#hidupinisepertiMauJadiApa?

Posted on March 21, 2015

1


Pertanyaan mau jadi apa dewasa nanti? sering gue dapati saat masih duduk di bangku sekolah. Baik dari SD, SMP dan SMU.

Biasanya pertanyaan itu diberikan oleh guru terhadap anak muridnya dengan alasan :

  1. Karena memang ingin tahu cita-cita sang anak murid saat dewasa nanti
  2. Karena mendapati sang anak muridnya tidur di dalam kelas (dan biasanya pertanyaan dilontarkan dengan nada sinis)

Saat gue berusia sepuluh tahun, ketika ada yang bertanya “Mau jadi apa dewasa nanti?” maka gue akan menjawab dengan cepat ingin menjadi Ksatria Baja Hitam!! biasanya gue akan mengatakan hal ini dengan lantang sembari meniru gaya perubahan kotaro minami dari seorang manusia biasa menjadi pahlawan super berbentuk belalang.

Beranjak dewasa gue menyadari kalau Ksatria Baja Hitam hanyalah buah imajinasi belaka. Orang dewasa tidak akan pernah dan tidak akan bisa menjadi Ksatria Baja Hitam.  Orang dewasa hanya bisa menjadi dokter, pengacara, pilot, tentara, tukang kebun, polisi, gubernur, lurah, atau pengangguran yang bagi gue kesemuanya terlihat membosankan bila dibandingkan menjadi Ksatria Baja Hitam

Usia tujuh belas tahun merupakan usia dimana remaja biasanya memiliki daftar cita-cita yang agak liar, terlalu imajinatif, dan sedikit dungu.

Dan berikut adalah daftar list cita-cita gue yang agak liar, terlalu imajinatif,  dan sedikit dungu saat menjawab pertanyaan mau jadi apa dewasa nanti?

 

1. Menikahi Kinoy.

Gue memiliki impian untuk menikahi kinoy. Saat pertama kali melihat kecantikannya di dalam kelas, gue hanya bisa menelan ludah sambil berkata – atau lebih tepatnya meracau :

Demi Dewi fortuna, aku akan memberikan jantung ini kepadanya. Itu pun kalau dia mau.

Kemudian gue mulai menulis lagu cinta picisan yang gue beri judul Everytime I Look Her Eyes. Gue tulis di dalam kamar pada pukul dua pagi. Hanya untuk Kinoy seorang.

Lalu bermodalkan sedikit keyakinan dicampur banyak halusinasi, gue berjanji kepada diri sendiri, kalau nanti saat dewasa gue akan menikahi Kinoy. Membayangi Kinoy menjadi ibu dari anak-anak gue cukup membuat gue senyam-senyum sendiri di dalam kelas seperti orang imbisil. Namun kedewasaan mengajarkan kita untuk menelan sedikit demi sedikit pil pahit yang bernama kenyataan. Pahit karena kenyataan selalu berseberangan dengan harapan. Begitu juga dengan kisah gue dan Kinoy. Setelah dewasa Kinoy menikah dengan pria lain. Seorang om om. Berusia empat puluh lima tahun. gemuk seperti penguin.

 

2. Menjadi musisi punk dan tinggal dalam mobil van.

Selain bermimpi untuk menjadi suami Kinoy, di usia tujuh belas tahun gue ingin menjadi musisi punk yang tinggal di dalam sebuah mobil van, kemudian pergi ke kota-kota dimana gue bersama band akan tampil di situ. Namun setelah beranjak dewasa gue tahu kalau hal itu tidak mungkin untuk dilakukan. Pertama karena menjadi musisi – terlebih beraliran punk di negeri ini – memiliki resiko sembilan puluh sembilan persen untuk jatuh miskin pada usia tiga puluh lima tahun, lalu ketika beranjak lima puluh lima tahun kemudian gue jatuh sakit, berhubung tidak ada biaya maka hidup gue akan berakhir dengan meminta sumbangan kepada sesama teman musisi punk yang sebenarnya juga lagi membutuhkan sumbangan untuk membayar uang sekolah anak.

