#hidupiniseperti34yearsold

Posted on May 29, 2019

0


Gue memulai blog ini pada tahun 2011, tepatnya pada Desember 2011, kala itu gue masih berumur 26 tahun, masih single, selalu optimis saat menatap masa depan, masih memiliki banyak waktu untuk membaca buku favorit, menonton film via streaming berjam-jam lamanya, ngomongin kejelekan orang lain, hingga menulis blog dari pukul dua pagi hingga tiga pagi. Ahh. I missed that moments tho..

Namun kesemua hal itu menjadi sesuatu yang mahal ketika gue sudah berumur 34 tahun, dikaruniai istri dan seorang putri perempuan.

Dalam postingan kali ini gue mau sekadar berbagi nasib bagaimana gue yang sudah memiliki istri dan anak.

Nasib Setelah Memilik Istri

Gue sekarang sudah memiliki istri, kita menikah pada Desember 2016, dan jujur istri sempat jengkel melihat kebiasaan gue yang kerap sibuk dengan buku-buku yang gue bawa saat kita berbulan madu di Yogyakarta. Saat itu gue sadar kalau gue yang dulu bukanlah gue yang sekarang *loh kok jadi mirip lagunya tegar* gue tidak lagi bisa membaca buku berlama-lama, sekarang ada seorang wanita yang harus gue jaga di samping gue, yang harus gue ajak ngobrol bila dia sedang sedih, yang harus gue pijitin ketika dia sedang pegal, secara otomatis kebiasaan membaca buku menjadi nomor kesekian bagi gue, oh iya satu hal lagi, dulu waktu masih berumur 26 tahun gue masih bisa kalap membeli buku-buku impor hingga bisa menghabiskan Rp 500,000 sekali beli via daring, semenjak menikah istri kerap ngomel dengan alasan membeli buku buku impor itu sebuah pemborosan dalam kehidupan rumah tangga, singkat cerita kebiasaan membeli buku impor gue hentikan dan gue menggantinya dengan membeli buku-buku terjemahan bahasa indonesia di Gramedia, sialnya istri tetap mengomel dan masih saja menilai bahwa membeli buku-buku terjemahan di gramedia tak ubahnya sebagai pemborosan juga, merasa gemas lantas gue mengganti kebiasaan gue dari yang tadinya membeli buku-buku terjemahan Indonesia ke buku-buku kumpulan cerpen, lihatlah! lagi-lagi istri tetap mengomel, sampai pada akhirnya gue mengganti kebiasaan gue dengan membeli buku-buku kumpulan puisi yang serba tipis dan dibaca lima menit langsung tamat. Entahlah, bila istri tetap mengomel, mungkin sudah saatnya gue membaca buku-buku kumpulan pantun.

Nasib Setelah Memiliki Putri Perempuan

Percaya atau tidak, saat ini gue menulis blog pada pukul enam pagi di kamar tidur, anak gue yang berusia satu tahun 6 bulan sedang tidur di samping gue. Gue gak bisa membayangkan bagaimana bila gue menulis blog ini saat anak gue tengah bangun dan sadar, demi Tuhan, gue pernah mencobanya, saat itu anak gue langsung berusaha duduk di atas laptop gue, gue merajuk kepadanya kalau laptop papa bukanlah kursi, dan meminta anak gue untuk berhenti duduk di atas laptop papanya, dia mengamuk, alih-alih menyingkir dari laptop, dia malah berdiri di atas laptop gue kemudian loncat-loncat sambil tertawa bahagia. ya nasib.

Singkat cerita menjadi seorang suami sekaligus bapak memang menyita waktu, tenaga, dan uang, gue gak habis pikir bagaimana dengan mereka yang memiliki empat istri dan dua belas anak.

 

 

Posted in: Esai