#hidupiniseperti Twilight.

Posted on May 3, 2013

3


“You know what?  Sometimes I wish I were a vampire.” Kata Gerald sembari memantik rokoknya.

Dari gayanya berbicara bahasa inggris sepertinya sudah mulai terlihat ada sedikit kemajuan, ternyata hasil les bahasa Inggris selama enam bulan di sebuah ruko kecil perkomplekan tidak sia-sia dijalani oleh Gerald.

“I think it’s cool if I be Edward cullen, his handsome”

Ternyata masih belum pintar juga.

“You know what Den?”

“Udah cumi ngomong bahasa inggrisnya!” Bentak gue

“Ya elah, Kenapa sih bro?”

“Gak napa-napa, cuma gak ada kerennya juga sih lo ngomong bahasa inggris, Muka kaya Wesley Snipes tapi gaya ngomong kaya Cinta laura, Gak pantes aja.”

“Ngehek lu”

Namanya Geraldus Ameiterapoka, nama terakhirnya memang agak susah diucap dan sebagian dari kita banyak yang menggantinya dengan kata tepung tapioka karena lebih mudah diucapkan.

Lebih dikenal dengan sebutan Gerald. Merupakan teman baik gue, keturunan papua, rambutnya keriting-keriting kecil gitu serta berkulit hitam manis (Bila ditaburi gula), dan sedang melakukan pendekatan dengan seorang perempuan yang masuk dalam jajaran die hard twilight fans.

Cerita ini bermula ketika gue mengajak Gerald memutuskan untuk menonton film twilight: Eclipse berduaan di satu malam minggu. Sebuah keputusan yang akan gue sesali seumur hidup nantinya dan ketika gue berusia delapan puluh tahun pada 2073 mendatang, gue akan menceritakan hal ini kepada anak cucu gue supaya mereka tidak mengulangi kesalahan seperti kakeknya: jangan memilih teman cowok untuk menonton film romantis di bioskop.

Lobi teater terlihat penuh dengan para pemuda-pemudi Indonesia yang membawa mesra pasangannya sambil berjalan masuk ke dalam studio, sementara gue yang lagi bersama dengan Gerald terlihat seperti sedang membawa patung asmat masuk ke dalam studio.

Cerita ini bukan tentang gue dan Gerald yang pada akhirnya jatuh cinta selepas menonton Twilight: Eclipse, tapi tentang Gerald yang memiliki kesempatan untuk berkenalan dengan gadis penjaga pintu bioskop (di luar negeri sana dikenal dengan istilah usher theatre kalau gak salah) yang kebetulan sedang menjaga studio tiga tempat kita menonton.

Namanya Tara, setidaknya itu yang gue baca dari name-tag yang tersemat pada seragam hitamnya, Tara memiliki wajah manis. Kedua belah pipinya dihiasi lesung pipit, dan Ketika dia melempar senyum sambil mempersilahkan kita masuk, gue dan Gerald langsung meleleh.

Satu lesung pipit pada pipi perempuan saja beresiko membuat  pria menjadi sulit tidur semalaman tapi Tuhan malah memberikan dua lesung pipit dikedua belah pipi Tara. Keterlaluan gak sih?

Perkenalan Gerald dengan Tara bisa dikatakan cukup unik, karena saat itu gue bersama Gerald kedapatan tempat duduk pada baris ketiga dari depan layar bioskop, sampai saat ini gue bersyukur karena kedua mata ini tidak jereng permanen akibat dari leher yang mendongak terlalu atas karena posisi layar teater yang menjulang tinggi di hadapan kita.

Posisi tempat duduk gue berada paling kiri, berbatasan dengan aisle / gang yang menjadi tempat jalan pintu awal masuk studio. Tara duduk di seberang kiri gue – duduk di aisle menggunakan kursi terpisah – sementara Gerald duduk di sebelah kanan gue.

Selang beberapa menit Gerald mengguncangkan bahu gue, meminta untuk bertukar posisi tempat duduk, Gue duduk di tempat duduknya dan ia duduk di tempat duduk gue. Tentu hal ini ia lakukan semata guna mengambil posisi yang lebih dekat dengan Tara.