 

3. Menjadi pemain skateboard profesional.

Saat masih remaja gue pernah membayangkan kehidupan gue saat dewasa nanti, bila tidak menjadi musisi punk maka gue akan menjadi pemain skateboard profesional. Gue ingin menjadi Tony hawk-nya Indonesia saat itu. Lantas gue memutuskan untuk membeli papan skateboard dan mulai berlatih di pekarangan rumah yang kemudian ternyata satu-satunya teknik yang gue kuasai bukanlah teknik ollie, kick flip, atau 360 kick flip. Melainkan hanya tiduran di atas papan lalu meluncur dengan bebas tanpa arah. Kucing pun ternyata bisa melakukan teknik ini. Merasa tidak berbakat lantas gue memutuskan untuk berhenti bermain skateboard.

4. Menjadi anak gaul

Pergaulan dalam lingkungan sekolah biasanya terdiri dari beberapa geng atau kelompok kecil, hal ini terjadi karena kita secara natural ingin berinteraksi dengan seseorang yang memiliki banyak kesamaan dengan kita, entah itu kesamaan dalam bidang pelajaran, hobi, gaya berpakaian, bakat dan lain-lain.

Geng atau kelompok kecil juga dapat mengindikasikan kasta pergaulan dalam suatu lingkungan sekolah. Biasanya semakin ganteng atau cantik para anggota geng tersebut maka semakin populer dan semakin dipuja-puja oleh seisi satu sekolah. Sebaliknya semakin jelek dan culun para anggota geng tersebut maka keberadaannya semakin invisible di mata seisi satu sekolah. Alias tidak diketahui keberadaannya.

Dalam lingkup pergaulan, para pria di sekolah biasanya terbagi menjadi dua geng :

Pertama : geng anak-anak orang kaya yang (kebanyakan memang) bodoh, manja, lemot, tidak berprestasi namun kemana-mana selalu membawa mobil bokap, memliki gadget keren, dan disukai oleh cewek-cewek karena bisa dijadikan teman setia dalam mencari tebengan. Geng seperti ini biasanya terbelakang dalam prestasi namun terdepan dalam setiap undangan party. Pada usia tiga puluh lima tahun biasanya karir mereka berakhir dengan menjadi pengangguran yang masih dikasih uang jajan oleh mamah papah.

Kedua : geng anak-anak orang yang minim secara ekonomi namun (Kebanyakan) pintar, juara kelas, dan doyan ikut kuis cerdas cermat, kebalikan dari geng anak-anak orang kaya, mereka yang tergabung dalam geng ini biasanya kemana-mana jalan kaki karena tidak mampu membeli kendaraan. Dalam lingkup pergaulan biasanya mereka yang masuk dalam geng ini tidak pernah dicari oleh para wanita saat hang out atau party, namun paling dicari-cari keberadaannya ketika mendekati ujian. Secara pergaulan mereka cenderung invisible, alias tidak terlihat.

Sementara itu dalam lingkup pergaulan, wanita di sekolah biasanya juga terbagi menjadi dua geng.

Pertama : geng cewek-cewek cantik, modis, dan merupakan idola para kaum Adam di sekolah. Geng ini biasanya mengikuti ekskul cheerleaders serta populer di sekolah dan biasanya menjadi incaran para cowok-cowok geng kaya. Sama halnya dengan geng cowok kaya, geng yang berisikan wanita-wanita cantik dan populer biasanya cenderung bodoh, lemot, dan telmi di hampir setiap mata pelajaran.

Kedua : geng cewek-cewek yang bentuk mukanya cenderung aneh, abstrak, unik, dan 11-12 dengan betty lafea biasanya kebanyakan dari mereka pintar, juara kelas, dan doyan ikut cerdas cermat. Kebalikan dari geng sebelah, biasanya para anggotanya juga selalu dalam bentuk invinsible mode on dalam lingkungan pergaulan dan tidak pernah menjadi incaran para kaum lelaki saat hang out atau party.

Rumus untuk menjadi anak gaul dalam lingkungan sekolah adalah : Eksis di party + Membawa mobil bokap ke sekolah + Tajir. Sialnya ketiganya tidak ada di dalam diri gue. Sehingga gue menyadari kalau menjadi anak gaul bukanlah sesuatu yang ditakdirkan untuk gue.

 

Advertisements
Posted in: Esai