#hidupiniseperti Para Assholes di Gedung Bioskop

Posted on June 6, 2014

4


Note: Assholes disini mengacu kepada suatu kaum. Tepatnya kepada kaum-kaum yang gak punya attitude ketika nonton di bioskop. Mungkin kalian pernah merasa terganggu dan menjadi korban dari para assholes ini. Atau mungkin tanpa sadar kalian sebenarnya adalah para assholes itu sendiri.

Terlahir sebagai pria movie-freak maka kegiatan menonton film-film blockbuster di bioskop bila weekend  tiba sudah menjadi agenda wajib buat gue, dan sebagai seorang yang hobi menonton maka suasana yang tenang dan nyaman dalam studio menjadi hal yang utama agar dapat berkonsentrasi penuh terhadap alur cerita film dari awal, pertengahan, hingga akhir.

Gue pun meyakini setiap orang yang pergi ke bioskop dengan niatan 100% menonton juga akan setuju dengan pendapat gue: suasana yang tenang, nyaman, dan bebas dari gangguan adalah hal yang dibutuhkan untuk bisa menikmati film secara penuh dan utuh hingga tuntas lalu pulang membawa kepuasan, sehingga tiket yang sudah dibeli dengan harga yang lumayan mahal pada saat weekend tidak sia-sia.

Film adalah sebuah karya seni, sama halnya seperti membaca buku, menikmati secangkir kopi, mendengarkan musik, yang dimana kesemuanya harus dinikmati dengan cara berseni pula (bukan maksudnya harus dinikmati sambil mengeluarkan air seni) tapi setidaknya lingkungan yang tenang, nyaman, dan bebas dari gangguan menjadi syarat yang mutlak agar kita dapat enjoy, dan tenggelam menikmatinya.

Sialnya diluar sana banyak assholes yang gak tahu bahwa film adalah sebuah karya seni sehingga gak tahu bagaimana cara menikmati sebuah film dengan cara yang berseni pula.  Dan semakin sial ketika mereka tetap datang ke studio bioskop, menggandeng pacarnya, membeli tiket, duduk bersama dalam satu studio dengan orang-orang yang sadar betul kalau film adalah sebuah karya seni.

Berikut adalah kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan para Assholes saat sedang menonton film di bioskop.

1. Bertanya terlalu banyak kepada mbak-mbak CS

Film : The Legend of Hercules (2014)

Pernahkah kalian saat sedang nobar bersama pacar atau dengan teman-teman sekantor tapi lagi bingung menentukan ingin menonton film apa saat ini. kebingungan dalam menentukan film apa yang harus ditonton merupakan hal umum yang dialami oleh orang banyak. Terutama ketika kebanyakan film-film yang ditayangkan bertema pocong, kuntilanak, atau nenek bergayung.

Namun bila kalian tidak terlalu miskin dan katrok untuk memiliki smartphone maka hal itu bukanlah persoalan yang serius. dengan smartphone kalian bisa masuk ke situs XXI atau blitz megaplex untuk melihat trailer atau membaca sinopsis film yang sedang tayang. Atau mungkin kalian bisa melakukan seperti yang gue lakukan. yaitu melihat rating film melalui rotten tomatoes atau IMDB. Gue pribadi lebih suka melihat rating film melalui rotten tomatoes. bila rating di bawah 20% maka sudah dipastikan gue tidak akan menonton film tersebut. Untuk rotten tomatoes memang kebanyakan film yang bisa dilihat ratingnya hanya film-film hollywood. tidak untuk film-film lokal. tapi setidaknya rotten tomatoes sangat membantu kita dalam memberikan petunjuk mana-mana saja film yang memiliki rating rendah dan mana yang memiliki rating tinggi.

Namun masih banyak assholes diluar sana yang memiliki smartphone canggih tapi hanya digunakan untuk photo selfie dengan bibir dimonyong-monyongin di cermin toilet ketimbang login ke rotten tomatoes guna mencari tahu rating film atau sinopsis film.

