#hidupinisepertiHarleyDanGorila

Posted on January 18, 2015

4


Gue mengenal Harley sejak berusia tujuh tahun. Nyokap pernah menunjukkan foto kita berdua saat masih mewujud bocah.

“Lihat, ini kamu saat sedang bersama Harley. Kalian dulu berdua sangat akrab, lucu kan?”

Gue melihat foto diri gue yang sedang merangkul tangan Harley. Betul, kita terlihat akrab di foto tersebut. Sangat akrab. Walau agak geli membayangkan apa jadinya bila kita masih berfoto dengan pose seperti itu diusia sekarang ini. dua puluh sembilan tahun.

Akan jadi menjijikkan mungkin.

Harley adalah teman kecil gue. Kita sudah saling mengenal sejak berusia tujuh tahun. Namun terpisah lantaran Harley harus pindah rumah keluar kota demi mengikuti perjalanan dinas sang Ayah.

Tujuh tahun berlalu, gue dan Harley dipertemukan kembali. Harley kembali ke rumahnya yang dulu. Ayahnya sudah selesai dinas bekerja di luar kota. Gue menghabiskan masa-masa SMP dengan Harley. Kita memiliki banyak kesamaan. Kita suka bermain gitar dan bermain bola bersama. Kita juga gemar berbagi cerita tentang tipe perempuan kesukaan kita masing-masing.

“Gue gak suka perempuan dengan kacamata.” Ucap Harley.

“Kenapa Har?” Tanya gue.

“Gak tau deh, mungkin karena gue sendiri gak pakai kacamata jadinya mau cari cewek yang gak pakai kacamata juga kayanya.”

“Ehmm. kalau gue malah suka cewek pakai kacamata.”

“Ya itu mungkin karena lo udah kacamataan, jadinya lo kepingin cari cewek yang kacamataan juga.”

“Tapi Har, kalaupun gue gak kacamataan mungkin gue bakalan tetep suka sama cewek yang kacamataan.”

“Oh iya? emang kenapa sih?”

“Seksi, terus selain gak kacamataan, perempuan seperti apa yang bikin lo jatuh cinta?”

“Hmmmmm..kulitnya harus putih dan rambutnya panjang hitam sebahu.”

Itu adalah tipe perempuan Harley. Tanpa kacamata. Kulit putih seperti susu. Dan memiliki rambut panjang sebahu.

Harley menyukai perempuan tanpa kacamata karena baginya perempuan tanpa kacamata memiliki mata yang sehat. Dan mata yang sehat menurutnya adalah mata yang indah. Lagipula baginya bingkai kacamata hanya merusak estetika dari tampilan mata itu sendiri. Selain perempuan tanpa kacamata (seperti pria Indonesia kebanyakan yang mengagung-agungkan perempuan berkulit putih dan berambut panjang kehitaman) begitu juga dengan Harley. Ia mendambakan perempuan berkulit putih seperti susu dan rambut hitam panjang sebahu yang mengilat.

lima belas tahun kemudian Harley menceritakan kepada gue kalau dia telah menemukan sosok perempuan yang selama ini dia idam-idamkan. Dia mengeluarkan ponsel pintarnya dari saku celana jins lalu kemudian menunjukkan sejumlah foto yang ia maksud sebagai sosok perempuan idaman.

Gue melihat sosok perempuan tanpa kacamata, berkulit putih seperti susu, dan berambut panjang yang hitam mengilat.

“Cantik, Har.” Kata gue.

“Hahahahaha siapa dulu dong.”

“Kapan jadian?”

“Kita belum jadian. Masih PDKT”

“Nanti kalau udah jadian traktir-traktir ya.”

Gue melihat seuntai senyum yang mengembang pada wajah Harley. Keduamatanya berbinar bak rembulan. Pada akhirnya ia menemukan perempuan tanpa kacamata, berkulit putih susu, dengan rambut panjang hitam mengilat sebahu. Malamnya sebelum tidur, gue pun berdoa agar suatu hari nanti dapat menemukan perempuan idaman gue. Perempuan dengan kacamata.

