#hidupinisepertisepuluhtahunlalu

Posted on March 17, 2018

0


Sepuluh tahun lalu usia gue dua puluh dua tahun. Momen dimana gue baru lulus kuliah. 2008 merupakan tahun penuh harapan kala itu, harapan untuk bekerja di Jakarta, di daerah Sudirman, Thamrin, kuningan, atau seputarnya. Gue membayangkan bagaimana gue akan berpakaian necis seperti kebanyakan para pekerja kantoran yang kerap gue lihat dari balik jendela metromini. Pria terlihat gagah dengan kemeja body fit yang melekat, perempuan tampak rupawan dengan balutan blazer. Gue ingin seperti mereka, gue ingin mengenakan Kemeja lengan panjang ukuran body fit, sepatu pantofel hitam mengilat, dan dasi yang melekat sempurna.

Namun sial, Jakarta seperti pelangi yang menjanjikan bahwa ada seguci emas pada ujungnya bila kita tiba di sana, dan terpaksa menelan kekecewaan saat mengetahui bahwa pelangi ternyata tidak berujung.

Pada akhirnya kenyataan akan menamparmu dengan keras hingga mimpi-mimpi indah yang sudah kita peram di batok kepala sekian lamanya kini menguar entah kemana. Gue memang bekerja di Jakarta, mengenakan kemeja lengan panjang dan sepatu pantofel hitam yang mengilat, dan dasi yang melekat dengan sempurna, namun gaji gue ternyata hampir sama dengan penjaga kasir mini market, bedanya mereka tidak berpakaian necis seperti gue, namun menyoal isi dompet nasib kita berada dalam satu jurang kemiskinan yang sama.

Gue masih ingat kejadiannya, saat baru pulang kantor pukul sebelas malam dari bilangan warung buncit, gue mengendarai sepeda motor merek honda supra yang sudah sakit-sakitan, singkat kata ban belakang sepeda motor gue terasa oleng dan motor jadi agak susah narik, gue pun menepi di pinggiran kalimalang dan mendapati kalau ban belakang memang bocor dan sudah kempes sekempes-kempesnya, suasana kalimalang pada pukul sebelas malam seperti kota mati yang dipeluk mesra gelap. hanya satu dua buah kendaraan yang lewat, beruntung di tahun 2008 – 2009 belum marak begal saat itu.

Dengan perasaan nestapa gue pun membawa sepeda motor gue pelan-pelan di sepanjang kalimalang untuk menemukan tukang tambal ban terdekat. Tidak sampai satu kilometer surga itu tampak. Tukang tambal ban yang masih buka, dengan perasaan gembira bercampur haru, gue pun meminta si abang tukang tambal ban untuk memeriksa kondisi ban dalam belakang gue.

Si abang setelah melihat sepintas kondisi ban dalam dengan cepat menyimpulkan kalau ban dalam gue susah ditambal dan harus diganti dengan ban dalam baru. Permasalahan muncul disini, setelah si abang menyebutkan biaya ganti ban dalam baru, dengan gugup gue memeriksa isi dompet yang habis dikoyak tanggal tua dan benar saja jumlah uangnya ternyata tidak cukup untuk membeli ban dalam baru.

Gue pun meminta si abang agar ban dalam ditambal sebisanya saja karena uang gue tidak cukup untuk mengganti ban dalam baru. Tanpa disangka si abang tukang tambal ban ini meledak amarahnya, ia melempar ban dalam ke arah sepatu gue dan meminta gue untuk menambal sendiri kalau bisa. Dengan rasa jengkel yang sudah sampai ubun-ubun gue mencoba menjelaskan kalau kondisinya gue sedang tidak memiliki cukup uang bila mengganti dengan ban dalam baru, sialnya si abang tukang tambal ban ini tidak percaya setelah melihat pakaian gue yang necis seperti eksekutif muda bilangan Thamrin tanpa dia tahu kalau kondisi dompet gue sedang berada di jurang kemiskinan tanggal tua.

Gue mengambil inisiatif dengan menyodorkan STNK dan KTP asli gue kepadanya untuk disimpan dan memintanya untuk memasang ban dalam baru, gue meyakinkan dirinya kalau besok gue akan membayar sekalian mengambil STNK dan KTP gue, dia pun setuju dan mengganti ban dalam gue dengan cepat. Malam itu gue pulang dengan membawa rasa malu. Malu kepada kemeja lengan panjang, sepatu pantofel serta dasi yang kini menempel kedodoran.

 

Advertisements
Posted in: Esai