#hidupiniseperti Friendzone.

Posted on April 7, 2014

5


Friendzone atau lebih dikenal dengan zona teman adalah status yang diberikan oleh perempuan terhadap lelaki yang ngarep dijadikan pacar. Sudah nonton bareng, sudah dinner bareng, sudah manja-manjaan lewat telepon, SMS, BBM, selalu ingetin jangan lupa makan siang, sudah anterin dia ke mall, sudah bantuin bawaan belanjaannya, tapi ternyata selama ini lo hanya dianggap sebagai teman biasa.

Krik-krik-krik-krik

Postingan ini membahas pengalaman gue dua kali kena Friendzone. kampret banget emang.

Krik-krik-krik-krik 

Tapi ya sudahlah, namanya juga cerita cinta. Postingan ini mengambil latar belakang kota Depok. Terutama Depok Town Square dan Margonda city.

Depok Town Square, Detos (Tahun 2008)

Ini cerita pertama.

Ini cerita tentang Rembulan, tepatnya tentang perempuan yang gue namakan sebagai Rembulan di postingan ini.

Gue sedang duduk di 21 Theatre menunggu Transformer 1 tampil di layar, di samping gue duduk seorang perempuan bernama Rembulan, teman kuliah, sedang galau karena baru saja putus dari cowoknya. Sementara di sampingnya duduk gue, seorang lelaki berkacamata bernama Deni, teman kuliahnya, sedang galau karena baru saja putus dari ceweknya.

Dua orang galau sedang menonton bareng.

Dua orang galau sedang patah hati.

Rembulan bukanlah tipikal perempuan yang cantik, bukan maksud untuk menganggapnya jelek, kalau dianalogikan mungkin seperti ini: Rembulan bukanlah tipe perempuan yang tidak secantik Luna Maya namun juga tidak sejelek Ivan Gunawan.

Singkat kata biasa saja.

Ia memiliki kulit sawo matang yang cenderung agak kehitaman tipikal cewek Jawa, dan memiliki jerawat di sekitaran kening dan bagian dagunya, yang mana bila iritasinya sedang kambuh maka Jerawat-jerawatnya terlihat membesar dan memerah.

Namun di balik penampilannya yang serba biasa Rembulan ternyata memiliki pesona yang luar biasa untuk menarik hati para lelaki. Buktinya seminggu setelah putus dengan cowoknya ada banyak cowok lain yang rela mengantri dalam antrian waiting list untuk melakukan pendekatan dengan dirinya.

Gue mengetahui hal ini karena seminggu setelah putus dengan cowoknya, Rembulan bercerita tentang satu cowok teman kampusnya yang tiba-tiba meneleponnya dan mengajaknya jalan bareng untuk sekadar dinner, seminggu kemudian ia bercerita lagi tentang cowok teman satu kelas les bahasa perancisnya yang tiba-tiba menjemputnya di hari Minggu pagi untuk mengajaknya pergi ke dufan bareng.

Hal ini jauh berbeda dengan gue, seminggu setelah putus dengan pacar, gue bercerita ke dia tentang keinginan gue untuk mengakhiri hidup dengan mengunci diri dalam kamar dan menenggak sepuluh okky jelly drink rasa jeruk tanpa henti sampai mabuk.

Sebagian besar cowok mungkin pernah mengalami apa yang disebut dengan Jatuh cinta pada pandangan pertama, namun tak sedikit juga yang mengalami jatuh cinta karena ribuan tatapan, karena sering ketemuan, karena sering ngobrol bareng, karena sering tertawa bareng, dan hal ini membuat segala sesuatu yang tadinya kita anggap biasa kini perlahan-lahan menjadi sesuatu hal yang istimewa.

Bila awalnya gue menganggap ketawa cekikik Rembulan sebagai sesuatu yang mengganggu telinga, kini setiap kali mendengar tawa kikiknya entah kenapa gue merasa itu sebagai sesuatu yang imut dan lucu. ketika dia menyibakkan rambutnya di hadapan gue awalnya gue lihat itu sebagai sesuatu yang biasa, kini tiap kali Rembulan melakukan hal yang sama gue melihat hal itu sebagai sesuatu yang seksi, mungkin ketika Rembulan kentut di depan muka gue bila awalnya gue merasakan aroma bau bangke kiniyang ada hanyalah aroma wangi daun pandan.

Ya, begitulah cinta.

Singkat kata gue jatuh cinta dengan Rembulan. Berada dalam waiting list bersama cowok-cowok lain yang berusaha mendapati hatinya.