Harley mencintai perempuan idaman ini. Ia selalu berusaha menjadi pria yang terbaik untuknya, dan yang terpenting Harley selalu ada ketika si perempuan idaman membutuhkan sesuatu. Saat si perempuan idaman ingin dijemput maka Harley dengan cekatan dan serba terburu-buru akan membetot sepeda motor bututnya kencang-kencang untuk menjemput sang perempuan idaman. Walau sering kali si perempuan idaman itu mengomel karena Harley menjemputnya dengan sepeda motor bebek yang baginya bukan kelasnya.

“Apa? naik motor bebek? gak mau ah!!! nanti kulit aku item donkkkk..”

“Jadi mau kamu gimana dong?” Kata Harley. dengan rambut lepek akibat memakai helm.”

“Ya, aku mau naik mobil lah. Gak panas-panasan gitu loh.”

Lantas Harley mengendarai sepeda motor bebek sederhananya itu kembali ke rumah, lalu secara diam-diam ia meminjam mobil milik sang ayah. Status PNS dengan gaji sederhana disandangnya membuatnya hanya bisa memiliki sepeda motor bebek yang sederhana pula. Ia belum mampu membeli mobil. Namun ia akan terus berusaha menjemput si perempuan idaman dengan mobil. Entah apakah itu harus mengambil mobil ayahnya secara diam-diam, atau meminjam mobil salah satu sahabatnya, atau kalau perlu ia rela mencuri mobil orang lain selama harus menjemput si perempuan idaman.

Proses pendekatan dengan perempuan idaman rupanya mulai membuat kerepotan Harley. Selain ia harus menjemput si perempuan idaman sehabis pulang kantor dengan mobil yang kini terus-terusan ia pinjam diam-diam dari sang Ayah, ternyata si perempuan idaman juga memiliki hobi yang dibenci oleh para pria bergaji pas-pasan. Yaitu belanja. Yup, si perempuan idaman suka berbelanja dari mall ke mall. Ia suka belanja tas dan sepatu dan alat make up dan baju dan celana jins dan perhiasan.

Untuk memenuhi hasrat belanja sang perempuan idaman maka Harley rela memecahkan celengan babi yang sudah ia gunakan untuk menabung sebagian kecil dari gaji sederhananya selama empat tahun menjadi PNS. Dan Harley pun pada akhirnya menyerah untuk mempertahankan hubungannya dengan si perempuan idaman.

“Gaji gue abis buat dia, tabungan gue abis buat dia, tenaga dan emosi gue abis buat dia. Pacaran aja begini, gimana nikah ntar? bisa abis nyawa gue.” Ucap Harley dengan nada memelas.

Kedua mata gue menyoroti Harley dengan tatapan iba. Gue menepuk pundaknya dan berucap “Mungkin dia bukan cewek idaman lo Har, dia jauh dari idaman lo.” Kemudian Harley membalas, “Tapi dia cewek tipe gue, gak pake kacamata, berkulit putih, dan rambutnya hitam panjang sebahu.”

Harley memutuskan untuk tetap terus menjalani hubungannya dengan si perempuan idaman. Hal ini karena semua atribut yang ia dambakan pada sosok perempuan telah dimiliki semua oleh si perempuan idaman. Tidak berkacamata. Berkulit putih seperti susu. dan Rambut hitam panjang sebahu. Dan Harley tetap melakukan apa yang dilakukannya selama berpacaran dengan si perempuan idaman. Harley tetap menjemputnya saat jam pulang kantor dengan mobil yang ia pinjam diam-diam dari sang Ayah, menemaninya belanja dengan uang tabungan yang masih tersisa. Harley melakukan segalanya untuk sang perempuan idaman.

Namun semua itu berubah di senja yang temaram, Harley menerima SMS dari si perempuan idaman, kali ini si perempuan idaman tidak memintanya untuk menjemput. Dia meminta untuk putus. Seperti yang dilakukan oleh cewek-cewek pada umumnya saat memutuskan hubungan secara sepihak dengan cowok, maka kalimat seperti ini pun menjadi senjata andalan si perempuan idaman kepada Harley.

kamu terlalu baik buat aku, semoga kamu menemukan jodoh lain yang terbaik buat kamu.

Harley pun lemas. Ia menangis di kamar. dia menangis di gereja. Ia memangis di pelukan ibunya. Di siang hari ia menangis kepada matahari. Pada malam hari ia meratap kepada rembulan. Mengapa perempuan idamannya tega meninggalkan dia begitu saja? Kemudian memorinya berusaha mengingat-ingat kembali setiap momen perjuangan yang telah dilakukan untuk menyenangkan hati si perempuan idaman: Menjemputnya di kantor dengan mobil yang ia pinjam diam-diam dari sang ayah, memecahkan celengan babinya yang ia tabung selama empat tahun menjadi PNS guna membelikan si perempuan idaman parfum mahal, sepatu mahal, pakaian mahal, dan alat make up mahal.

