#hidupiniseperti30

Posted on August 15, 2015

0


Dalam beberapa bulan ke depan gue akan menjejak usia tiga puluh. Usia yang dibilang orang sebagai usia akhir dari masa remaja dan awal dari masa dewasa. Singkat kata usia dimana pertanyaan kapan kawin semakin terdengar nyaring disuarakan oleh orang-orang yang layak mendapatkan pukulan telak di hidung mereka.

Mendekati usia tiga puluh tahun ada banyak perubahan yang gue rasakan baik secara biologis maupun psikis. Diantaranya adalah :

1. Metabolisme tubuh yang melambat.

Perubahan yang paling gue sesali saat mendekati usia tiga puluh tahun adalah metabolisme tubuh yang melambat. Metabolisme tubuh gue saat ini tidak lagi seperti awal remaja di usia belasan tahun, dimana makan sebanyak-banyaknya tidak menjadi soal karena tubuh masih memiliki roda metabolisme yang tinggi untuk mengubah makanan menjadi energi dan menjaga berat badan gue tidak berlebih. Namun Di usia yang kini mendekati tiga puluh tahun segala sesuatu yang gue makan keesokan paginya bisa menjadi lipatan lemak. Oleh karena itu gue harus hati-hati dalam menjaga porsi makanan, terutama jenis makanan yang berbayar.

2. Yang tadinya mencari pacar kini mencari pasangan hidup.

Saat remaja gue menginginkan pacar yang putih, tinggi semampai, berkacamata dan rambut panjang sebahu. Secara karakter dia harus memiliki sense of humor yang bisa membawa percakapan menjadi tidak membosankan, tidak garing, tapi tidak perlu selucu Sule. Gue juga menginginkan pacar yang suka membaca buku, buku fiksi khususnya dengan genre young adult, thriller, comedy atau apapun selama bukan buku telepon. Satu yang tak kalah penting, sang pacar juga harus suka mendengarkan musik, khususnya musik punk. Dan segala yang tadi gue sebutkan merupakan atribut-atribut yang gue sematkan ke dalam sosok pacar idaman hingga gue menyadari kalau sesungguhnya tidak ada yang namanya sosok pacar idaman.

Gue rasa kebanyakan dari kita saat masih remaja juga mengalami hal yang sama saat mencari pacar. Kita menempelkan berbagai atribut harus begini dan harus begitu terhadap sosok pacar yang kita inginkan, namun ketika kita beranjak tiga puluh tahun dan mulai mencari pasangan hidup, maka kita akan menyadari kalau segala atribut itu sebenarnya tidak lagi menjadi terlalu penting. Tentu masih ada beberapa atribut atau kriteria yang kita pasang dalam mencari pasangan hidup, tapi atribut itu bukan lagi sebagai sesuatu yang bisa dinilai dari luar semata tapi dari dalam. Kedewasaan, rasa tanggung jawab, dan karakter merupakan atribut yang lebih penting dalam mencari pasangan hidup.

Jadi jangan heran bila kita memiliki teman perempuan yang saat remaja tergila-gila dengan penampilan cowok korea dan bersumpah saat dewasa kelak ingin menikah dengan lelaki yang memiliki wajah korea, namun seiring berjalannya waktu di usia tiga puluh tahun ternyata ia malah menikah dengan pria berwajah kera (bukan korea) hal ini mungkin karena si pria berwajah kera tersebut mampu memberikan atribut yang lebih baik dalam hal inner beauty untuk teman perempuan kita itu.

Atau seperti kisah Harley, teman gue yang awalnya memasang atribut cantik, kurus, tidak berkacamata sebagai syarat pacar idamannya kelak, namun setelah dewasa alih-alih menikahi perempuan yang kurus dan tidak berkacamata, Harley akhirnya menikahi perempuan gemuk berkacamata dengan betis sebesar stegosaurus. Dari luar mungkin Harley tampak sial, karena dirinya mendapati sosok perempuan seperti binatang reptil purba yang hidup puluhan juta tahun lalu. Namun gue yakin ada sesuatu atribut yang dimiliki oleh perempuan yang telah membuat Harley jatuh cinta. That’s called inner beauty.

3. Pay for yourself.

Masa remaja merupakan masa yang paling enak, karena kebutuhan kita masih dipenuhi oleh kedua orangtua, jadinya kita gak perlu cemas dengan perkara tinggal dimana, biaya hidup sebulan berapa, naik mobil siapa, singkat kata segala kebutuhan yang kita inginkan tinggal sebut ke orangtua maka voila! orangtua akan menyediakan kebutuhan kita. Yang orangtua inginkan dari kita saat masih remaja hanya pergi ke sekolah, belajar yang rajin, jauhi seks dan obat-obatan terlarang.

