#hidupinisepertiCeritaHoror

Posted on February 1, 2015

6


Waktu SD gue penakut.

Gue takut pergi ke toilet pada malam hari. Gue takut bila tidur dengan kondisi lampu kamar dimatikan. Gue takut di rumah sendirian bila kedua orangtua sedang tidak ada. Dan gue takut kalau di kolong tempat tidur ada Ivan gunawan.

Gue beranggapan kalau masa kecil adalah masa dimana imajinasi kita akan hal-hal berbau supernatural dan klenik terlalu imajinatif. Sehingga saat kita kecil maka kita akan lebih rentan untuk takut akan hantu ketimbang saat kita beranjak dewasa.

Ternyata gue salah.

Inilah gue sekarang. Dua puluh sembilan tahun. Pria Dewasa. Masih takut dengan hantu.

Dan masih takut juga dengan Ivan gunawan.

 

Cerita ini berawal saat kedua anjing gue melolong pada pukul dua dini hari. Merasa terganggu lantas gue memutuskan untuk mencoba mendiamkan mereka. Gue membuka pintu kamar dan bergegas menuju pintu garasi.

Dari kamar sebelah, nyokap yang awalnya gue kira masih tidur ternyata juga ikut terbangun dan mencoba menghentikan niat gue untuk mendiamkam kedua anjing gue. Ia bilang anjing yang melolong pada tengah malam merupakan sebuah pertanda kalau di rumah sedang ada hantu.

Ada H-A-N-T-U.

katanya kepada gue kedua kali untuk memperingatkan agar gue mengurungkan niat untuk mendiamkan anjing.

Tidak ada yang gue takuti saat itu. Cerita hantu hanya cocok untuk menakuti anak kecil. Gue bukan anak kecil. Gue pria berusia dua puluh sembilan tahun. Pria dewasa.

Lantas gue memutuskan kembali masuk ke dalam kamar.  Mencoba melanjutkan tidur. Mencoba memungut kembali mimpi-mimpi gue yang sempat tercecer.

 

Keesokan harinya. Sepulang dari kantor. Lagi-lagi nyokap mencoba meyakinkan gue kalau memang tengah ada hantu di rumah ini. Gue mencoba berkilah dan memberikannya pandangan kalau hantu hanyalah produk dari buah imajinasi manusia yang terbentuk dengan sendirinya karena sugesti yang terus-menerus diberikan kepada otak.

Hal ini bisa kita praktikkan dengan cara berkaca di sebuah ruangan yang agak gelap. Cobalah berkaca dalam waktu yang agak lama. Lambat laun otak akan merasa lelah dan dengan sendirinya ia akan membuat gambaran yang mengerikan dari versi wajah kita sendiri pada citra di cermin. Gue pernah mencobanya di depan cermin. dan ternyata bayangan gue gak berubah sama sekali. Mungkin otak gue menganggap kalau muka gue yang sekarang sudah cukup mengerikan.

Nyokap menceritakan Ci Ailing lah yang mengatakan bahwa ada kuntilanak yang sedang berdiri di atas telepon umum koin yang terletak di belakang rumah. Dan kuntilanak itulah yang menyebabkan kedua anjing gue melolong setiap tengah malam.

Ci ailing merupakan tetangga gue. Dia seorang keturunan tionghoa yang katanya memiliki sixth sense untuk melihat makhluk halus. Astral. Jin. Dedemit. Bahkan ucok baba sekalipun. Kedua mata Ci Ailing mampu menembus dimensi yang tidak bisa ditembus oleh kedua mata orang pada umumnya. Bukan hanya itu saja. Ci Ailing mampu berkomunikasi, ngobrol, atau bahkan curhat dengan para makhluk halus. Itu sebabnya Ci Ailing kerap keluar rumah menjelang tengah malam hanya untuk keliling komplek perumahan untuk berbincang-bincang dan bergosip tentang istri muda Pak Ahmad yang tinggal di blok 7 atau Pak Fahri yang tidak lagi tinggal satu atap dengan istri keduanya.