 

Tiga bulan kemudian.

Harley menceritakan kepada gue kalau dia telah menemukan sosok pengganti si perempuan idaman. Gue turut senang akan hal itu. Gue menjabat tangan dan memukul bahunya.

“Nah gitu dong, masih banyak ikan di lautan!”

Kalimat mengenai masih banyak ikan di lautan merupakan kalimat yang paling sering keluar dari mulut seseorang saat menghibur pria patah hati. Seolah menggambarkan banyaknya perempuan di dunia sebagai kumpulan ikan di lautan cukup menghibur mereka yang sedang patah hati. Padahal sejatinya ikan tidak tidak pernah melakukan apa yang dilakukan oleh perempuan dalam hal menyakiti hati pria. Seperti memutus hubungan lewat SMS misalnya atau bahkan meloroti gaji pria yang sudah pas-pasan.

Harley mengeluarkan ponsel pintarnya dari saku celana jins kemudian menunjukkan foto seorang perempuan.

Perempuan gendut. pendek. berkaki besar. berkulit hitam. berwajah bulat. memiliki lubang hidung besar dan bibir yang tebal.

Dia sedang tersenyum dengan mengerikan di foto itu. Sangat mengerikan.

Dan apa yang terlintas dalam benak gue adalah.

Fakk! Kenapa mirip gorila?

“Ini siapa Har?”

“Pacar gue yang baru.”

“Cakep kan?”

Ada keheningan panjang di antara percakapan kita.

“Gimana cakep gak? Wooii!”

Gue bengong tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Hal ini karena foto perempuan yang sedang gue lihat adalah foto perempuan termutan yang pernah gue lihat seumur hidup.

Kenapa harus dia Har?

Ingin gue bertanya seperti itu namun alih-alih mengeluarkan pertanyaan yang akan menyakiti hati Harley maka gue menjabat tangannya. memukul pelan bahunya sambil berujar Selamat ya Har, semoga dia menjadi yang terbaik buat lo.

Dan Harley pun mulai menjalani kehidupan romansanya dengan perempuan yang mirip gorila itu. Satu tahun lamanya mereka berpacaran hingga kemudian mereka memutuskan untuk menikah tahun ini.

Perempuan mirip gorila bukanlah tipe Harley. Bahkan tak sedikitpun wujudnya mendekati si perempuan idaman; berwajah oval, memiliki kulit putih bak susu, rambut hitam panjang sebahu, dan bila tersenyum dunia disekelilingnya meleleh. Si perempuan gorila memiliki wajah besar dan kotak, kulit hitam, kedua kakinya tampak besar. Bahkan menurut gue dua hingga tiga kali lebih besar dari ukuran kaki perempuan normal. Kedua lobang hidung dan bibir juga tampak besar.

Namun Perempuan mirip gorila memiliki hati yang tulus ketimbang si perempuan idaman dalam mencintai Harley. Ia tidak pernah menuntut. Ia tahu kalau Harley hanyalah PNS bergaji minim, dan ia tidak sekalipun pernah menuntut untuk membelikannya parfum mahal, sepatu mahal, dan pakaian mahal. karena semua orang tahu, semahal apapun parfum, pakaian, dan sepatu yang dikenakan perempuan gorila ini, hal itu tidak akan merubahnya menjadi cantik seperti Luna maya.

Ia tetap perempuan mirip gorila yang mencintai Harley dengan tulus.

 

 

 

Something that you need to know about this blog:

  1. I write this blog based on my true experiences
  2. The name of the characters on this blog is not real anymore (Except my own character), I change it due to avoid some feuds, lawsuits, or even dead threats to me, my cats, and my dogs.
  3. I dramatize and exaggerate some parts in order to make a good story with a good punchline so that you can laugh your ass off and say “Hey this blog is funny! I love it!”
  4. I write this blog mostly on Friday night and Saturday night. Why? because that’s what forever alone dude do.

 

 

 

 

 

 

Advertisements
Posted in: Esai