#hidupiniseperti Monique Alexander

Posted on February 23, 2013

2


Pria cenderung hanya memiliki satu tipikal wanita favorite sepanjang hidupnya. Yup, hanya satu. tidak lebih dan tidak kurang. Sebagian besar wanita mungkin tidak tahu akan hal ini, dan sebagian besar lainnya mungkin tidak percaya dengan premis ini, dan sebagian lainnya – Banyak ya bagiannya? – mungkin membalas postingan gue dengan nada tinggi seperti: “Heh! kalau cuman satu tipe wanita doang, kenapa tuh banyak pria yang dijulukin penjahat kelamin, Playboy, playmate, di luar sana?” dan kemudian muka gue diludahin oleh banyak wanita.

Teorinya seperti ini: Setiap pria memiliki tipe wanita kesukaan layaknya mereka memiliki tipe mobil kesukaan, tipe sepatu kesukaan, tipe motor kesukaan atau tipe olahraga kesukaan. Hal ini bukan untuk “membendakan” wanita semata-mata, But this is a nature of men, nothing wrong with this, and I’m sure this psychological condition exactly applied the same to women, we all are a human. We all have a preferences in everything, even with a glass of drink.

Ketika pria memiliki wanita dengan tipe Z, ia merasa harus berjuang untuk menemukan seorang wanita dengan tipe Z di dunianya, bagaimana bila tidak ada? well at least yang paling mendekati dengan tipe Z, semakin mendekati dengan tipe Z maka semakin besar pula kans pria untuk jatuh cinta pertamakalinya.

Ketika sang pria berhasil mendapatkan wanita tipe Z, maka ia akan menjadi pria yang beruntung nomor 2 versi on the spot setelah Bill gates, ia akan menjalani kehidupan romansa rasa this-world-belongs-to-us-eat-shit-with everyone, namun bukan cerita romansa namanya bila tidak dimulai dengan perjumpaan kemudian diakhiri dengan perpisahan. Maka ketika waktunya tiba untuk memudar maka hubungan romantisme mereka perlahan mulai merenggang dan putus. Ini siklus yang normal dalam dunia romansa,  lagi pula tanpa siklus seperti ini maka tidak akan ada royalti bagi penyanyi-penyanyi pop di luar sana.

Nah inti dari premis gue di atas baru bisa gue jelaskan disini, ketika sang pria sudah putus dengan wanita tipe Z maka secara insting ia akan mencari lagi pengganti wanita lain yang menyerupai  tipe wanita Z. Lalu bagaimana bila tidak ada yang setipe? Seperti yang gue tulis di atas, well at least yang mendekati dengan tipe Z, semakin mendekati dengan tipe Z maka semakin besar kans sang pria untuk jatuh cinta keduakalinya. this is purely how we as a men react naturally and intuitively

Dan cerita di bawah adalah cerita tentang Monique Alexander.

Monique Alexander adalah perempuan yang biasa, memiliki wajah yang biasa, prestasi yang biasa, cara berdandan yang biasa, cara berbicara yang biasa, dan segala hal yang memang serba biasa. Setidaknya itu yang ada pada kacamata gue, namun anggapan itu bisa jauh berbeda bila dilihat dari kacamata Roni, teman sebangku gue.

Bagi Roni, Monique Alexander adalah the center of the universe.

“Gue suka loh sama cewek yang menggunakan behel (kawat gigi) .” Ucap Roni

“Heemmm..” Balas gue sembari memainkan playstation 1 di kamar Roni.

“Cewek tuh kalau pakai behel kayanya seksi aja gitu.”

“Heemmmm..”

“Eh, Den, dengerin donk kalau gue lagi ngomong!”

“Iya sori, ini gue lagi pusing baca walkthrough game.”

“Menurut lo gimana soal Monique Alexander?”

“Hah? Monique!?”

“Iya Monique! lah kan dari tadi gue bicara tentang Monique sampai bibir gue mencang-mencong masak lo gak denger sih nyet?”

“Hooh, sori.”

“Maksud lo Monique yang rambutnya kepang dua itu?”

“Iya.”

“Yang pake behel itu?”

“Iya.”

“Yang ketawanya aneh gitu bukan?”

“Maksud lo aneh?”

“Yang kalau ketawa mirip kuda gitu bukan?”

“Iya!! iya! bener! banget!!”

