#hidupiniseperti Nutella.

Posted on September 14, 2012

1


Lembaga bahasa LIA Kalimalang, Bekasi (1997-1999)

Bocah ini masih berumur kisaran 13 – 14 tahun, dan ini adalah cerita cinta pertamanya.

Sebelum jatuh cinta untuk pertama kalinya bocah ini selalu terkantuk-kantuk di kelas, tidak semangat, dan bawaannya ingin pulang ke rumah untuk nonton Marimar sendirian, sebelum jatuh cinta untuk pertama kalinya  bocah ini juga selalu ingin melempar bakwan ke muka Ibu guru Marlina yang dirasanya terlalu cerewet, sebelum jatuh cinta untuk pertama kalinya pula bocah ini tadinya tidak tahu kalau kadang hidup ini bisa manis seperti nutella.

Dan Tuhan pun memberikan rasa manis itu kepadanya lewat seorang perempuan dan Tuhan akan membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya.

Di Kelas.

Bocah itu terlihat serius mengerjakan soal mengenai grammar. Jadi dia harus memetakan mana grammar yang dirasa salah lalu diperbaiki dengan grammar yang dirasa benar. Mengapa serba dirasa? karena perasaan atau feeling memainkan peranan penting disini bila pengetahuan kita terhadap struktur rumus grammar sangat teramat minim.

“Eh, soal no 3 jawabannya apaan? Was atau were?” Tanya Effendi. Effendi merupakan satu-satunya manusia di dalam kelas yang kemampuan bahasa inggrisnya sangat-sangat memprihatinkan, atau bisa dibilang goblog kuadrat dikali dua.

Bocah itu menjawab Effendi sambil berbisik. “Pakai Feeling”

“Heh, apa?”

“Pake feeling.”

“Pake apaan sih?”

“Pake FEELING!” Ulang bocah itu kini dengan memberikan isyarat menunjuk dadanya.

“Oh iya, makasih!” Dan Effendi pun menulis kata feeling di atas lembar jawaban.

Setelah kuis selesai setiap murid diperkenankan untuk mengumpulkan lembar jawaban masing-masing ke meja Ibu Marlina, lalu kita pun kembali duduk seperti semula. Ibu Marlina mengeluarkan pengumuman yang nantinya akan membuat hati bocah itu meleleh seperti mentega.

“Okay anak-anak, sekarang kita punya anak baru dari pindahan kelas siang, Ibu minta kalian tenang dulu,” Bu Marlina keluar sebentar. lalu dalam waktu 5 menit kemudian ia membawa seorang perempuan dengan potongan rambut pendek ala twiggy, Oh ya pada kedua pipinya juga terdapat lesung pipit ketika dia tersenyum. Membuatnya terlihat semakin manis. Semanis nutella.

Aku suka Nutella. Kamu manis seperti Nutella. 

Mungkin itu yang akan diucapkan sang bocah ketika waktu mengijinkan mereka berkenalan nanti.

“Hi nama aku Citra.”

Hanya itu saja yang keluar dari bibir tipisnya, sepertinya perempuan itu pemalu. Ibu Marlina mempersilahkan Citra untuk memilih tempat duduk. Citra terlihat bingung, sang bocah mengatup tangannya dan berdoa dalam hati agar Citra memilih tempat duduk di sampingnya yang sedang kosong.

“Disini saja!” Kata Bobby yang tiba-tiba ramah menawarkan tempat duduk.

“Di belakangku saja nih,” Kata Effendy dengan percaya diri.

Citra semakin terlihat bingung.

Bocah itu masih mengatup kedua tangannya, mengatup lebih erat dan memohon kepada Tuhan. “Tuhan izinkanlah perempuan yang semanis nutella ini duduk di sampingku. Amen!”

“Citra kamu duduk di situ saja,” Telunjuk Ibu Marlina mengarah kepada bangku kosong yang berada tepat di samping si bocah.

Entah karena doanya yang khusyuk hingga Tuhan mendengar atau memang karena keberuntungan belaka. Si bocah melihat Citra yang parasnya semanis nutella sedang berjalan mendekat, lalu duduk di sampingnya. Bocah itu pura-pura tenang sambil memberikan sesungging senyum kepada Citra. Ia berusaha terlihat tenang, ya tenang bagai riak air, walau jantungnya berderu kencang seperti tsunami dan mau meledak seperti dinamit, namun sekali lagi ia berusaha tetap tenang.

“Namamu siapa?” Ucap Citra sambil menjulurkan tangannya.

Aku suka Nutella. Kamu manis seperti Nutella.

hanya itu yang ingin diucapkan sang bocah, namun mulutnya hanya menganga. terbuka lebar, ia tidak menyangka kalau bidadari yang memiliki paras semanis nutella ini akan menjulurkan tangan kepadanya lantas bertanya namamu siapa? Ini seperti mimpi! Bila ini mimpi, maka ini adalah mimpi ketiga terindah yang pernah dialaminya. Mimpi pertama adalah mimpi mendapatkan nilai 10 ulangan matematika walau tidak pernah belajar, Mimpi kedua adalah digendong Lynda carter saat berubah menjadi wonder woman.