Saat gue berada dalam antrian menonton film the legend of Hercules gue merasakan kalau antrian tidak kunjung bergerak. Selidik punya selidik setelah gue berjalan mendekati meja Customer service gue melihat salah satu asshole yang bertanya terlalu banyak ke salah satu mbak-mbak CS mengenai film apa yang bagus diputar malam ini, siapa pemainnya, siapa sutradaranya, seperti apa plot ceritanya dan bagaimana endingnya.

Asshole: “Mbak Film apa yang bagus ya?”

Mbak CS : “The legend of Hercules juga bagus.”

Asshole : “Itu film tentang apa ya?”

Mbak CS : “Tentang hercules”

Asshole : “Jalan ceritanya seperti apa ya mbak.”

Disini gue melihat mbak-mbak CS mulai tersenyum pasrah. mungkin dalam hatinya berkata kenapa gak lo tonton sendiri aja sih nyet.

Pertanyaan-pertanyaan terus dia lontarkan sehingga menyebabkan antrian semakin panjang dan lama. di belakangnya gue hanya bisa berdoa agar nanti sepulang dari nonton si asshole ini bakal ditabrak truk sampah.

 

2 . Tertawa terbahak-bahak pada scene yang tidak tepat.

Film : Batman Begins (2005)

Mungkin ada yang salah pada bagian otak mereka yang kerap tertawa terbahak-bahak pada scene yang tidak tepat. Gue mengerti kalau film yang baik adalah film yang dapat mengaduk emosi penonton, baik itu tertawa terbahak-bahak, menangis tersendu-sendu, atau meringis ketakutan, namun kesemua emosi itu seharusnya diekspresikan pada saat scene atau adegan yang tepat. Misal ketika ada adegan dimana seorang karakter jatuh terpeleset akibat kulit pisang lalu masuk ke tong sampah, kemudian jatuh terguling-guling dan berhenti tepat di depan cewek cantik yang ia taksir, adegan ini sangat komikal dan menjadi tidak salah bila kita tertawa terbahak-bahak saat menyaksikan adegan ini. Namun akan menjadi sangat salah bila ada adegan dimana seorang karakter meninggal akibat ditusuk dengan pisau oleh orang jahat lalu mayatnya ditaruh diatas rel kereta api kemudian kereta api menabrak jasadnya hingga menjadi tetelan daging lalu berakhir dikebumikan dalam suasana haru biru, namun adegan sedih ini malah disambut dengan tawa terbahak-bahak.

HAHAHAHAHAHAHAHAHAAHAHAHAHAHAHA

lalu teman-temannya yang sama idiotnya pun ikut tertawa terbahak-bahak pula.

HAHAHAHAHAAHAHAHAHAHAAHA

Contoh di atas mungkin terlalu ekstrim, tapi gue pernah mengalami kondisi yang serupa saat gue menonton film Batman Begins pada tahun 2005 lalu. Dari antara film Trilogi Batman karya Christopher nolan menurut gue Batman begins adalah film yang paling dark  digarap Nolan, hal ini dikarenakan Nolan berkonsentrasi dalam menceritakan kehidupan Bruce wayne yang diliputi tragedi. Namun suasana dark dan melankolis yang ada pada film Batman Begins entah bagaimana sepertinya malah dianggap film komedi oleh sebagian besar para assholes ini. Berikut adalah adegan yang gue ingat saat para assholes yang duduk di belakang gue tertawa terbahak-bahak.

Adegan:  Thomas Wayne dan Martha Wayne ditembak mati oleh penjahat jalanan, meninggalkan sosok Bruce wayne kecil yang menangis berdiri ketakutan.

