#hidupiniseperti Superman.

Posted on January 29, 2012

6


Ada dua hal yang ingin gue lakukan saat masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 5. Pertama adalah menjadi Superman. kedua memegang tangan Sabrina. Superman adalah seorang tokoh superhero yang gak perlu gue jelasin dengan panjang lebar disini. Sementara Sabrina adalah cewek berambut poni yang duduk di barisan paling depan kedua dari kiri. Tempat yang strategis untuk bertanya dengan guru. Sementara gue duduk di barisan paling belakang pojok sebelah kanan. Tempat yang strategis untuk ngomong sama bayangan sendiri.

Gue mengagumi Superman karena ia mampu mengangkat tank baja tanpa susah payah, ia mampu terbang ke luar angkasa tanpa bantuan alat pernapasan, dan ia mampu berjalan dengan tenang dan keren seperti boyband walau sedang diberondong ratusan peluru oleh penjahat. Dan yang bikin gue kagum dengannya adalah ia dapat melakukan kesemuanya itu tanpa merusak bentuk poni huruf S yang ada di depan dahinya. Awesome!

Hari yang gak pernah terlupakan saat gue masih SD adalah hari dimana ketika Bokap membelikan gue satu set kostum Superman. Gue masih ingat bagaimana kostum itu terlihat kemilauan di kedua mata gue, kedua tangan gue dengan cepat menelusuri kostum itu secara perlahan,  mulai dari sayap berwarna merah marun dengan logo S kekuningan pada bagian belakang, lalu ke logo huruf S pada bagian dada depan, terakhir pada bagian celana dalam berwarna merah marun yang berada pada bagian luar.

Dengan cepat gue memakainya dan melihat pantulan diri gue di cermin kamar. Gue melihat sosok superman pada cermin. Superman yang lebih gemuk dan pendek dari biasanya.

Gue berusaha memamerkan kostum Superman ini kepada teman-teman di komplek perumahan. Cara gue memamerkan kepada teman-teman terbilang cukup unik, karena gue melakukannya menjelang sore hari, waktu yang tepat karena setiap sore teman-teman komplek sedang ramai bermain benteng atau main kelereng di depan jalan komplek rumah , dan setiap sore tukang siomay selalu melintas di jalan perkomplekan. Gue sengaja masih di dalam rumah mengintip mereka dari balik jendela. Gue menunggu saat yang tepat. Yap, gue menunggu tukang siomay melintas terlebih dahulu. Ketika sang tukang siomay melintas lewat jalanan komplek rumah, maka gue akan keluar dari rumah lengkap dengan kostum Superman dan berteriak dengan lantang “BANG, BELI BANG!!” lalu abang tukang siomay berhenti. Matanya melihat bocah gemuk sedang memakai kostum Superman dengan gagah. Gue berjalan dengan pelan dan cool, sayap kostum superman melambai tertiup angin, menambah efek dramatis,  mendadak teman-teman gue berhenti bermain benteng dan kelereng. Mata mereka menatap gue yang tengah membeli siomay dengan kostum Superman. Yap, Superman membeli Siomay. Entah dimana kerennya kalau dipikir-pikir…

Clark kent menjalani dua kepribadian sekaligus. Dalam kesehariannya Clark kent adalah seorang pemuda yang bekerja pada harian daily bugle, namun pada lain waktu ia berubah menjadi Superman yang mampu menghancurkan tank baja dalam sekejap. Begitu juga dengan gue, semenjak bokap membeli kostum Superman untuk gue maka jadilah gue ikut-ikutan menjalani dua kepribadian sekaligus setiap hari. Dari pagi hingga siang gue adalah seorang murid kelas 5 SD yang selalu mendapatkan nilai 3 untuk ulangan matematika, namun bila sore gue berubah menjadi sosok Superman yang mampu mendapatkan nilai 3 pada ulangan matematika.

Clark Kent memiliki Louis lane, Peter parker memiliki Marie jane Watson, hampir semua superhero (kecuali Batman dan gatot kaca) memiliki pasangan wanita yang cantik. Dan gue. Sebagai Superhero jadi-jadian merasa bahwa ini adalah saatnya gue mencari pasangan wanita yang cantik. Dan Sabrina adalah sosok wanita yang tepat untuk mengisi posisi itu. namun gue menyadari bahwa kemungkinan mendapatkan Sabrina akan susah. Sesusah mencoba memahami rumus matematika, sesusah mengerjakan soal-soal matematika,  sesusah menyontek saat ujian matematika, dan sesusah menyembunyikan hasil nilai ulangan matematika  dari nyokap.

