tentang gue. Tapi tentang Fikri dan Alina. Siapakah Fikri? Fikri adalah teman gue waktu di kampus dulu. Lebih tepatnya Fikri adalah senior gue setahun lebih tua di kampus. Lalu siapakah Alina? Alina adalah gadis oriental yang mampu membuat Fikri tergila-gila hingga rela dilindas truk penyedot tinja demi mendapatkan cintanya. Sebelum gue menulis tentang Fikri dan Alina, demi menambah efek dramatis dari tulisan gue ini kalian bisa ambil iPod nano dan pasang lagu Lovefoolnya the Cardigans. Agar kalian tahu, betapa jatuh cinta bisa membuat orang kehilangan akal sehatnya.

Love me. Love me. Say that you love me.

Fool me. Fool me. Go on and fool me.

Fikri selain teman, merupakan seorang kakak senior gue di kampus. Dia lebih lama setahun di kampus. Fikri adalah seorang penggila apapun yang berbau jepang. Japanese Rock adalah musiknya, Japanese Style adalah Gayanya, Japanese Food adalah makanannya, Japanese girls adalah pacar idamannya, dan ngutang nasi uduk adalah hobinya.

Dandanan Fikri di kampus memang sedikit unik. Atau beda dari yang lain. Sebutan gampangnya adalah aneh bin ajaib. Gue masih ingat bagaimana saat bersama mahasiswa lain sedang asyik mendengarkan penjelasan dosen mengenai mikro dan makro ekonomi, tiba-tiba fikri yang notabene sudah telat dengan santai berjalan memasuki kelas dan memilih tempat duduk. Dosen perkonomian Indonesia gue saat itu bisa dibilang menyandang status killer, dia tidak pernah mengijinkan mahasiswa atau mahasiswi yang telat masuk ke kelas. Tapi lain halnya fikri. Dengan dandanan smokey eyes, memakai sarung tangan jaring-jaring, dan kemeja super ketat membuat sang dosen speechless hingga membiarkan Fikri masuk pada akhirnya.

Di mata Fikri mungkin gayanya berpakaian terlihat seperti vokalis band-band rock jepang, tapi dimata manusia tanpa dosa seperti kita-kita ini, melihat fikri berdandan seperti itu akan membuat kita berpikir bahwa Fikri adalah seorang mahasiswa gay yang sedang mencari jati dirinya.

Di daerah Puncak (Entah dimana tempatnya. Lupa)

Gue bersama beberapa teman dan kakak senior kampus (salah satunya Fikri) mengikuti acara gathering di suatu tempat di daerah puncak. Intinya di acara itu adalah perkenalan dengan berbagai macam UKM (Unit kegiatan mahasiswa) kampus yang sudah lama eksis. Pada acara yang selama dua hari diadakan itu kita sebagai mahasiswa-mahasiswi di kampus diharapkan mengerti apa fungsi dan tujuan masing-masing jenis UKM didirikan, serta adanya harapan agar mahasiswa-mahasiswi angkatan baru mampu menjadi regenerasi untuk melanjutkan peranan UKM di kampus.

Pada hari pertama, tepatnya pukul 7 malam. Ada acara perkenalan dengan beberapa mantan mahasiswa-mahasiswi yang pernah terlibat dalam kepengurusan UKM. Banyak dari mereka kini sudah berstatus sebagai karyawan bahkan sudah ada beberapa yang memiliki keluarga. Setelah acara perkenalan maka diadakanlah acara seputar tanyajawab atau diskusi.

Kita duduk beralaskan tikar dan membentuk format  lingkaran. Dibuat seperti ini agar suasana antara senior dan junior lebih terasa cair dan akrab.

Laiknya seperti adegan-adegan dalam sinetron, secara tidak sengaja kedua bola mata Fikri dan Alina berpapasan.

Fikri tersenyum.

Alina memutar bola matanya ke atas

Fikri tetap tersenyum.

Alina memutar bola matanya ke bawah.

#tandaditolak.

Ada satu alasan mengapa Fikri tergila-gila dengan Alina. Pertama adalah karena wajah Alina yang oriental. Yap. Oriental seperti perempuan-perempuan jepang yang merupakan tipikal Fikri banget. Ditengah-tengah acara diskusi yang berlangsung Fikri berbisik kepada gue mengatakan :

Fikri : “Lu tau cewek di seberang gue itu?”

Gue : “Yap, dia seangkatan sama gue. Kenapa?”

Fikri : “Gue rasa dia suka sama gue”

Gue : “Oh ya? Lu tau dari mana?”

Fikri : “Dari tadi kita saling tatap dan senyam-senyum loh”

Entah penyakit kejiwaan apa yang dialami oleh Fikri, karena yang memberikan tatapan sambil senyam-senyum hanyalah dirinya seorang di ruangan ini. Tidak Alina. Tidak cewek-cewek lainnya. Tidak kuntilanak di atas pohon sana.

Gue : “Tapi dari tadi gue gak liat dia senyam-senyum ke arah lu Fik”

Fikri : “Bego lo, Yah dia masih malu-malu kucing donk” Kata fikri dengan nada percaya diri tingkat dewa.

Gue : “Namanya Alina, kalo lo emang ngerasa dia suka sama lo, ya udah lo deketin aja”

Fikri : “Oh…. namanya Alina. Seep lah.”