Mengetahui bakat Ci Ailing yang seperti ini, Sempat terlintas di pikiran gue untuk mengirimkan biodata Ci Ailing ke TV One dan meminta kepada produser agar dibuatkan reality show dimana isinya dalam satu segmen Ci Ailing bersama hantu-hantu perkomplekan rumah membahas gosip-gosip yang beredar di perkomplekan rumah.

Singkat kata setelah Ci Ailing melihat ada kuntilanak sedang berdiri di atas telepon umum koin belakang rumah gue. Ci Ailing lantas bertanya kepada sang kuntilanak tentang mengapa ia lebih memilih berdiri di atas telepon umum? tidak takut terjatuhkah? atau bukannya capek gitu semalaman berdiri di atas telepon umum koin? kenapa gak mencoba ke tempat yang lebih nyaman, cozy, dan gaul seperti Starbucks atau seven eleven mungkin? Sang kuntilanak menjelaskan kalau dulu ia tinggal di seberang bangunan kosong, namun karena sekarang sudah dijadikan ruko dan dijadikan tempat usaha service TV maka ia tidak tahan lagi untuk tinggal di tempat tersebut karena lampu neon yang digunakan si pemilik ruko sangat terang benderang, belum ditambah dengan banyak TV yang sengaja dinyalakan dengan warna kontras untuk menarik hati pengguna jalan. Oleh karena itu si sang kunti memutuskan untuk pindah di tempat lebih gelap yang kemudian ia dapati di atas telepon umum koin ini. Cukup beralasan karena telepon umum koin itu tidak disinari oleh cahaya lampu apapun.

Singkat kata Ci Ailing memberikan nasihat kepada kuntilanak agar mencari tempat baru, dan jangan tinggal di atas telepon umum koin lagi karena kehadirannya menganggu tidur gue sekeluarga.

Mendengar cerita tersebut gue masih belum percaya dan menganggap kalau itu semua bisa saja hasil karangan Ci Ailing sendiri.

Keesokan harinya kedua anjing gue tidak lagi pernah melolong di tengah malam. Begitu juga dengan malam-malam selanjutnya. Tidur gue menjadi lebih nyenyak.

Mungkin Ci Ailing benar. Atau mungkin ini hanya kebetulan saja?

 

Sebulan kemudian setelah kejadian kuntilanak-nangkring-di-atas-telepon-umum-koin. Nyokap gue lagi-lagi bercerita tentang Ci Ailing. Nyokap mengatakan saat Ci Ailing sedang berjalan tengah malam mengitari perkomplekan rumah, ia bertemu dengan sosok hantu perempuan yang sedang berdiri di tengah jalan namun kedua matanya menatap nanar ke arah sebuah sudut kamar milik keluarga Soeprapto. Perlu dicatat bahwa rumah keluarga soeprapto berada tepat bersebelahan dengan rumah gue. Namun bukan hal ini yang membuat bulu kuduk gue berdiri.

Hantu perempuan tersebut menceritakan kepada Ci Ailing kalau dulu ia pernah kerja di rumah Soeprapto sebagai asisten rumah tangga. Ia sedih karena dirinya sering tidak diberi makan dan jarang digaji saat itu. Ia meninggal di dalam kamar di rumah Keluarga soeprapto. “Emang iya? pernah ada asisten rumah tangga meninggal di rumah keluarga soeprapto?” tanya nyokap ke gue. Gue mencoba mengingat-ingat hingga pikiran gue melambung pada kejadian di tahun 1993. Dua puluh dua tahun lalu. Bulu kuduk gue kemudian berdiri.

Tahun 1993.

Saat itu gue masih kelas tiga SD. Gue berteman baik dengan keluarga Soeprapto. Mereka memiliki tiga orang anak. Anak pertama seorang perempuan bernama Angel. Anak Kedua laki-laki bernama Martin. Dan anak ketiga laki-laki bernama Anto. Gue paling dekat dengan Martin karena kita seumuran dan memiliki banyak kesamaan hobi seperti yang dilakukan oleh banyak bocah SD pada waktu itu. Seperti bermain Tamiya. Mengoleksi kartu dragon ball Z hingga mengoleksi ikan cupang. Sementara Sang kakak perempuan dikenal pendiam dan jarang bicara. Si bungsu Anto merupakan anak paling kalem dan tidak rewel untuk ukuran anak kecil. Ia lebih dekat ke Martin ketimbang ke kakak perempuannya. Jadi tidak heran bila Martin sedang bermain dengan gue maka si kecil bungsu akan selalu setia menemani abangnya. Dimana ada Martin maka disitu ada Anto sang adik kecil.

