#hidupiniseperti Barlon

Posted on October 9, 2014

0


Delusi merupakan salah satu jenis penyakit psikologi dimana biasanya berlangsung selama satu bulan di kepala pengidapnya.

Barlon adalah pria delusional.

Delusional karena dia kerap merasa dirinya adalah Krisyanto.  Iya Krisyanto vokalisnya Jamrud.

Barlon berwajah kotak seperti pria batak pada umumnya. Dia berkulit hitam legam, memelihara jambang yang menyambung hingga ke dagu bawah lalu membentuk janggut pendek. Penampilannya ini sudah menjadi sorotan para guru di sekolah karena terlihat seperti preman pasar. Namun tidak bagi Barlon. Baginya, dirinya hanyalah seorang Krisyanto.

Krisyanto sang vokalis Jamrud.

***

Suatu hari pacar gue, si lesung pipit meminta gue untuk menemaninya ke rumah salah satu temannya di daerah bilangan Kemang sari, Jatibening, Bekasi.

Merupakan daerah sekolah gue saat masih remaja dulu.

Saat masih SMU.

Saat masih 17 tahun.

Saat Reynaldi krucil belum menjadi transgender.

Gue menemani sang pacar dengan mobil yang gue beri nama si hitam. Belakangan gue baru sadar kalau nama hitam juga digunakan oleh tetangga depan rumah untuk memanggil kucing kampung peliharaannya.

Sepanjang perjalanan menuju ke kemangsari gue menjadi gugup. Gugup karena biasanya gue melewati jalan ini setiap pagi dan sore saat masih mewujud bocah remaja berusia 16 tahunan. Sekarang gue sedang melewatinya di usia ke 28 tahun. Kurang lebih sudah hampir 13 tahun lamanya gue tidak lagi pernah melewati jalan ini. Gue menunduk dan berkontemplasi untuk sesaat. Betapa waktu terasa begitu cepat. Dan betapa waktu bisa membuat perut pria menjadi buncit dengan cepat.

Setibanya di wilayah bernama kemangsari, lesung pipit mencoba menghubungi temannya itu. Mencoba mencari tahu letak pasti cluster perumahan yang kita tuju.

“Gue lagi ada di pertigaan nih, ada warung di sebelah kiri.”

“Oh ya udah lo tinggal lurus aja, ikutin aja jalannya sampai lo nemuin ada perempatan, disitu ambil kanan nah ambil cluster perumahan yang kedua setelah itu.”

“Okay.”

Lesung pipit memutuskan sambungan, lalu mengatakan kepada gue kalau kita tinggal ambil lurus saja hingga bertemu dengan perempatan, lalu ambil kanan, dan rumah temannya itu ada di perumahan cluster kedua.

Gue membujuk lesung pipit agar sebelum ambil jalan lurus kita ambil jalan ke kanan dulu saja. dia bertanya untuk apa? Aku mau lihat sekolahku dulu. Jawab gue.

Dia mengamini permintaan gue. Kita belok kanan dan akhirnya gue tiba di halaman depan sekolah. Gue memberhentikan mobil. Menyempatkan diri untuk melihat ke halaman depan sekolah. Lagi-lagi rasa gugup itu mulai datang kembali. Kali ini terasa lebih kuat menghantam perut.

Bagi gue yang bebal dalam ilmu eksak, sekolah bukanlah tempat terbaik untuk belajar Matematika, Kimia, atau fisika. Namun sekolah bisa menjadi tempat belajar yang baik untuk jatuh hati dan patah hati. Walau pada kenyataannya gue lebih banyak belajar tentang patah hati. Salah satunya gue tulis dalam postingan tentang kinoy.

Selain kenangan patah hati bersama Kinoy, gue juga memiliki kenangan dengan Barlon. Tapi postingan yang ini bukan menyoal jatuh hati atau patah hati kepada Barlon, karena gue bukan maho, dan kalaupun gue maho, Barlon tentulah bukan tipe cowok gue. Gue lebih suka dengan cowok berbulu dada. David hasselhoff misalnya.

Seperti yang sudah gue katakan sebelumnya, kalau Barlon  terobsesi untuk menjadi seorang krisyanto. Ia membawa topi kupluk ke sekolah yang selalu dipakainya saat jam istirahat dan sesudah jam pelajaran usai. Dengan memakai topi kupluk sembari menghisap rokok Djarum biasanya Barlon kerap bercerita tentang dirinya yang tidak takut dengan si A dari sekolahan ini, atau si B dari sekolahan itu. Bahkan Di sela-sela perbincangan ia selalu menyelipkan kata konak ke dalam setiap ucapannya. Hal ini dilakukannya semata-mata agar terlihat semakin mirip dengan Krisyanto. Bagi yang belum tahu, sekadar informasi bahwa Krisyanto sang vokalis Jamrud pernah menyebut kata konak pada lirik lagu Surti Tejo.

“Hahahahahaha. Konak juga lo.”

“Eh dah, masak gitu aja enggak bisa? Dasar konak lo! Hahahahahahahaha”

***

Jam pulang sekolah. Gue bersiap pulang dengan salah satu teman satu kelas bernama Erwin yang agak melambai bila berjalan. Alasan kenapa gue memilih jalan pulang bersama Erwin saat itu adalah karena gue takut kena palak bila berjalan sendirian di luar lingkungan sekolah. Hal ini tidak lepas dari rumor yang beredar bahwa sekolahan gue termasuk sasaran empuk untuk dijadikan korban palakan oleh sekolah-sekolah lain. Dengan gaya berjalan yang melambai, gue sadar kalau gue gak bisa berharap banyak sama Erwin yang melambai untuk melawan pemalak. Tapi setidaknya gue bisa menjadikan Erwin sebagai tumbal kepada mereka.