Sialnya nasib pria-pria yang berusaha mendekatinya ternyata hanya dianggap sebagai teman biasa oleh Rembulan. tidak lebih dan tidak kurang.

Mereka masuk friendzoned

Termasuk gue.

 

Di sore hari gue menelepon Rembulan di bawah AC kamar untuk menambah efek dingin. Gue ungkapkan perasaan gue ke Rembulan lewat telepon tanpa basa-basi.

“Halo Rembulan.”

“Ini gue Deni.”

“Oh ya, kenapa Den?”

“Lo lagi dimana?”

“Ini gue lagi di Detos.”

“Ada yang mau gue omongin ke lo.”

“Oh ya? apaan?”

“Gue suka lo?”

“Hah? Suka gue?”

“Sejak kapan sih Den…”

“Sejak kita nonton Transformers.”

“Oh serius! kok bisa sih?”

“Gimana?”

“Gimana apanya?”

“Mau gak jadi cewek gue?”

“Hah? cewek lo? aduh ini apaan sih? gue gak ngerti deh.”

“Gue suka sama lo.”

“Suka?”

“Iya suka?”

“Jadi ini ceritanya lo nembak gue?”

“Iya.”

“Lewat telepon gitu?”

“Iya.”

“Jangan bilang ini sejenis acara-acara tembak-menembak yang di broadcast langsung lewat radio or reality show gitu deh. gue gak suka yang kaya begituan.”

“Gak Rembulan. ini gue telepon langsung dari kamar gue.”

“Gak ada request ke  radio untuk di broadcast kan?”

“Gak ada kok, hanya gue di dalam kamar. sendirian. ada anjing gue juga sih.”

“Ohh..syukurlah.”

“Jadi gimana?”

“Jadi apanya?”

“Lo mau gak jadi cewek gue?”

“Tapi gue hanya anggap lo sebagai teman biasa.”

“Tapi kan kita udah nonton bareng, makan bareng.”

“Ya terus?”

“Terus…..”

“Itu kan wajar Deni…sebagai teman kayanya hal kaya gitu biasa aja deh.”

 Krik-Krik-Krik

“Tapi kan gue udah bawain belanjaan lo kalau kita ke mall.”

“Terus karena lo bawain belanjaan gue ke mall masa iya gue harus jadi pacar lo Den? Ya itu juga wajar kali…sebagai teman kayanya hal kaya gitu biasa aja deh.”

 Krik-Krik-Krik

Gue menutup telepon dengan kesal. Kecewa. Sakit hati. Putus asa. Semuanya bercampur aduk dalam diri gue. Gue masuk ke dalam kamar dengan langkah gontai, merebahkan badan di atas tempat tidur lalu gue menangis.

Menangis terisak-isak.

Seperti banci yang habis kena tampar.

Mencoba mengurangi volume suara tangisan agar gak terdengar sampai keluar kamar, maka gue mencoba menutupi muka gue dengan majalah bobo milik adek gue.

Tiba-tiba mama gue membuka pintu kamar, mendapati anak laki-lakinya sedang menangis dengan posisi tidur terlentang dengan majalah bobo yang menutupi wajah.

“Kenapa kamu nangis?”

“Ini cerita Bona dan Rong-rong sedih. Hwaaaaaaaa…..hwaaaaaaaaaaa….”

Margo city (Tahun 2010)

Ini cerita kedua.

Gue dikenali oleh teman kantor dengan cewek yang gue namakan sebagai Mentari di postingan ini. Mentari adalah tipikal cewek karir yang sangat workaholic, dia selalu datang ke kantor paling pagi dan pulang paling malam untuk mengikuti meeting, beda halnya dengan gue yang selalu pergi telat tapi pulangnya paling tenggo dan mengharapkan naik gaji pula.

Suatu sore di hari Sabtu gue janjian untuk menjemput Mentari di kantornya yang berada di bilangan Halim. Seperti biasa gue menjemputnya dengan motor. Tipikal kaum ekonomi menengah merosot adalah selalu menjemput gebetan dengan motor. Sepanjang perjalanan gue berdoa agar Mentari bukan tipikal perempuan yang harus naik mobil untuk nge-date. Kalaupun dia tipikal perempuan yang harus naik mobil maka murahkanlah hatinya agar mau diajak naik angkot, metromini atau patas. Amin ya Auloh.

