#hidupinisepertikorona

Posted on February 11, 2021

0


Ibu Mertua

Bisa dikatakan akhir tahun 2020 dan awal tahun 2021 merupakan tahun paling berengsek bagi gue pribadi. Gue harus bertungkus-lumus berhadapan dengan virus yang namanya sama dengan merek minuman keras asal Belgia ini.

Semuanya berawal pada tanggal 24 Desember 2020. Ibu mertua gue merasa lemas dan tidak bertenaga, ia berkata kepada gue untuk tidak perlu menghiraukan kondisinya, kemungkinan besar ia hanya kelelahan akibat mencuci baju secara manual dengan kedua tangan menggunakan Rinso Kekuatan Sepuluh Jari hingga pukul sepuluh malam. Masuk akal pikir gue, mengingat mesin cuci mertua saat itu sedang rusak. Namun gue dan istri merasakan kejanggalan saat kondisi lemas ibu mertua tidak kunjung hilang di kemudian hari.

Tanggal 28 Desember 2021 pukul sembilan pagi, Ibu mertua menghubungi istri gue untuk segera pulang dari kantor, istri gue ijin setengah hari kepada atasan dan segera pulang untuk menjaga kedua putri kami. Ibu Mertua lanjut untuk memeriksa keadaannya di Dokter umum yang cukup terkenal di bilangan Perumnas tiga, Bekasi Timur, hasil diagnosa menjelaskan kalau Ibu mertua bermasalah pada bagian lambung.

Merasa tidak puas dengan hasil diagnosa dokter umum tersebut, gue dan istri akhirnya memutuskan untuk membawa ibu mertua ke Dokter Spesialis Penyakit Dalam ke sebuah Rumah Sakit besar di daerah Bekasi Timur, hasil diagnosa sama, Ibu mertua bermasalah pada bagian lambung. Gue dan istri menjadi percaya diri kalau ini memang lambung yang bermasalah dan tidak ada kemungkinan Ibu Mertua terkena Korona, setidaknya hasil diagnosa dari dua dokter yang berbeda meyakini demikian.

Gue dan Istri berinisiatif untuk tetap melakukan tes Rapid Antigen sebelum pulang dari Rumah Sakit dengan Biaya Rp 250,000. karena hasilnya dua jam kemudian maka kami memutuskan untuk pulang ke rumah dulu. Sesampainya di rumah kita merasa lega karena penyakit yang membuat lemas ibu mertua sudah ketahuan, lambung yang bermasalah, tidak tersembul dalam benak kami mengenai korona.

Semua berubah saat gue kembali ke Rumah Sakit tersebut untuk mengambil hasil tes Antigen. Astaga-Dragon, hasil tes antigen menyakan bahwa Ibu mertua gue positif. Pikiran gue limbung, badan terhuyung-huyung bak Babi hutan yang tengah di sepak dari arah kanan dan kiri, pikiran melambung ke rumah membayangkan Ibu Mertua sedang bermain-main dengan kedua anak gue di kamar.

Dengan cepat gue menelepon istri via Video Call WA dan berteriak kalau hasil antigen Mama adalah positif. Mertua, Istri, Kakak Ipar, dan dua putri gue yang berada dalam satu kamar langsung pergi berhamburan keluar dari kamal dan auto social-distancing semua terhadap Ibu mertua. Mendadak Ibu mertua seperti dikucilkan kaya OHIDA.

Malamnya Istri mendaftarkan Ibu mertua gue ke Puskesmas di daerah Bekasi Timur untuk mengikuti tes SWAB-PCR. Kebetulan tetangga di lingkungan kami ada yang berprofesi sebagai nakes di Puskesmas tersebut, jadinya yang Istri lakukan adalah memfoto KTP dan KK mamanya lantas mengirimkan ke tetangga kami itu. PCR dijadwalkan esok hari mulai pukul sepuluh pagi dengan membawa syarat E-KTP, fotokopi KK, dan hasil antigen yang menyatakan positif.

Besoknya gue mengantar ibu mertua dengan sepeda motor N-MAX. Yak, gue berboncengan dengan pasien positif korona. Sebenarnya istri sudah menasehati agar saat digonceng jangan mengucapkan satu patah kata pun agar tidak menyebarkan virus ke gue. Tapi apa daya ternyata Ibu Mertua gue malah curhat panjang lebar di atas motor, gue gak nyaman, tapi gak mungkin juga gue mengatakan DIAM MULUTMU ITU! kepada Ibu Mertua di atas motor, terlebih gue suka menumpang makan siang di rumahnya, ya rasa-rasanya tidak etis saja.

Hasil SWAB-PCR dari Puskesmas membutuhkan waktu satu hari, dan dikirim via pesan WA oleh tenaga medisnya, begitu juga dengan obat-obatan dan multivitamin yang diantarkan oleh pihak puskesmas ke rumah ibu Mertua. Tepuk tangan untuk semua Puskesmas di Indonesia yang telah menjadi garda terdepan untuk melayani pasien positif korona.

dua minggu menjalani isolasi mandiri di Rumah, Ibu mertua akhirnya menjalani SWAB-PCR kedua kali di Rumah Sakit dengan hasil negatif.

🙂

Tagged:
Posted in: Uncategorized