Hening.

*Plak*

Entah darimana datangnya, tiba-tiba komik candy-candy mendarat dengan keras pada bagian belakang kepala gue. Sepertinya Roni tersinggung berat hingga dia berani melempar komik kesayangannya.

Di kelas gue bisa melihat kedua mata Roni selalu tertumbuk pada Monique Alexander, di kantin bila kita sedang makan kedua mata Roni juga terpaku oleh gerak-gerik Monique Alexander, semua gerak-gerik Monique Alexander yang serba biasa bagi gue selalu terlihat luar biasa di kedua mata Roni.

Bahkan ketika Monique Alexander sedang berjalan keluar dari kelas selepas jam pelajaran usai, adegan biasa seperti ini dapat diterjemahkan oleh kedua mata Roni menjadi: Monique Alexander terlihat bersinar, ia memiliki kedua sayap malaikat yang putih kemilauan, sedang berjalan mendekat ke pintu keluar dengan gerakan slow-motion, Monique Alexander membuka knop pintu lagi-lagi dengan gerakan slow-motion, Monique Alexander melempar senyum kepada teman-temannya serta berkata “Sampai ketemu besok ya” masih dengan gerakan slow-motion.

Siang itu gue seperti biasa main ke Rumah Roni sehabis pulang sekolah untuk memainkan Playstation miliknya keseribu kian kali.

“Ron, makin lama kalau gue liat kayanya gejala jatuh cinta elu makin akut deh.” Ujar gue masih asyik memainkan game RPG syphon filter yang cukup terkenal kala itu.

“Hah? Yang bener lu? masak sih?”

“Iya”

“Emang keliatan banget gue ya?”

“Iya” Kata gue menambah anggukan kepala untuk meyakinkannya.

“Liat ini deh Den”

“Hah? Apaan tuh, bentar ye, lagi asyik main nih.”

“Pause aja dulu tuh game bentaran nyet.”

“Ok-ok-ok”

“Ini puisi yang gue tulis untuk Monique.” Roni memerlihatkan puluhan lembar kertas putih kucel penuh coretan yang dia ambil dari lemari pakaiannya.

“Banyak banget, jadi semenjak lo suka Monique Alexander lo nulis puisi?” Tanya gue menahan tawa.

“Iya.”

“Serius? Lo tulis puisi-puisi ini semenjak obrolan kita dua bulan yang lalu tentang betapa lo menyukai Monique Alexander?”

“Iya, semenjak itu gue jadi rajin nulis puisi di kelas dan di kamar setiap harinya”

Gue mencoba membaca salah satu pusi Roni yang berjudul Rose :

Rose

You like Rose, Red and beutiful,

Together can we be Rose.

Because yo beautiful.

Membacanya selama tiga detik kepala gue tiba-tiba pusing, pada detik keenam pandangan mata tiba-tiba kabur serta berair, sebelum gue tak sadarkan diri akhirnya pada detik kesepuluh gue memutuskan untuk berhenti membacanya. Jujur puisi ini mungkin lebih bagus bila Roni menulisnya bukan dalam bahasa inggris, tapi  bahasa namec.

“Mending lo tembak aja deh anaknya Ron.”

“Hah serius lo!”

“Ya serius donk, daripada elu buat puisi capek-capek tentang betapa cinta matinya elu ama dia tapi pada kenyataannya dia sama sekali gak tahu kalau elu suka sama dia buat apa?

“Hemm..begitu ya? jadi gimana donk caranya?”

“Okay, begini deh, elu gak usah nembak dulu kalau gue bilang”

“Lalu?”

“Tapi elu harus bisa membuat kesan kalau elu memang suka sama dia, elu perhatian sama dia, dan elu sayang banget sama dia!” Ujar gue berapi-api seperti motivator sesat.

“Boleh juga, caranya?”

“Begini, elu harus sering-sering telepon dia, cukup sekadar tanya ada PR gak? ada ulangan gak? atau boleh minjem catatan gak untuk dibawa pulang?”

“Tapi gue belum tau nomornya Monique.”

“Ya cari tahulah.”

“Gue minta tolong lo aja yang tanyain ya Den.”

“Ye, gak bisa gitu donk bencong! justru ini adalah awal anak tangga yang elu harus pijak sendiri.”

“Jadi gue mesti tanya nomornya sendiri gitu?”