Keluarga Soeprapto dikenal sebagai keluarga yang baik secara pribadi oleh keluarga gue. Walau memang agak tertutup di lingkungan tetangga. Nyokap Martin sangat amat jarang terlihat keluar rumah untuk sekadar menyapa tetangga depan, atau membuang sampah keluar. Bahkan pada weekend sekalipun ia tidak pernah menampakkan diri. Misterius. Awalnya gue sempat mengira kalau Nyokap Martin adalah sosok vampir yang tidak berani keluar rumah saat pagi dan siang hari karena takut sinar matahari, dan ketika malam tiba ia akan keluar dan muncul dari atas genteng lalu terbang mencari korban abang-abang komplek untuk dihisap darahnya. Namun ternyata gue salah. Saat pertama kali bertemu dengan Nyokap Martin gue tidak menemukan dua taring panjang yang diantara giginya. Kulitnya memang putih pucat seperti vampir mungkin karena jarang keluar rumah dan jarang diterpa sinar matahari. Tapi sosoknya sangat ramah dan selalu menawarkan gue untuk makan dan memberikan kue bila sedang main ke rumah Martin.

Pada suatu siang di tahun 1993 rumah Soeprapto dikelilingi oleh banyak orang. Sangat ramai sekali. Saat itu gue berusaha mencari Martin untuk mencari tahu ada apa gerangan. Namun diantara para kerumunan itu gue tidak melihat dirinya. Kemudian gue berusaha menerobos paksa kerumunan dan masuk ke dalam rumah Martin. Suasana di dalam rumah Martin juga terlihat ramai sekali gue tidak bisa melihat ada apa gerangan karena badan gue yang kecil dan pendek saat itu.

Kemudian gue merasakan ada yang mengenggam tangan gue. Ternyata Martin. Ia mengajak gue untuk menaiki tangga rumahnya. Gue menurutinya. Lalu dari atas tangga Martin menunjuk ke arah sebuah kamar yang dipenuhi sesak oleh kerumunan orang.

“Mbak gue mati di situ.” Kata Martin kepada gue.

Gue mencoba melihat mayatnya dari atas tangga namun hanya dapat melihat bagian kaki yang terbujur kaku dan terlihat pucat. Hal ini akibat terhalang oleh banyak orang.

“Dia kenapa bisa mati Tin?”

“Sakit.”

Sakit adalah penjelasan yang diberikan Martin kepada gue. Penjelasan yang sama diberikan kepada kedua orangtuanya bila ditanya oleh tetangga lainnya. Nyokap pernah menanyakan hal yang sama kepada orangtua Martin dan mendapatkan jawaban yang sama.

“Kenapa si Khodijah bisa meninggal di dalam kamar?”

Mereka berlima secara kompak akan menjawab “Sakit.”

Namun entah kenapa kali ini gue lebih memilih percaya dengan cerita Ci Ailing. Tentang sosok hantu perempuan yang tengah berdiri di tengah malam dan memberikan pandangan kosong ke arah kamar keluarga Soeprapto. Yang memberikan keterangan kepada Ci Ailing bahwa ia jarang diberi makan. tidak digaji dan tidak mendapatkan perlakuan manusiawi dari keluarga Soeprapto.

 

 

Something that you need to know about this blog:

  1. I write this blog based on my true experiences
  2. The name of the characters on this blog is not real anymore (Except my own character), I change it due to avoid some feuds, lawsuits, or even dead threats to me, my cats, and my dogs.
  3. I dramatize and exaggerate some parts in order to make a good story with a good punchline so that you can laugh your ass off and say “Hey this blog is funny! I love it!”
  4. I write this blog mostly on Friday night and Saturday night. Why? because that’s what forever alone dude do

 

Advertisements
Tagged:
Posted in: Esai