#hidupiniseperti Restoran Mcdonald dan Pria Tua.

Posted on January 31, 2014

1


Mcdonald Buaran. (Lupa kapan, tapi sekitaran Desember 2013)

Di siang hari yang cukup terik, gue sedang dalam antrian untuk memesan menu andalan gue, yaitu Panas special. yang terdiri dari satu potong ayam, telur, dan minum ukuran medium.

Merasakan rasa lapar yang sudah semakin menggila dalam perut maka gue semakin tidak sabar untuk sampai di depan meja kasir guna memesan makanan secepat mungkin. Namun sial, di depan gue terlihat sesosok pria tua yang sedang memesan burger dengan gerakan yang amat teramat lambat seperti adegan film mission impossible dalam gerakan slow-motion.

Si pria tua berumur kisaran delapan puluh tahunan lebih, setidaknya itu yang ada dalam pikiran gue setelah melihat kondisi rambutnya yang tampak menipis, dan pada bagian yang masih berambut sudah tersapu dengan warna putih semua, kulit yang tampak mengendur dan mengeriput, kondisi badan yang sudah membungkuk, dan intonasi nada yang terdengar amat sangat parau. Melihat itu semua lantas gue berpikir.

Menjadi tua adalah nasib sial bagi manusia.

“Selamat siang, bisa dibantu pesanannya pak?”

“S~sa~ya i~n~gin m~e~s~an B~u~r~g~e~r i~tu.” Tunjuk si pria tua kepada papan menu yang menggantung di atas.

“Baik pak, mau ditambah minumannya?”

“G~a~k ~u~s~a~h”

“Okay semuanya dua puluh dua ribu rupiah.”

“G~a~k, di~s~i~tu di~tu~lis~nya dua p~uluh r~ibu, ke~napa ja~di dua pu~luh du~a ribu?”

“Soalnya ada pajaknya bapak.”

“K~ala~u gi~tu sa~ya pi~lih ya~ng eng~gak pa~kai p~aja~k”

“Maaf pak, semua makanan dan minuman di sini dikenakan pajak.”

“Ta~pi sa~ya ga~k ma~u pak~ pa~jak.”

Gue bisa melihat keinginan sang pelayan untuk menyiram tepung ke seluruh bagian tubuh si pria tua, memukulnya hingga pingsan, menyeretnya ke dapur, lalu kemudian menggorengnya di belakang, lima belas menit kemudian menghidangkannya dengan nama menu chicken-old-bastard.

Menjadi tua, gue gak bisa bayangkan bagaimana diri gue saat berumur delapan puluh tahun nanti? Seperti apa rasanya ketika harus membawa badan yang sudah terasa ringkih, seperti apa rasanya ketika buang air besar menjadi sesuatu hal yang paling sulit untuk dilakukan, ketika buang air kecil tidak lagi lancar, ketika gue tidak lagi memikirkan dengan yang namanya cita-cita, impian, dan hasrat karena kesemua itu sudah lewat masanya dan percayalah ketika kita berumur delapan puluh tahun maka bukan mobil, rumah, dan harta yang kita pikirkan tapi bagaimana buang air kencing agar tidak belepotan.

Lantas apa yang gue lakukan ketika sudah mencapai usia delapan puluh tahun? Hemmm…Entahlah, yang pasti umur delapan puluh tahun adalah usia dimana hal-hal kecil yang mudah gue lakukan saat muda dulu kini berubah menjadi hal yang sangat sulit atau bahkan tidak mungkin untuk dilakukan:

Pergi ke toilet tanpa harus terpleset-lalu-kepala-kejedot-bathtub-dan-meninggal merupakan sebuah prestasi.

Buang air kecil dengan daya pancar lebih dari lima sentimeter tanpa mengejan merupakan sebuah prestasi.

Jalan santai pagi hari di sekitaran komplek tanpa harus  tertabrak truk sampah lalu meninggal merupakan sebuah prestasi.

Mengikuti senam manula tanpa harus terkena serangan jantung lalu jatuh meninggal juga merupakan sebuah prestasi.

Masturbasi seminggu dua kali juga sudah merupakan sebuah prestasi yang luar biasa.

Namun biar begitu menjadi tua adalah sesuatu yang menarik bagi gue, menjadi tua adalah sesuatu yang unik, menjadi tua adalah sesuatu yang gue cemasi namun juga menjadi sesuatu yang gue tunggu-tunggu. Gue tidak sabar untuk mencapai umur enam puluh tahun, lalu tujuh puluh tahun, lalu delapan puluh tahun.

Menjadi tua bagi gue adalah fase dimana saat kita sebagai manusia bisa menjadi manusia dalam pengertian seutuhnya. Menjadi tua tidak lagi menuntut kita untuk bangun pagi-pagi buta, bermacet-macet ria dalam tol kota, duduk dalam kubikel mini, menyiapkan laporan, menyampaikan laporan, dimarahi atasan, berjanji untuk memperbaiki laporan, pulang membawa pekerjaan, kembali bermacet-macetan ria dalam tol kota, tiba di rumah untuk istirahat, esok paginya kembali mengulangi rutinitas yang sama.

Menjadi tua bagi gue berarti bisa bangun pagi-pagi tanpa terburu-buru, karena gue masih memiliki waktu lebih lama untuk menatap wajah istri yang masih terlelap, masih bermimpi, masih mendengkur seperti anak kucing. Lalu gue akan pergi ke dapur untuk membuat dua cangkir teh hangat, membangunkan istri yang masih terlelap untuk menikmati teh bersama dengannya, kita akan mengobrol di depan teras, sesekali mengenang masa-masa muda, kita akan tersenyum, meringis, lalu tertawa dengan keras hingga terbatuk-batuk.

Menjadi tua berarti gue tidak lagi harus pulang larut malam dari pekerjaan, sebagai gantinya gue bisa membaca buku-buku favorit gue pada sore hari, ditemani anjing peliharaan gue, malamnya gue tidak lagi dikejar-kejar deadline untuk membuat laporan yang akan digunakan untuk meeting besok pagi, sebaliknya gue akan membuat postingan baru di blog sembari mendengarkan musik klasik, gue akan ngeblog tentang bagaimana waktu dulu gue masih muda tidak sabaran untuk menjadi tua.

 

Something that you need to know about this blog:

  1. I write this blog based on my true experiences
  2. The name of the characters on this blog is not real anymore (Except my own character), I change it due to avoid some feuds, lawsuits, or even dead threats to me, my cats, and my dogs.
  3. I dramatize and exaggerate some parts in order to make a good story with a good punchline so that you can laugh your ass off and say “Hey this blog is funny! I love it!”
  4. I write this blog mostly on Friday night and Saturday night. Why? because that’s what forever alone dude do.
Advertisements
Posted in: Esai