“Betul sekali” Ucap gue sembari menatap mata Roni tajam-tajam dan memegang bahunya.

Kita pun lalu berpelukan.

Adegan ini bila dilihat dari jauh membuat kita seperti sepasang Telletubbies yang sedang jatuh cinta, sementara bila dilihat dari dekat kita tampak seperti sepasang homo yang sedang jatuh cinta.

12 Tahun kemudian di sebuah restoran Jepang yang penuh hidangan nugget.

Kita berdua tertawa terbahak-bahak hingga satu dua pengunjung lain menatap sinis ke arah kita, menyadari hal itu gue langsung mengecilkan volume suara dan berusaha menghabiskan beef teriyaki yang semakin dingin di hadapan gue, sementara Roni akibat tertawa terlalu keras mengeluarkan air mata dan berusaha menenangkan dirinya dengan mereguk Milo chocolate.

Banyak yang kita bicarakan di restoran jepang yang penuh hidangan nugget itu, terutama masa-masa SMP kita, guru-guru SMP kita yang komedik dan yang killer, teman-teman kita yang nerd dan yang popular, semuanya kita bahas habis selama dua jam pertemuan di sebuah restoran jepang malam itu.

“Jadi bagaimana kabar Monique Alexander” tanya gue seraya menghabiskan satu gigitan beef teriyaki.

“Gue gak tahu.”

“Oh, lo gak tahu?”

“Iya.”

Ada keheningan sesaat.

“Lu sendiri tau kabarnya dia?” Tanya Roni balik ke gue.

“Nope.”

Gue masih duduk termenung di sebuah restoran jepang yang penuh dengan nugget, Roni sudah pamit semenjak 15 menit yang lalu untuk menjenguk ibunya di Rumah sakit. Gue sendiri bertanya-tanya dalam hati tentang bagaimana kabarnya Monique Alexander sekarang, 12 tahun sudah waktu berlalu, apakah dia masih terlihat biasa-biasa saja? masihkah rambutnya dikepang dua? mengenakan behel? tertawa seperti kuda?

Roni memang sempat mendapatkan hati Monique Alexander 12 tahun yang lalu, bahkan Roni sempat menunjukkan puisi payahnya yang berjudul Rose kepada Monique, dan Monique menyukainya. Mereka pasangan yang serasi dalam 3 bulan pertama, Sayang pekerjaan Ayahnya memaksa Monique dan sekeluarga untuk pindah dan menetap ke Bandung. Hubungan merekapun tidak ada perkembangan dan akhirnya memudar begitu saja.

Tangan gue memegang sebuah undangan pernikahan yang baru saja diberikan Roni, Yah kita memang janjian untuk bertemu di restoran jepang yang penuh hidangan nugget ini selain untuk bernostalgia dengan masa-masa SMP kita juga karena Roni ingin memberikan undangan pernikahannya dengan seorang wanita bernama Sylvi ke gue.

Gue membuka undangan pernikahan itu dan melihat foto kedua pasangan, Roni seperti biasa. tidak banyak yang berubah dari dirinya 12 tahun yang lalu, hanya saja kini dia lebih tinggi, dan memakai kacamata. Sementara mempelai wanita. Well gue belum pernah bertemu dengannya. Roni bilang ia berkenalan dengan wanita ini di tempat kerjanya terdahulu. Sejenak gue memperhatikan senyum mempelai wanita di photo undangan, ia mengenakan behel, gue meminjam pulpen kepada mbak-mbak pramusaji restoran jepang yang penuh hidangan nugget ini, dan menggambar rambut kepang dua kepada photo mempelai wanita, dan hasil photo mempelai wanita kini berubah menjadi sosok wanita rambut berkepang dua, sedang tersenyum memerlihatkan behelnya. Cukup mengingatkan gue pada sosok Monique Alexander.

Something that you need to know about this blog:

  1. I write this blog based on my true experiences
  2. The name of the characters on this blog is not real anymore (Except my own character), I change it due to avoid some feuds, lawsuits, or even dead threats to me, my cats, and my dogs.
  3. I dramatize and exaggerate some parts in order to make a good story with a good punchline so that you can laugh your ass off and say “Hey this blog is funny! I love it!”
  4. I write this blog mostly on Friday night and Saturday night. Why? because that’s what forever alone dude do.
Advertisements
Posted in: Esai