Gue tiba di ruang resepsionis, dan mengatakan kalau gue ada janji temu dengan Mentari, sang resepsionis mempersilahkan gue duduk di sofa lobby yang nyaman, hati gue berdegup kencang seperti genderang yang mau perang kalau kata Ahmad dhani.

Dua puluh menit berlalu dan sosok wanita tinggi dan sintal mendekat ke arah gue, ia menjulurkan tangannya, mengajak gue bersalaman.

“Mentari.”

“Deni.”

“Udah lama nunggu?”

“Oh, gak kok cuman dua puluh menitan.”

“Itu lama deh kayanya menurut aku.”

“Oh, gak kok, bagi aku lama itu kalau tiga hari.”

Dia tersenyum kecil.

Gue tersenyum culun.

“Bisa aja kamu.”

Lalu kita pergi nonton ke Planet hollywood Jakarta. Dia memesankan dua iced tea untuk kita. Iced tea Yang mengakibatkan gue harus beberapa kali ijin ke toilet untuk buang air kecil. Seperti dengan Rembulan, gue bersama Mentari sepertinya menemukan chemistry yang cocok, kita saling bercanda, saling mengingatkan agar jangan lupa makan siang,  jangan lupa makan pakai nasi, dan jangan lupa habis makan langsung bayar.

Kita sudah beberapa kali jalan berdua bareng ke depok, dan kita terlihat enjoy saat menghabiskan waktu berdua,

Everything looks so perfect.

She likes my jokes

She likes they way I told her a story.

She likes me when I hold her hands.

Everything looks so fucking perfect.

Di sore hari yang temaram di depan Margo city, Seusai kita nonton dan dinner bareng gue  mencoba mengantarkan Mentari ke depan jalan raya guna menunggu angkot sementara itu gue terlihat sibukmemegang barang belanjaannya. kemudian seperti disambar petir di siang hari Mentari berkata kepada gue.

“Kayanya gue gak bisa lebih deket sama lo deh..”

“Hah?”

“Iya, kayanya kita gak bisa lebih dekat dari ini lagi.”

“Kenapa? bukannya kita enjoy bersama?”

“Maksud kamu apa sih deketin aku seperti ini?”

“Maksud aku?”

“Aku harap kamu deketin aku ya karena memang hanya mencari teman aja.”

“Aku lagi mencari pacar…”

“Hemm…begini Deni….aku memang belum punya pacar, tapi papaku berpesan agar aku bisa menikah dengan Togar.”

“Togar? Togar mantan kamu?

“Iya.”

“Tapi bukannya kalian sudah putus?”

“Iya, kita sudah putus, tapi menikah dengan togar adalah pesan papaku sebelum meninggal, dan aku gak mungkin ingkarin permintaan papaku.”

“Jadi…”

“Jadi kita temenan aja ya, kamu cowok baik kok, lucu, dan smart, mencari cewek pasti bukan hal yang sulit buat kamu Den.”

“Tapi..”

“Eh angkotnya udah dateng!”

“T-t-tapi.”

“Dadahhhhhh!”

Mentari meninggalkan gue dalam kondisi hampir mati berdiri. Mendadak gue lemas. Gue masih enggak percaya kalau hasil akhirnya akan seperti ini lagi. Kita yang saling becandaan, saling mengingatkan agar jangan lupa makan, saling pegangan tangan saat jalan bersama ternyata bagi dia kesemua itu bukan apa-apa. Enggak lebih dan kurang. Hanya Sebagai teman biasa.

Gue pulang ke rumah. berjalan gontai menuju kamar.

Lagi-lagi mengangis terisak-isak.

Seperti banci yang habis kena tampar.

Gue mengambil majalah bobo untuk gue taruh di atas muka gue dan seperti biasa mama gue kembali menggedor pintu kamar lalu masuk ke dalam dan bertanya

“Kamu kenapa?”

Gue menjawab dengan jawaban yang sama:

“Ini cerita Bona dan Rong-rong nya sedih”

Something that you need to know about this blog:

  1. I write this blog based on my true experiences
  2. The name of the characters on this blog is not real anymore (Except my own character), I change it due to avoid some feuds, lawsuits, or even dead threats to me, my cats, and my dogs.
  3. I dramatize and exaggerate some parts in order to make a good story with a good punchline so that you can laugh your ass off and say “Hey this blog is funny! I love it!”
  4. I write this blog mostly on Friday night and Saturday night. Why? because that’s what forever alone dude do.
Advertisements
Posted in: Esai