Seharusnya bila kita memiliki hati nurani dan rasa empati seperti manusia normal lainnya kita akan merasa sedih, terenyuh, bahkan mengeluarkan setitik air mata ketika menyaksikan adegan ini. Bagaimana perasaanmu ketika melihat adegan seorang anak kecil berumur 10 tahun harus melihat kedua orang tuanya mati tertembak oleh penjahat jalanan? pasti sedih bukan? namun para assholes menganggap adegan ini merupakan adegan lucu seperti adegan Azis gagap yang ditempeleng oleh Parto pada opera van Java sehingga otak mereka yang error akan mengirimkan sinyal kepada mulut mereka untuk tertawa terbahak-bahak

HA-HA-HA-HA-HA-HA-HAHA-HA-HA-HA-HA-HA-HA

Adegan: Bruce wayne berubah menjadi Batman dan menghabisi para penjahat

Seharusnya ini merupakan adegan yang paling seru karena kita bisa melihat bagaimana Batman dengan kerennya menghajar para penjahat. Tapi di dalam otak para assholes kelihatannya ini seperti adegan lucu ala film Dono Kasino Indro sehingga reaksi mereka adalah:

HA-HA-HA-HA-HA-HA-HAHA-HA-HA-HA-HA-HA-HA

 

 

3. Ngobrol selama film berlangsung.

Film : The Raid 2 (2014)

Ketika menonton film The Raid 2 bersama pacar gue berani bertaruh pada menit pertama film berlangsung semua penonton akan menahan napas dan menelan ludah karena terus-terusan disuguhkan adegan perkelahian Iko Uwais yang brutal, cepat, sekaligus beautifully choreographed namun tidak dengan pasangan muda yang duduk di samping gue. Selama adegan pertarungan mereka lebih asyik ngobrol dan saling cubit-cubitan hidung dan membicarakan apa saja yang akan mereka lakukan sebagai pasangan ketika sudah menikah dan berumur tujuh puluh lima tahun nanti.

Hey, assholes you could do this if you are watching Titanic movie or any kind of romance-movies. Not in the film with a contain of full-fight-blooded-brutal scene!

Kira-kira seperti ini:

Adegan: Iko Uwais dikeroyok oleh segerembolan para napi di toilet.

Assholes Cowok: “Sini aku cubit hidung kamu.”

Asshole cewek: “Mau donk.”

Adegan: Iko Uwais berusaha melawan semua napi dalam toilet

 

Asshole Cowok: ‘Kamu lucu banget deh, hidung kamu pesek.”

Asshole cewek: “Masak sih.”

Adegan: Iko uwais akhirnya kalah karena kalah jumlah saat menghadapi napi lainnya.

Asshole Cowok: “Iyah, hidung kamu lucu tauk, sini aku cubit lagi deh.”

Asshole Cewek : “Hi..hi..hi..hi..hi..”

Adegan: Hammer girl berhadapan dengan para mafia dalam kereta.

Asshole cowok: “Kalau kita sudah berumur 75 tahun kamu masih sayang sama aku gak?”

Asshole cewek: “Masih donk..kalau kamu?”

Adegan: Hammer girl membantai satu persatu mafia dalam kereta menggunakan palu dengan sadis.

Asshole cowok : “Aku ingin ketika kita tua nanti kita tetap bisa berjalan dalam taman yang romantis.”

Asshole cewek : “Iyah aku mau.”

Adegan Hammer girl merobek salah satu batang leher mafia menggunakan palu sehingga darah segar muncrat mengenai wajah Hammer girl.

Asshole cowok : “Aku mau saat kita tua nanti kamu jangan bikinin aku teh manis.”

Asshole cewek: “Kenapa?”

Asshole cowok : “Karena aku pasti diabetes”

Asshole cewek : “hi..hi..hi..hi..”

Amarah gue sudah sampai ubun-ubun saat itu. Karena gue merasa terganggu dengan adegan romantis cubit-cubitan hidung yang mereka lakukan. Ingin rasanya gue melepas sepatu vans butut gue lalu menggebuk hidung mereka satu persatu kemudian mengusir mereka keluar dari dalam studio. Namun pacar gue meminta agar sabar dan mencuekan mereka.