Please, jangan palak sepatu atau uang jajan gue. Sebagai gantinya Lo bisa palak  temen gue yang cara jalannya mirip banci ini.

Namun pada akhirnya toh gue selalu memutuskan jalan berdua dengan Erwin. Tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang menepuk kepala kita berdua dengan keras dari belakang. Kita menengok ke belakang. Ternyata Barlon. Ia tertawa terbahak-bahak melihat kita pucat ketakutan. Rupaya ia tahu kalau kita jalan berduaan karena takut kena palak. Lalu seperti biasa, sepanjang perjalanan ia akan bercerita betapa dirinya tidak takut dengan seseorang yang bernama A dari sekolah XYZ. dan dia juga tidak takut dengan seseorang yang bernama B dari sekolah ZYX. dan di sela-sela bualannya, tidak lupa ia menyelipkan kata-kata sakti favoritnya: Konak.

Belum lama kita berjalan keluar dari gerbang sekolah. Tiba-tiba ada sekelompok anak muda sekitar empat hingga lima orang yang tampaknya berasal dari sekolah lain. Mereka sedang menghalangi kita berjalan. Dilihat dari wajahnya bukanlah wajah-wajah bersahabat yang ingin mengajak main futsal atau belajar kelompok. Salah satu dari antara mereka ada yang memegang gir motor. Gue membayangkan bila gir itu dilempar ke kepala Barlon akankah delusinya  hilang?.

Gue bersama Erwin mulai berjalan semakin cepat. Namun Barlon mencegah kita. Dari belakang Ia memegang bahu kita. Gak usah lari, ada gue di sini. Kata Barlon dengan suara yang sengaja diberatkan untuk menambah efek dramatis seperti yang dilakukan Batman.

Barlon maju menghadap kelima pemuda tersebut. Gua dan Erwin hanya berdiri dari kejauhan melihat aksi heroik Barlon. Kita mengharapkan Barlon akan memukul satu persatu kelima pemuda tersebut hingga tersungkur jatuh ke tanah. Kemudian Barlon akan meludahi mereka sembari berkata Jangan pernah kembali ke sini lagi. Keren. Pikir gue dan Erwin saat itu.

Namun yang terjadi adalah Barlon membungkukkan badannya di hadapan mereka. Seperti orang yang sedang minta maaf. Entah apa yang dilakukannya saat itu? omongan Barlon yang setiap hari menghiasi kuping kami tentang betapa ia tidak pernah takut dengan si A yang berasal dari sekolah itu dan si B dari sekolah ini tiba-tiba lenyap seketika. Bayangan tentang Barlon yang gagah, jagoan, dan tidak terkalahkan perlahan demi perlahan menguar dari kepala kami lalu lenyap di udara bersama angin.

Kemudian dari kejauhan kita bisa melihat Barlon menunjukkan jarinya kepada kita berdua. Ia seperti sedang memberikan kode kepada kelima pemalak tersebut untuk menghabisi kita. Satu persatu dari mereka mulai berjalan mendekati gue dan Erwin. Melihat hal itu gue bersamaan dengan Erwin langsung mengambil gang alternatif untuk kita lewati. Kita berlari secepat-cepatnya. Gue melihat ke belakang. Ada waria yang mengejar gue. Ternyata itu Erwin yang sedang berlari.

Kita memutuskan untuk berlari sejauh mungkin. Sejauh mungkin. hingga napas tersengal-sengal dan kedua kaki mulai lemas. kita memutuskan untuk duduk di sebuah mini market. Kita menunggu 10 hingga 20 menit. Menunggu hingga kelima pemuda tersebut sudah tidak mengikuti kita lagi.

20 menit kemudian, gue dan Erwin melihat sosok dari kejauhan tengah berjalan kaki mendekati kita. Sosok itu tidak lagi mengenakan sepatu dan membawa banyak buku dalam dekapannya. Tidak butuh waktu lama bagi kita untuk menyadari kalau sosok itu adalah Barlon. Tepatnya Barlon tanpa kedua sepatu dan tas. Mukanya pucat. Dan tertunduk lesu. Kedua sepatu dan tasnya berhasil dipalak oleh kelima pemuda tadi.

Esok harinya tidak ada satupun dari gue maupun Erwin yang menceritakan soal kejadian ini kepada teman-teman sekelas. Barlon meminta kita untuk tidak menceritakannya kepada yang lain. Lebih tepatnya mengancam. Tapi bagaimanapun juga setelah peristiwa tersebut Barlon menjadi lebih pendiam. Tidak lagi pernah memakai topi kupluknya. Tidak pernah lagi meracau soal betapa ia tidak takut dengan yang namanya si A atau si B dari sekolah lain.

Mungkin Barlon telah sembuh dari delusionalnya.

 

 

 

 

Something that you need to know about this blog:

  1. I write this blog based on my true experiences
  2. The name of the characters on this blog is not real anymore (Except my own character), I change it due to avoid some feuds, lawsuits, or even dead threats to me, my cats, and my dogs.
  3. I dramatize and exaggerate some parts in order to make a good story with a good punchline so that you can laugh your ass off and say “Hey this blog is funny! I love it!”
  4. I write this blog mostly on Friday night and Saturday night. Why? because that’s what forever alone dude do.

 

 

 

Advertisements
Posted in: Esai