Lantas gue berpikir bila memang menjadikan Sabrina sebagai pacar merupakan mimpi yang ketinggian Seenggaknya gue bisa memegang tangannya saja. Yap. Cukup simple bukan? Gue rasa gue bisa memegang tangan Sabrina dengan pura-pura meminjam penghapus. Buku catatan. Atau bilang kepadanya “Eh, Sabrina gue bisa meramal lewat tangan loh, mau coba?” lalu dia dengan polosnya menjulurkan tangannya ke gue, langsung deh gue pegang tangannya. Atau mungkin gue bisa mencoba memegang tangannya saat kita bersama menyeberangi jalan. Bila banyak cara jalan menuju ke Roma mengapa tidak banyak jalan untuk memegang tangan Sabrina? Pikir gue saat itu.

 

Ruang kantin sekolah (Jam istirahat)

Gue melihat bagaimana Anto dan teman-temannya iseng menaruh paku payung pada bangku yang akan diduduki Rudi. Sementara dari tempat duduk yang berbeda gue hanya bisa menatap Rudi sedang memesan batagor dari kejauhan. Gue tahu Rudi mungkin akan duduk dan sedetik kemudian dia akan teriak-teriak kesakitan ketika dua buah paku payung menusuk dengan sempurna ke pantatnya. Gue tahu seharusnya yang gue lakukan adalah melarang Anto dan kawan-kawannya untuk melakukan perbuatan itu, Tapi yang ada gue hanya diam saja, melihat senyum iseng mereka yang mengembang ketika Rudi tengah berjalan mendekati tempat duduknya. Gue bisa saja menghampiri Rudi untuk tidak duduk disitu, dan memberitahukan bahwa ada paku payung yang iseng ditaruh oleh bajingan-bajingan tengik ini. Mungkin itu akan menyelamatkan Rudi, tapi tidak dengan nyawa gue. Yang ada Anto dan kawan-kawannya bakal menghajar gue habis-habisan di tengah ruang kantin. Gue gak mau terlihat babak belur di ruang kantin ini. gue gak mau terlihat kalah oleh mereka. Terutama ada Sabrina yang juga sedang berada di kantin.

Gue mendengar raungan kesakitan dari suara Rudi. Dilanjutkan dengan ledak tawa Anto dan kawan-kawannya. Sebagian besar murid yang menontonnya ikut terpingkal-pingkal. tapi tidak dengan Sabrina. Ia hanya duduk diam dengan tatapan iba kepada Rudi. Mungkin ia merasakan hal yang sama seperti gue. Ia merasa jengkel, kesal, dan ingin menabok Anto dan kawan-kawannya satu persatu tapi tahu kalau dia terlalu lemah untuk menghadapi mereka.

Gue sadar dengan mengenakan kostum Superman tidak serta merta membuat gue menjadi lebih kuat dan berani seperti Clark Kent. Gue masih takut menghadapi Anto dan kawan-kawan yang memiliki hobi mengisengi murid lain.

Sorenya gue berhenti mengenakan kostum Superman. Gue tidak keluar rumah untuk bermain benteng atau kelereng dengan teman-teman komplek. Gue hanya diam duduk di tempat tidur. Menatap kostum Superman yang tergantung pada hunger baju. Percuma juga memakainya kalau toh faktanya gue tidak sekuat dan seberani Clark kent. Gue berbaring menatap langit-langit kamar.

Gue mengenakan kostum Superman di kantin. Gue melihat Anto dan kawan-kawan sedang menaruh dua buah paku payung pada tempat duduk Rudi. Gue melihat Rudi sedang membeli batagor di kejauhan. Gue tahu apa yang gue lakukan. Gue harus memberitahu Anto kalau apa yang dilakukannya itu salah. Gue pun beranjak menghampiri mereka. mereka menertawai kostum Superman yang gue kenakan. Tanpa banyak bicara gue langsung memukul wajah Anto hingga terjatuh. Gue melanjutkan aksi dengan memukul ketiga teman lainnya. Gue menghajar Anto dan kawan-kawannya hingga babak belur di kantin. Dari seberang gue bisa melihat Sabrina tersenyum dengan manis ke arah gue. Gue menghampirinya. Sabrina memeluk gue. Bibirnya mendekat maju ke arah bibir gue. Ah, sepertinya dia ingin mencium gue. Gue pun turut memonyongkan bibir. Namun Sabrina malah menjilat pipi gue berkali-kali. “Eh, apa-apaan ini?” gue terbangun.  Mendapati Bruno yang sedang menjilati pipi gue. Ternyata hanya mimpi.