Namun saat mendekati usia tiga puluh tahun, kita harus mulai memikirkan bagaimana cara memenuhi kebutuhan hidup sendiri. Rumah, mobil, biaya pernikahan, asuransi, pendidikan, kesehatan dan sebagainya.

4. Kadang hidup memiliki jalannya sendiri.

Saat masih remaja gue memiliki cita-cita untuk menjadi musisi punk dan menikahi kinoy, namun seiring berjalannya waktu Kinoy menikah dengan pria lain, dan gue mulai meninggalkan impian untuk menjadi musisi Punk, karena bekerja pada sebuah korporasi asing dirasa lebih masuk akal ketimbang menjadi musisi dalam hal mencari nafkah. Pada titik ini gue mulai menyadari bila kadang hidup memiliki jalannya sendiri. Rencana Tuhan kalau kata mereka yang relijius.

5. Dulunya dekat kini terasa asing.

Waktu remaja gue memiliki sekumpulan teman yang memiliki kesamaan hobi, misal dalam musik yang kita dengar, buku yang kita baca, dan tipikal cewek yang kita suka, segala persamaan-persamaan tersebut membuat ikatan pertemanan kita menjadi lebih rekat dan kuat, saat itu gue berpikir kalau keakraban kita kemungkinan besar akan berlangsung lama hingga tua. Namun gue salah, di usia yang kini mendekati tiga puluh tahun gue menyadari kalau masing-masing dari kita bahkan sudah tidak pernah saling mengontak, saling mengobrol, atau sekadar mengajak hang-out bareng. Masing-masing dari kita hanya berteman melalui facebook, dan satu-satunya interaksi yang kita lakukan hanya bertukar likes kepada setiap postingan yang kita sharing.

Suatu hari di supermarket ketika ingin belanja bulanan, gue berpapasan dengan James, seorang teman lama yang dulunya cukup dekat dengan gue, bahkan dulu sepulang dari sekolah di akhir pekan gue cukup sering menginap di rumahnya, di situ kita akan mengobrol tentang musik, buku, dan cewek-cewek cakep yang sepertinya tidak akan pernah bisa kita nikahi.

Singkat kata ketika berpapasan dengan James di supermarket, kita pun bertegur sapa, berbasa-basi dan saling bertanya mengenai kesibukan masing-masing, James memperkenalkan istrinya, sementara gue memperkenalkan pacar gue kepada mereka, setelah beberapa menit kemudian gue dan james berpamitan untuk berpisah. Sekembalinya ke rumah, gue merasakan kalau James yang gue temui barusan di supermarket bukan James sahabat gue dulu yang sering gue inapi rumahnya, dimana hingga tengah malam kita biasa berdiskusi soal musik, buku, dan cewek. James yang gue temui di supermarket terasa seperti orang asing yang baru gue kenal saat itu juga.

Seperti sebuah artikel yang ditulis oleh Alex williams pada New York times yang melansir bahwa seseorang di usia 30 tahun ke atas akan semakin memiliki sedikit teman ketimbang saat usia mereka ada di belasan tahun. Hal ini karena di usia 30 orang akan semakin fokus kepada membangun keluarga, membangun karir, menghabiskan waktu bersama anak dan istri ketimbang menerima ajakan untuk hang-out atau party. Seseorang di usia 30 akan semakin sulit membangun jaringan pertemanan yang akrab seperti teman baik atau sahabat yang biasa kita jumpai di sekolah atau kampus, saat lo berada di usia 30 dan mencoba mencari teman maka level pertemanan yang akan lo temui menurut williams tidak akan mencapai teman baik atau sahabat, berita baiknya adalah ketika lo beranjak di usia 30 lo akan semakin akrab dengan teman lama yang pernah lo jumpai di sekolah atau kuliah.

Something that you need to know about this blog:

  1. I write this blog based on my true experiences
  2. The name of the characters on this blog is not real anymore (Except my own character), I change it due to avoid some feuds, lawsuits, or even dead threats to me, my cats, and my dogs.
  3. I dramatize and exaggerate some parts in order to make a good story with a good punchline so that you can laugh your ass off and say “Hey this blog is funny! I love it!”
  4. I write this blog mostly on Friday night and Saturday night. Why? because that’s what forever alone dude do.
Tagged: , , ,
Posted in: Esai