#hidupinisepertiiler

Posted on November 28, 2017

0


Apa yang akan gue lakukan bila mesin waktu sudah bisa digunakan? gue akan menjawabnya dengan penuh keyakinan kalau gue akan pergi kembali ke tahun 1997 demi menancapkan ujung pisau dalam-dalam ke kedua batang leher teman sekelas SMP gue, satu batang leher milik si Gondrong dan satu batang yang lain kepunyaan Yursa. Gondrong dan Yursa gemar melakukan perundungan atau lebih dikenal dengan istilah bullying. kedua teman bajingan ini tipikal karakter remaja di film IT atau Stranger Things yang kompak merundung siapa saja yang dianggap lemah.

Adrian salah satu korban perundungan yang kerap mendapatkan perlakuan menyakitkan dari kedua bajingan tersebut. Mereka kerap memanggil Adrian dengan sebutan iler.

Iler atau liur adalah cairan saliva yang keluar dari mulut seseorang. Mengapa mereka gemar memanggil Adrian dengan sebutan iler? tentunya tidak dapat dilepaskan dari hobi Adrian yang sering tertidur tiba-tiba tanpa sebab lalu diikuti dengan iler yang keluar dari mulutnya.

Menetes. menetes. menetes.

Di dalam kelas Gondrong dan Yursa kerap mengolok-olok Adrian ketika sedang tidak ada guru untuk mengajar.

“Selamat pagi Iler, itu meja udah dibersihin belum? jangan sampe netes-netes di meja ya.” kata Gondrong.

Tidak mau kalah dengan olokan Gondrong, Yursa akan menimpali.

“Heh, itu meja jadi bau gara-gara iler lo tuh ye, bersihin sana! cepat!” Yursa biasanya akan menempeleng pipi Adrian bila bocah itu tidak menanggapi perkataannya.

Di dalam kelas saat tidak ada guru, tidak satupun siswa lain yang berani menghadapi Gondrong dan Yursa. Gondrong berperawakan orang timur, mirip tukang parkir yang kerap kita jumpai di seputaran daerah kelapa gading, pun memiliki otot lengan sebesar tukang becak, sementara Yursa keturunan tionghoa, memiliki tinggi badan di atas rata-rata siswa yang lain, juga memiliki otot lengan seperti kuli. Menurut gosip yang beredar ayah Yursa memiliki toko agen beras, alih-alih menyewa kuli sungguhan untuk mengangkat dan mengantar beras ke pelanggan ia memutuskan untuk menyuruh anaknya mengangkat dan mengantar beras selepas pulang sekolah tanpa bayaran sepeserpun, hasilnya? jari jemari Yusra diusianya yang beranjak 12 tahun sudah mirip dengan abang-abang kuli beras berusia 32 tahun. .

Merasa prihatin dengan perlakuan mereka terhadap Adrian, gue pun mencoba mengajak Adrian mengobrol, setidaknya dengan berbicara kepadanya gue sudah mencoba untuk berteman dengannya sekaligus membuktikan kalau Adrian tidaklah seaneh seperti yang kedua bajingan itu sebutkan: Iler.

Saat jam istirahat tiba, gue menghampiri Adrian yang sedang terpekur seorang diri. ia tampak asyik tenggelam menonton siswa-siswa SMU bermain bola basket di lapangan sekolah.

“Gak pergi ke kantin?” gue mencoba membuka obrolan dengan melontarkan pertanyaan klise kepadanya, sebab gue tahu Adrian tidak pernah pergi ke kantin karena Gondrong dan Yursa kerap nongkrong di sana. Bila Adrian pergi ke kantin sudah dapat dipastikan ia akan babak belur dibuat mereka menjadi perkedel.

“Gak.” jawabnya singkat.

“Omong-omong, di sini udah dari SD atau SMP pindahan?”

“Gue SMP baru masuk sini, sebelumnya SD di daerah lain.”

“oh..”

hening.

“Adrian, lo suka bola basket ya? gue gak bisa-bisa banget soal basket, tapi gue punya bolanya di rumah, dan kebetulan ada lapangan basket dekat dari rumah, gimana? mau main bareng gue?”

Hening.

Gue tidak mendengar ada jawaban dari suara Adrian, gue menengok, mencoba mencari tahu, lantas gue menemukan Adrian sedang tertidur, tidak sampai satu menit kemudian cairan berlendir itu keluar dari mulutnya.

Menetes. menetes. menetes.

Mata gue menangkap sosok Gondrong dan Yusra yang sedang berjalan mendekati kami, sepertinya mereka melihat Adrian yang tengah tertidur, gue mencoba membangunkan Adrian namun sia-sia, anak sialan ini masih tertidur dengan air liur yang sudah membasahi bajunya.

Gondrong dan Yusra, mereka berjalan semakin mendekat, gue mencoba membangunkan kembali Adrian untuk kali kedua, namun nihil, Adrian tidak bergeming sama sekali.

Pada akhirnya gue melakukan sesuatu

Gue melarikan diri meninggalkan Adrian, gue masuk ke toilet dan berdoa agar Adrian tidak babak belur menjadi perkedel

 

 

 

Advertisements
Posted in: Esai