Di kantin sekolah (Keesokan harinya)

Gue melihat Anto dan kawan-kawannya sedang berbisik satu sama lain. Gue tahu apa yang sedang mereka rencanakan. Yap, mereka ingin menaruh paku payung kembali di tempat duduk seseorang. Sepertinya kejadian Rudi kemarin telah membuat mereka ketagihan untuk melihat murid-murid yang lain berteriak kesakitan karena pantatnya tertusuk paku payung. Seperti biasa gue hanya duduk diam. Seandainya mimpi tadi malam sungguhan, mungkin gue bisa menghajar Anto dan kawan-kawan dengan kostum Superman, lalu ciuman dengan Sabrina. Sayang hidup memang kadang jauh dari kenyataan. Dan kadang kenyataan itu brengsek. Sebrengsek mereka.

Mata gue terbelalak ketika melihat Anto dan kawan-kawannya memilih bangku yang biasa diduduki oleh Sabrina. Gue melihat Anto menaruh kedua paku payung ke atas bangku Sabrina. Amarah gue mulai meletup. Mata gue mencoba mencari-cari keberadaan Sabrina, ingin gue menghampirinya dan menyarankan agar tidak duduk. Itu dia! Sabrina sedang memesan otak-otak. Dia sedang dalam perjalanan mendekati tempat duduknya. Entah kenapa rasa takut seakan lenyap seketika. Gue bisa merasakan kalau gue memiliki keberanian dan kekuatan seperti Clark Kent siang itu di kantin. Gue menghampiri Sabrina dengan napas agak tersengal-sengal.

Gue : “Jangan duduk di situ, si brengsek Anto menaruh paku payung di atasnya!” Kata gue di hadapan Sabrina.

Mendadak gue merasakan ada kekuatan besar yang mendorong gue dari belakang hingga menyebabkan gue terjatuh. Gue melihat Anto bersama ketiga temannya sedang berdiri mengelilingi gue. Salah satu dari antaranya melempar botol kecap plastik arah gue dan tepat mengenai jidat gue. Dan di saat itu gue mendengar Sabrina berteriak “Berhenti Kalian!! Atau mau gue laporin ke Bu Ida hah??!!” Bu Ida adalah wali kelas kami. Gue melihat Anto dan kawan-kawannya hanya tertawa. Mereka membalikkan badan, kembali ke tempat duduk, dan melanjutkan kembali acara makannya dengan tenang.

Gue melihat Sabrina menjulurkan tangan ke arah gue, gue memegangnya namun karena gue lebih gendut lantas ia hampir terjatuh. Gue memutuskan bangun sendiri. Sabrina bilang terimakasih ke gue. Berdua kita bergegas menjumpai Ibu Ida dan menceritakan segalanya. Setelah mendengarkan cerita kami. Dia turut memanggil Rudi untuk memastikan kebenaran cerita. Kami bertiga di ruang guru menceritakan semua perbuatan Anto dan kawan-kawan. Kakak kelas kami yang duduk di bangku 6 SD. Dilihat dari track recordnya memang Anto dan kawan-kawan gemar sekali mengisengi anak kelas  4 dan kelas 5 ketika jam istirahat tiba. Sudah banyak diluar kami yang menjadi korban keisengan mereka.

Jam pulang berdering, untuk kedua kalinya Sabrina mengucapkan terimakasih ke gue. Gue hanya bisa tersenyum. Tersenyum. Dan tersenyum. Bahkan gue sepanjang perjalanan pulang menuju ke rumah gue pun tersenyum. Nyokap gue sempat melihat bekas benjol di jidat akibat lemparan botol kecap plastic Anto lakukan ke gue. Tapi gue hanya bilang sambil tersenyum sumringah kalau jidat gue hanya kejedot sudut meja. Gue masuk kamar. Menatap tangan kanan gue. Yap. Akhirnya gue bisa memegang tangan Sabrina. Seperti yang gue pikirkan. Bila banyak jalan menuju ke Roma tentu banyak cara untuk bisa berpegangan tangan dengan Sabrina, walau cara itu mesti ditempuh dengan rasa sakit akibat didorong dan dilempar botol kecap plastik oleh Anto. Malam itu gue bermimpi mengenakan kostum Superman, berjalan bersama Sabrina sambil pegangan tangan.

Something that you need to know about this blog:

  1. I write this blog based on my true experiences
  2. The name of the characters on this blog is not real anymore (Except my own character), I change it due to avoid some feuds, lawsuits, or even dead threats to me, my cats, and my dogs.
  3. I dramatize and exaggerate some parts in order to make a good story with a good punchline so that you can laugh your ass off and say “Hey this blog is funny! I love it!”
  4. I write this blog mostly on Friday night and Saturday night. Why? because that’s what forever alone dude do.
Advertisements
Posted in: Esai