Gue mencoba untuk sabar dalam beberapa menit hingga kedua pasangan ini kembali mengobrol dan saling memeluk disertai dengan tawa yang terkikik-kikik padahal tidak ada adegan lucu yang sedang berlangsung. Merasa sudah tidak tahan lagi dengan kelakukan mereka, akhirnya gue memberanikan diri untuk menegur si cewek dengan mencolek bahunya dan saat dia menoleh ke arah gue dengan cekatan gue mendesis keras seperti ular keket SSSSSSTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT!!

Sangat keras hingga gue yakin kalau sedikit air ludah gue muncrat ke muka itu cewek. Hal ini cukup ampuh, karena setelah teguran ini mereka tidak lagi berisik hingga film berakhir.

4. Teriak-teriak seperti di terminal saat film berlangsung.

Film : Snowpiercer (2014)

 Hal yang paling enggak bisa ditolerir dalam studio adalah orang yang teriak-teriak kaya di terminal selama film berlangsung sehingga teriakannya memecah konsentrasi semua penonton studio. Menemukan orang seperti ini di dalam studio seperti bertemu dengan manusia purba yang terlempar oleh mesin waktu secara enggak sengaja ke jaman modern.

Saat gue menonton snowpiercer barisan dibelakang gue sepertinya tengah membawa keluarga besar dari mulai Suami, istri, keempat anak kecil, kedua mertua dari pihak istri, dan kedua mertua dari pihak suami, dipikirnya mungkin studio XXI luas seperti ragunan dan cocok untuk dijadikan tempat piknik keluarga.

 

Selama film berlangsung salah satu anak kecil berlari-larian di dalam studio menaiki dan menuruni anak tangga dengan berisik, ingin rasanya gue tangkap lalu dari atas gue lempar ke bawah studio tentu itu semua hanya ada dalam imajinasi gue, karena gue gak mau dituntut oleh oleh Komisi perlindungan anak dan Kak Seto.

Ketika sang anak kecil sibuk menaiki dan menuruni anak tangga studio salah satu mertua dari pihak keluarga berteriak memanggil sang anak dengan volume yang memekakkan telinga untuk menyuruhnya duduk.

“MICHAELLL!! JANGAN NAIK TURUN TANGGA!! NANTI JATUH!!”

Si anak kecil tetap berlarian naik turun tangga studio. Melewati tempat dimana gue duduk berkali-kali.

Melihat tak diacuhkan si sang nenek mengulangi teriakannya lagi.

“MICHAELLL JANGAN NAIK TURUN TANGGA NANTI JATUH!!”

Konsentrasi gue mulai buyar, dan gue dapat melihat seluruh mata penonton mendongak ke atas mencari tahu dari mana suara gorila betina itu berasal. Yang kemudian terjadi adalah si nenek bangkit dari tempat duduknya dan berjalan untuk menjemput cucunya itu. Sesaat gue merasakan kepala bagian belakang gue tersenggol oleh pantat si nenek sehingga membuat gue kehilangan konsenterasi untuk beberapa saat. Mood gue juga sudah berubah. Dari yang sebelumnya ingin menonton film kini ingin mendorong si nenek dari atas hingga terjatuh terguling-guling sampai bawah.

 

 

 

Something that you need to know about this blog:

  1. I write this blog based on my true experiences
  2. The name of the characters on this blog is not real anymore (Except my own character), I change it due to avoid some feuds, lawsuits, or even dead threats to me, my cats, and my dogs.
  3. I dramatize and exaggerate some parts in order to make a good story with a good punchline so that you can laugh your ass off and say “Hey this blog is funny! I love it!”
  4. I write this blog mostly on Friday night and Saturday night. Why? because that’s what forever alone dude do.

 

 

Advertisements
Posted in: Esai