“Cuy, tukeran tempat duduk donk.” Bisik Gerald ke telinga gue.

“Buat apaan?” Bisik gue ke telinga Gerald.

“Ada yang mau gue tanya nih ke mbak-mbak penjaga bioskopnya.” Bisik Gerald kembali ke telinga gue.

“Emang lo mau nanya apaan? entar aja pas film selesai sih.” Balas gue membisiki telinga Gerald.

“Yah pokoknya ada deh yang mau gue tanya sekarang?” Gerald kembali membisiki gue.

“Mau nanya nomernya lo ya? gue juga minta donk.” Tawar gue sambil berbisik kembali ke telinga Gerald.

“Iya gampang ah, cepetan donk pindah.” Gerald kembali membisiki gue.

SSSSSTTTTTTTTT!!!!!

Tiba-tiba ada desisan yang cukup kencang yang berasal dari tempat duduk belakang kita, sepertinya salah satu penonton di belakang mulai merasa terusik dengan aksi saling berbisik antara gue dengan Gerald, takut dihakimi massa akhirnya gue mengalah dan menukar tempat duduk gue dengan Gerald.

Sepanjang film gue bisa mendengar Gerald mengobrol dengan Tara secara bisik-bisik, namun gue bisa menduga isi obrolan itu bakalan gak jauh dengan :

  1. Hi namaku Gerald, nama kamu siapa?
  2. Suka twilight juga ya? aku juga.
  3. Nomor kamu berapa? Boleh tahu?

Sepulang dari menonton bioskop gue dan Gerald menghabiskan waktu makan sore bersama di sebuah kedai KFC yang letaknya gak seberapa jauh dari tempat kita menonton tadi. Entah kenapa hari minggu ini gue merasa waktu gue dihabiskan lebih banyak untuk berduaan dengan Gerald ketimbang dengan Bruno anjing peliharaan gue. Mudah-mudahan sepulang dari mall ini kita tetap menjadi teman saja. gak jadian.

Gerald memamerkan layar Blackberrynya yang sedang memasang profile picture BBM Tara.

Gue  melihat Tara di photo itu sedang tersenyum, dan lesung pipit pada kedua pipinya kembali membuat gue dan Gerald meleleh.

“Liat nih Den, gue bisa dapetin PIN BB nya” Ucap Gerald dengan senyum yang  sumringah sekaligus menyeramkan.

“Anjrit! hebat juga lo Ger! By the way waktu dia ngasih Pin BB ini dia ngeliat muka lo gak sih?”

“Yah ngeliat donk.”

“Tapi kan gelap, kemungkinan dia samar-samar ngeliat muka lo deh kayanya.”

“Maksud lo apaan sih?”

“Ya, maksud gue mungkin kalau lo kenalan dengan Tara saat lampu bioskop menyala kayanya dia bakal mikir dua kali untuk ngasih nomor Pin BB nya deh, kecuali kalau lo udah hipnotis dia duluan.”

“Sialan, lo kira gue uya kuya apa?”

“Tapi yang pasti dia udah ngeliat sedikit bentuk mata lo, hidung lo, bibir lo gitu kan?”

“Pasti dia ngeliat lah, gelap-gelap begini kulit gue kan bukan berarti gak keliatan sama sekali di gedung bioskop nyet.”

“Syukurlah yang penting dia tahu kalau lo manusia.”

“Ya masak gue dikira jin penunggu gedung bioskop sih? jangan sampai nih sambal kena mata lo deh Den.”

“Mwahahahahahaha!”

Gerald boleh jadi senang, namun gue agak pesimis dengan kelanjutan ceritanya, karena gue berpikir pasti gak bakalan jauh dari skema seperti ini :

  1. Gerald pulang ke rumah dan masuk ke dalam kamar.
  2. Mengirimkan pesan BBM ke Tara.
  3. Tidak ada balasan.
  4. Gerald mencoba menghubungi Tara
  5. Tidak ada jawaban.
  6. Cinta ditolak.
  7. Gerald menulis puisi berjudul Aku binatang Jalang yang ditolak cintanya.