Keesokah harinya (masih di puncak, masih di tempat yang sama dan masih lupa dimana)

Kita diberi waktu untuk mandi dan sarapan selama satu jam. Setelah itu bersiap untuk mengikuti game outbound yang berbasis team-building. Adapun permainan yang paling gue ingat adalah permainan yang bernama trust fall. Apa itu trust fall? trust fall adalah permainan yang dimainkan oleh satu team yang berisikan 5 hingga 7 orang. Salah satu orang yang berasal dari team akan berdiri ke atas meja yang telah disiapkan. Membelakangi team. Dalam hitungan ketiga peserta akan menjatuhkan diri ke arah belakang. Sementara dari arah belakang , teman-teman dari team sudah siap menangkap agar tidak jatuh terjerembab ke dalam tanah.

Inti dari permainan trust fall adalah Tangkap-temanmu-sebelum-dia-jatuh-terjerembab-ke-tanah-dan-mampus.

Pembagian kelompok dilakukan berdasarkan undian. Gue satu kelompok dengan Alina, sementara Fikri berada di kelompok yang lain. Pada intinya masing-masing orang akan mendapatkan giliran untuk berdiri di atas meja dan menjatuhkan badan ke belakang tanpa rasa takut dan ragu-ragu, Karena di belakang teman satu team sudah siap menangkap badan kita yang tengah jatuh.

Saat masing-masing dari kita sedang sibuk membentuk barisan dengan masing-masing kelompok, tiba-tiba Fikri menghalangi gue untuk berbaris dengan kelompok gue.

Fikri : “Den, kita tuker kelompok ya please”

Gue : “Hah? Emang kenapa?”

Fikri : “Gue mau satu kelompok dengan Alina soalnya please..”

Gue : “Mmmm…ya gue sih okay-okay aja, tapi nanti kalau ketahuan gimana? Soalnya kan pembagian kelompok sudah diatur sama Senior. Nanti kalau dihukum gimana donk?”

Fikri : “Gak usah takut, gak bakal ketahuan juga. Toh Senior juga gak bakal hapal semua wajah-wajah perorangan kan? Please….Lu tahu kan kalau kita berdua sedang ada rasa. Gue gak mau ini semua lewat begitu saja.”

Gue : “……………..”

Akhirnya gue membiarkan Fikri masuk ke kelompok gue agar bisa satu team dengan Alina, sementara gue pindah ke kelompoknya. Tentu hal ini kita lakukan diam-diam tanpa sepengetahuan senior.

Sesekali gue mengintip Fikri dan kelompoknya. Gue bisa melihat keriangan menempel pada wajah Fikri. Sesekali ia tersenyum saat menatap Alina yang berada di sampingnya. Yap, dia berhasil mendapatkan tempat untuk berada di samping Alina. Usahanya untuk menukar kelompok dengan gue bisa dibilang tidak sia-sia. Lucu juga ya melihat bagaimana wanita mampu membuat setiap pria rela melakukan apa saja untuk mendapatkan secuil perhatian dari dirinya. Batin gue.

Kesialan selalu datang tepat waktu. Kali ini ia mendatangi Fikri dengan caranya yang absurd. Saat itu semua yang berada di kelompok Fikri satu persatu sudah mendapat giliran berdiri di atas meja untuk melakukan trust fall. Tinggal Alina yang belum mendapatkan giliran. Dan ketika giliran Alina tiba, ia menjelaskan kepada senior kalau ia tidak mau mencobanya karena takut ketinggian. Karena level keimutan pada wajah Alina mendekati sempurna, maka alasan yang cukup klise itu pun dengan mudah dikabulkan oleh Senior. Alina pun diizinkan tidak melakukan trust fall.

Fikri yang dari tadi sudah mengharapkan untuk menangkap tubuh Alina dari bawah saat melakukan trust fall, kini hanya bisa gigit jari dan kecewa. dirinya kini didera keinginan untuk berlari kencang-kencang sambil merentangkan tangan dan berteriak WHY OHHH WHY??!!! 

Setelah Alina keluar dari barisan kelompok, sang senior memanggil seorang perempuan dari kelompok gue bernama Ayi untuk menggantikan Alina. Saat itu dengan tergopoh-gopoh Fikri memanggil gue dan mengajak gue untuk bertukar kelompok kembali. namun gue menolak dengan alasan gak mau repot.

“Den, Please. kita kembali ke kelompok semula aja ya.. please”

“Ah males gue tuker-tukeran mulu, lu nikmatin aja..bentar lagi Ayi naik tuh. tolong tangkap yang benar ya?” Kata gue sambil berusaha menahan tawa.

Ayi pun berdiri ke ke meja. Sepertinya sudah siap untuk melakukan trust fall. Gue bisa melihat wajah-wajah panik menghiasi semua peserta yang harus menangkap Ayi jatuh. dan wajah yang paling panik saat itu ada pada Fikri.

Mengapa mereka panik?

Karena Ayi berbobot lebih dari 90 Kilogram.

Something that you need to know about this blog:

  1. I write this blog based on my true experiences
  2. The name of the characters on this blog is not real anymore (Except my own character), I change it due to avoid some feuds, lawsuits, or even dead threats to me, my cats, and my dogs.
  3. I dramatize and exaggerate some parts in order to make a good story with a good punchline so that you can laugh your ass off and say “Hey this blog is funny! I love it!”
  4. I write this blog mostly on Friday night and Saturday night. Why? because that’s what forever alone dude do.
Advertisements
Tagged: , , ,
Posted in: Esai