Si bocah menyalami tangan Citra, mulutnya sudah siap untuk menyebut namanya, namun naas Ibu Marlina menyebut namanya lebih dulu dengan keras dan lantang hingga sang Bocah terkaget. Citra pun terkikik kecil. Ibu Marlina menyuruh si bocah untuk membaca sebuah cerita dalam salah satu bab. Mendadak ia pun ingin membeli bakwan di depan lalu melemparkan ke muka sang guru.

Esok hari

Si bocah ingin terlihat lebih tampan kali ini, ia tidak ingin menggunakan kaus oblong Nirvananya di hadapan Citra. Ia tahu kalau sablon Kurt cobain tengah berteriak di depan microphone dengan gitar fender tidak akan menarik hati Citra, ia ingin terlihat lebih dewasa, lebih casual dan lebih trendi!

Setiap Rabu malam bocah itu selalu menonton Sinetron Cinta yang dibintangi Primus Yustisio sebagai Haris, Desi ratnasari sebagai Rini, dan Atalarik syach sebagai Andi. Sekarang ia mengerti, untuk terlihat lebih dewasa, lebih casual, dan lebih trendi maka ia harus terlihat seperti Primus. Baju lengan panjang, gel rambut, dan celana jeans adalah kuncinya. Mudah-mudahan dengan tampil ala primus Citra akan mencintai dirinya seperti Rini mencintai Haris.

Bocah itu pun meminjam baju lengan panjang Papanya, terlihat kebesaran pada tubuhnya, namun tidak masalah bagi orang yang sedang jatuh cinta bukan? Bocah itu pun sibuk mematut-matut di depan cermin. Aku mirip primus, katanya dalam hati.

Ia pun membeli Gel rambut bermerek Brisk dari uang jajan yang ia kumpulkan selama tiga hari, tidak lupa ia menabung juga untuk membeli parfum Axe yang saat itu masih seharga Rp 17,500.

Ajaib, setelah berdandan ala primus ternyata Citra semakin sering menjadi partnernya dalam berdiskusi atau sekadar maju ke depan untuk membawakan dialog bahasa inggris. Sang bocah dengan Citra semakin akrab, sepertinya semesta memang sengaja mempertemukan mereka untuk menjadi sepasang kekasih.

Hari ujian kenaikan level pun tiba, Sang bocah belajar dengan tekun agar ia tidak gagal dalam ujian kenaikan level kali ini, ia tidak ingin tertinggal satu level dengan Citra karena itu artinya ia tidak akan lagi berada dalam satu kelas yang sama dengan Citra. Ia harus lulus! tekadnya dalam hati.

Hari ujian pun tiba, Sang bocah mengerjakan soal ujian dengan mudah dan cepat, sementara di belakang Effendi terlihat asyik dengan menuliskan kata feeling pada setiap lembar jawaban.

Dua minggu hasil test kenaikan level akan diumumkan. P untuk passed dan F untuk failed. Selama dua minggu itu pun sang Bocah semakin sering mengatup kedua tangannya, berdoa memohon kepada Tuhan agar ia bisa lulus dalam kenaikan level. agar ia bisa bersama kembali dengan Cintanya yang semanis nutella.

14 hari kemudian

Sang bocah dengan semangat pergi ke LIA, ia melihat papan pengumuman dengan saksama, jantungnya berdegup kencang, berharap huruf P akan tertera di samping namanya. Cukup lama kedua bola matanya memindai seisi papan nama hingga pada akhirnya ia melihat angka P yang berarti PASSED di samping namanya. Ia pun mengepalkan tangan dan meninju ke udara, Yes! Gue lulus!

Namun bagaimana dengan Citra? apakah dia lulus juga? telunjuk sang bocah memeriksa daftar nama kembali, selang dua menit kemudian ia mendapatkan sesuatu yang menyakitkan, di samping nama Citra tertulis F yang berarti FAILED. Citra tidak lulus. Mereka tidak akan bersama lagi dalam satu kelas yang sama. Hati sang bocah pecah berkeping-keping. ia pun berusaha memungut kepingan hatinya dan beranjak pulang. Di dalam kamar ia menangis seharian. Mamanya bertanya kenapa? Aku gak suka nutella lagi jawabnya.

Sang bocah tidak pernah melihat Citra lagi, yang ia ingat hanyalah senyumnya dan wajahnya yang semanis Nutella. 14 tahun kemudian sang bocah berusia 27 tahun, Ia selalu teringat Citra bila ia sedang melewati gedung lembaga bahasa inggris tersebut. Sekadar bertanya dalam hati bagaimana kabar Citra sekarang? mungkin sedang pacaran dengan lelaki yang juga menyukai nutella? atau sudah menikah dan memiliki tiga anak yang lucu-lucu seperti parasnya? entahlah, sang bocah tidak tahu. Sampai malam ini larut sang bocah tidak akan pernah tahu bagaimana kabar Citra, masihkah ia ingat dengan bocah itu? karena bocah itu kini tengah menulis tentang dirinya dalam blog.

Something that you need to know about this blog:

  1. I write this blog based on my true experiences
  2. The name of the characters on this blog is not real anymore (Except my own character), I change it due to avoid some feuds, lawsuits, or even dead threats to me, my cats, and my dogs.
  3. I dramatize and exaggerate some parts in order to make a good story with a good punchline so that you can laugh your ass off and say “Hey this blog is funny! I love it!”
  4. I write this blog mostly on Friday night and Saturday night. Why? because that’s what forever alone dude do.
Advertisements
Posted in: Esai