Namun nasib percintaan gerald hanyalah seburuk apa yang ada dalam pikiran gue semata, karena pada kenyataannya ia dan Tara menjadi semakin akrab dari hari ke hari melalui pesan singkat BBM, dan sialnya dari hari ke hari juga gue menjadi semakin jengkel karena setiap kali Tara membalas pesan BBM-nya maka Gerald langsung menelepon gue hanya untuk menceritakan kalau Tara baru saja membalas pesan BBM nya. Dari seberang telepon gue bisa mendengar suara Gerald yang gembira seperti baru mendapatkan uang sebesar lima ratus ribu rupiah persembahan dari kuis jari-jari

“Halo Den!!”

“Ya kenapa Ger?”

“Gila!! Pecah!! Pasti lo gak bakalan percaya nih!!”

“Hah? ada apaan?”

“Tara bales BBM gue loh!! Gue kirim BBM ke dia dengan kalimat ‘Hi Tara lagi ngapain?’ lalu dia bales gini ‘Hi juga, aku gak lagi ngapain-ngapain kok lagi di rumah aja.”

“Oooo…”

“Gila gue seneng banget Den!!”

“Mmmm…”

“Halo-halo Den? kok lo ngomongnya kaya orang ngantuk gitu sih?”

“Gimana gak ngantuk cumi, ini elu telepon gue sekarang jam satu pagi.”

“Hah? emang sekarang jam satu pagi ya?”

“Lo liat aja jam di layar blackberry yang lagi lo pake buat nelepon gue sekarang.”

“Oh iya bener!! Mwahahahaha sori deh!! Gue kira masih jam delapan malem!! namanya juga orang lagi jatuh cinta, maklumin donk, yo wess tidur sana.”

Setiap harinya gue menerima telepon dari Gerald, ia selalu menceritakan apa saja tentang obrolannya dengan Tara di BBM. Gerald selalu menceritakan semuanya dengan nada antusias dari hal yang gak penting sampai hal-yang-malesin-banget-gak-pentingnya. Seperti ini salah satunya: Tara membenci kecoak yang selalu menempel di tembok kamar mandinya.

“Ya kenapa gak dia pukul aja kecoaknya pakai sapu kek, pake sandal jepit kek, pake apa kek, kok ribet banget sih?” Jawab gue. Diseberang telepon Gerald menjawab “Hemm…nih yang kaya gini nih gak tahu perasaaan cewek pastinya, lo harus tahu Den, kalau perasaan cewek itu lima setengah kali lebih halus dari perasaan kebanyakan cowok normal dan tiga setengah kali lebih halus dari perasaan cowok yang kecewe-cewean.” Gerald mendeham sebentar lalu kemudian menjelaskan penjelasannya ” kalau cowok ngeliat kecoak nempel di tembok kamar mandi mungkin dia bisa langsung memukul kecoak dengan sapu sampai mati lalu langsung mandi seolah-olah gak terjadi apa-apa, sementara cewek gak bisa melakukan itu Den, cewek itu makhluk yang gak tegaan, lo harus pahami itu.”

“Jadi tuh kecoak diapain dong sama dia?” tanya gue yang sudah mulai terdengar seperti orang gila karena membahas kecoak pada jam dua pagi dengan Gerald di telepon.

“Itu kecoak akhirnya diusir sama Tara keluar.”

“Gak dibunuh?”

“Ya enggak lah, sebagai cewek yang lembut hati dan gak tegaan Tara hanya mengusir kecoak itu dari kamar mandi dan memberikannya nama Heru.”

“Hah, kenapa malah dinamain segala sama si Tara? pakai nama Heru segala lagi!” Sahut gue dengan nada protes. Karena gue lebih menyukai nama Herman.

“Heru itu nama mantannnya, Tara membenci mantannya seperti ia membenci kecoak yang menempel pada tembok kamar mandinya, dan menurut Tara kecoak itu punya kesamaan dengan si Heru, dan jadilah dinamakan kecoak itu dengan nama Heru.”

“E-emang kesamaannya apaan?”

“Bau badan Heru dengan bau kecoak hampir sama.”

Gue pun menekan tombol end call pada layar smartphone karena merasa perlunya mengakhiri pembicaraan tentang kecoak pada pukul dua dini hari dan kembali tidur.

Smartphone gue bergetar, layar menunjukkan GERALD IS CALLING, gue memutuskan untuk tidak mengangkatnya karena gue tahu apa yang akan terjadi setelah gue menekan tombol answer berwarna hijau itu. Gerald akan bercerita tentang Tara membenci kecoak, tentang Tara membenci roti isi strawberry tapi menyukai roti isi cokelat, tentang Tara menyukai twilight, tentang Tara menyukai bla-bla-bla-bla dan tentang Tara membenci bla-bla-bla-bla. Enough is enough kata gue dalam hati.

Selang dua menit kemudian layar notifikasi SMS muncul pada smartphone. Gue membacanya pelan. Den, Sori kalo ganggu, gue cuman mau ngasih tau aja kalau malam ini gue mau jalan dengan Tara. Wish me luck ya!  Gue pun berpikir betapa beruntungnya si Gerald, dengan wajah yang lebih tampan sedikit dari kiwil akhirnya bisa memikat seorang perempuan ayu berlesung pipit dua bernama Tara.

Mungkin seharusnya gue bisa menjadi teman pendengar yang baik Gerald selama dia sedang melakukan pendekatan dengan Tara, karena gue tahu banget kalau Gerald saat ini memang benar-benar sedang jatuh cinta dengan Tara. Ini bukan jatuh cinta biasa. Ini jatuh cinta seperti jatuh terjerembab dan kelindas bajaj.

Selang sebulan kemudian dari misi pendekatannya dengan Tara, akhirnya Gerald resmi mengumumkan ke gue kalau dirinya dengan Tara sudah jadian. Kini mereka resmi berpacaran. Tentu saja awalnya gue kaget setengah mati, bagai kisah beauty and the beast pada akhirnya teman gue bernama Geraldus Ameiterapoka dengan wajah yang minimalis bisa mendapatkan Tara yang begitu manis. Kisah Gerald mungkin bisa dibukukan menjadi novel motivasi agar para jomblo-jomblo yang merasa dirinya bertampan minimalis tidak langsung berkecil hati, karena dimana ada kemauan disitu ada jalan dan Gerald adalah bukti nyata.

Tiga bulan kemudian.

Gerald sedang menangis di hadapan gue. Suara tangisannya cukup keras hingga mbak-mbak di belakang kita sempat memicingkan kedua matanya ke arah kita, mungkin ia sedang berusaha mencari tahu bagaimana bisa suara tangisan babi ngepet terdengar hingga restoran KFC.

Gerald sedang patah hati. Tara baru saja memutuskannya dengan alasan yang sedikit terdengar aneh mungkin, Tara telah menaruh hati kepada seorang pria salah satu pengunjung bioskop bernama Edward.

“Dia ninggalin gue demi Edward Den!”

“Kenapa bisa?”

“Karena namanya Edward Den!”

“Maksud lo?”

“Edward itu kan nama Tokoh Vampire di Twilight yang diperankan Robert pattinson.”

“Astaga, karena itu doang? Serius lo?”

“Iya Den, dia tuh ngefans banget sama Edward, emang sih waktu kita jadian yang diomongin selalu gak jauh-jauh dari yang namanya Edward Cullen.”

Gerald patah hati, Tara perempuan idamannya telah meninggalkannya demi seorang pria yang memiliki nama sama dengan tokoh vampire bermake up tebal dari Twilight.

Gue mengambil smartphone gue, menatap layarnya, ternyata tidak ada panggilan dari Gerald, tidak ada lagi suara Gerald di seberang yang menceritakan tentang segala kesukaan Tara, tentang kecoak yang diberi nama Heru, tentang Tara yang membenci roti rasa strawberry namun menyukai rasa cokelat.

  1. I write this blog based on my true experiences
  2. The name of the characters on this blog is not real anymore (Except my own character), I change it due to avoid some feuds, lawsuits, or even dead threats to me, my cats, and my dogs.
  3. I dramatize and exaggerate some parts in order to make a good story with a good punchline so that you can laugh your ass off and say “Hey this blog is funny! I love it!”
  4. I write this blog mostly on Friday night and Saturday night. Why? because that’s what forever alone dude do.
Advertisements
Posted in: Esai